Tuesday, May 15, 2007

Dongeng Seru Kisah Para Nabi/Rasul

Ayo mendengarkan aksi dongeng Papinto Badut...dengan akting, pantomim dan musik rebana...!
Mendongeng pada anak memerlukan sedikit pemahaman psikologi anak, memahami dunia anak dan apa yang yang menarik minatnya sehingga mereka mau duduk tenang mendengar dongengan kita. Ada kalanya anak mampu bertahan berjam jam duduk terpaku menikmati alur cerita dan aksi tokoh dongengan, ada kalanya anak hanya mampu konsentrasi dan bertahan menyimak dongengan hanya 10 menit saja, lantas menguap bosan dan "menggaggu" aksi kita dengan melakukan aktifitas lain, misalnya bicara dengan temannya atau memainkan barang2 sekitarnya, yang paling ekstrem ia akan meninggalkan forum bila memang dongengan kita tidak menarik baginya. Sudah satu bulan ini acara dongeng sosial mingguan-ku di serambi Masjid Al-Amal Kedurus Surabaya, pertama kali anak2 mampu mendengar dongengan selama hampir 1 jam yang kuagendakan setiap jum'at sore itu , selanjutnya pada minggu ke-4 mereka sudah mulai kendur perhatiannya dan terpecah. Apa sebab? setelah aku telaah, ternyata audiensku usianya berfariasai dari 4 tahun sampai 12 tahun, anak2 usia 5 tahunan sudah tak mampu atau bosan dengan cerita monoton para nabi yang selalu berkisah tentang orang jahat, munafik dan berdosa serta upaya mengembalikan para umat ke jalan yang benar, sedangakan anak usia 10-12 tahunan bisa menikmati dongengan kisah para rasul tersebut dan merasa tidak bosan.
Lantas apa yang terjadi? anak usia 5 tahunan mulai menguap bosan dan "mengganggu" dengan mengajak bicara sendiri pada kakak2nya. Setelah observasi, akhirnya aku putuskan menggunakan alat peraga yaitu boneka pada minggu ke-5 untuk menarik minat anak2 usia 5 tahunan. Kumulai membuka dongengan dengan menghadirkan tokoh Cici Kelinci dan Omsi Singa dua sahabat yang berkomentar pada keadaan sekeliling sebelum acara dongengan dimulai, sedangkan dongengan kuganti dengan Kisah Raja/Nabi Sulaiman bersama para binatang, hasilnya anak2 pun mulai kembali duduk manis mendengarkan kisah2 Nabi Sulaiman yang sudah aku modifikasi sedemikian rupa sehingga cocok dikonsumsi untuk audiens 4-12 tahun...Aku lega ternyata anak2 memerlukan "penyegaran" dalam menikmati sebuah dongengan...Ayo mendongeng Mas!

Manfaat Dongeng Bagi Anak-Anak

Tidak ada anak yang tidak senang mendengarkan dongeng. Entah itu dongeng yang dibacakan dari buku atau dongeng yang telah sangat melekat di benak orangtua sehingga dapat disampaikan secara lisan dengan improvisasi di sana sini. Buktinya tokoh dalam dongeng akan selalu diingat oleh anak bahkan hingga mereka beranjak dewasa, baik yang baik maupun yang jahat.

Ternyata dongeng memiliki banyak manfaat bagi anak. Sebut saja mengembangkan daya pikir dan imajinasi, kemampuan berbicara, serta daya sosialisasi karena melalui dongeng anak dapat belajar mengaui kelebihan orang lain sehingga mereka jadi lebih sportif.

Yang tak kalah penting, mendongeng merupakansalah satu bentuk komunikasi antara orangtua dan anaknya. Interaksi langsung itu akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Bila orangtua ingin mendidik anak, aktifitas mendongeng adalah cara yang paling ampuh dan efektif karena di dalamnya terkandung sentuhan manusiawi. Hal ini karena

sebagai bagian dari seni, dongeng dapat merangsang epekaan anak. Sayangnya kesibukan orangtuadi zaman modern ini membuat anak tenggelam dalam berbagai permainan elektronik, tontonan televisi, atau bacaan komik sehingga mereka jadi jarang berinterkasi.

Oleh karena itu orangtua perlu membiasakan bdiri mendongengkan cerita kepada anak demi mengurangi pengaruh buruk berbagai sarana hiburan modern tersebut.

Walaupun mendongeng tampaknya sepele, namun efeknya sangat besar terhadap tingkah laku dan moral anak. Oleh karena itu mulailah luangkan waktu di sela-sela kesibukan, misalnya saat akhir pekan atau menjelang jam tidur anak untuk berkumpul bersama keluarga dan menjadikannya sebagai sesi mendongeng sekaligus sarana berkomunikasi. (CHK/KOMPAS)

Dongeng Membangun Moralitas dan Kreativitas
(Ulasan buku The Values Book For Children/17 Cerita Moral & Aktifitas Anak

oleh Shirley raines & Rebecca Isabell, penerbit: Elexmedia,2002)

UNTUK menciptakan karakter-karakter yang indah sebagai awal dari terciptanya kedamaian di dunia, salah satu tempat terpenting adalah keluarga. Sentuhan yang baik bagi seorang anak sejak usia dini, bahkan sejak dalam kandungan, akan menumbuhkan pribadi-pribadi yang indah. Dan salah satu bentuk dari sentuhan yang baik tersebut adalah memberi dongeng yang terpilih kepada mereka.

Dongeng? Ya! Menurut Nina A Kartini, psikolog anak di Jakarta, dongeng mempunyai banyak manfaat. Selain dapat menciptakan hubungan yang akrab antara anak dengan orangtua, dongeng juga memberi kontribusi bagi perkembangan anak, menstimulir kemampuan berbahasa si anak, dan meningkatkan kemampuan intelektual anak (Pikiran Rakyat, 9 September 2001).

Selain itu, masih menurut Nina, dongeng juga bermanfaat untuk mentransfer nilai-nilai dan etika secara halus kepada anak. Melalui dongeng yang didengarnya, akan tertanam sikap mental yang bersemangat dan tanggung jawab pada diri si anak. Pesan moral dan ajaran budi pekerti dalam dongeng akan memberikan keteladanan dan panutan bagi anak untuk membimbing perilaku ke arah yang lebih baik.

Namun, hati-hati, tak semua dongeng yang terdapat dalam buku-buku yang beredar di Indonesia menawarkan kisah dan pesan kebajikan. Setidaknya, begitu pengamatan Murti Bunanta, seorang ahli sastra anak dari Universitas Indonesia. Menurut Murti, banyak dongeng atau cerita rakyat yang dituliskan kembali tidak menghormati cerita rakyat itu sendiri, penulisannya tidak dengan pantas sehingga nilai-nilai yang ada dalam dongeng itu menjadi hilang atau berkurang. Cerita rakyat sendiri juga banyak yang dibebani dengan misi yang berlebihan, dan bahkan dikaitkan dengan ideologi. (indonesian@rt.com, 1 Agustus 2001).

Dalam konteks inilah buku The Values Book for Children - 17 Cerita Moral & Aktivitas Anak mempunyai kelebihan. Buku ini tidak saja menyajikan dongeng-dongeng pilihan dengan pesan moral yang universal, tetapi juga melengkapinya dengan panduan cara menuturkannya agar selain menarik untuk didengarkan, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya mudah dicerna si anak pendengarnya.

Sebagaimana yang dipaparkan dalam Bab Pendahuluan, ke-17 dongeng yang disuguhkan dalam buku ini memiliki jalan cerita yang mudah diikuti. Cerita-cerita itu juga mengandung kata dan ucapan yang berulang sebagai cara untuk menyampaikan pesan.

Misalnya, dalam cerita Kura-kura dan Kelinci yang mengisahkan tentang seekor kelinci yang selalu menyombongkan keahliannya dalam berlari, menantang kura-kura untuk lomba lari, di mana perlombaan ini akhirnya dimenangkan oleh kura-kura.

Sepanjang cerita, kalimat "Si kura-kura terus melangkah, selangkah demi selangkah, dengan lambannya, dan matanya terus menatap jalan di depannya", diulang beberapa kali. Jika dituturkan dengan baik, kalimat itu memang menjadi kontras dengan kalimat "Si Kelinci lari dengan cepat. Di sepanjang jalan, setiap melihat kerumunan penonton, ia membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya".

Dan memang, di situlah moral ceritanya. Pada akhir cerita dituliskan bahwa setelah memenangi perlombaan, si kura-kura berkata kepada si kelinci yang kebingungan karena dikalahkan oleh seekor binatang yang berjalan sangat lamban. Katanya, "Saya menyusul kamu ketika kamu sedang tertidur. Saya mungkin saja lamban, tetapi mata saya selalu menatap tujuan. Dengan pelan dan mantap, saya memenangkan perlombaan lari ini."

Lalu, di bagian bawah halaman, tepat di akhir cerita, dengan tata visual yang mencolok tertulis pesan: "tatapkan mata kamu pada tujuan dan terus bergerak maju" (hlm 28). Dan, hal semacam itu diterapkan pada semua cerita.

Rupanya, dalam pemilihan cerita, Shirley C Raines dan Rebecca Asbell, penyusun buku ini, meyakini sebuah formula dalam memilih dan menuliskan dongeng yang baik. Yakni, bahwa dalam memilih cerita yang baik, selain jalan ceritanya mudah diikuti serta mengandung ucapan yang berulang seperti yang dipaparkan di atas, hendaknya kisahnya dapat ditebak dan kumulatif, lalu berisi sekumpulan kegiatan, mengandung kejadian yang menarik minat, lucu, memiliki akhir yang baik dengan kesimpulan yang sesuai, serta berisi pesan moral yang jelas (hlm 8).

Dengan formula yang bagus itu, buku ini mempermudah para orangtua dalam memilih dongeng untuk diceritakan kembali kepada putra-putrinya. Apalagi buku ini juga disertai dengan "tip umum" bercerita yang baik. Misalnya, selama bercerita hendaklah selalu memperhatikan anak pendengar cerita dan membuat klarifikasi jika dibutuhkan, selalu memberi dorongan kepada si anak untuk berinteraksi dan berpartisipasi, memodifikasi jalan dan panjang cerita untuk menyesuaikan pengalaman dan tingkat perkembangan si anak, menggunakan variasi suara, ekspresi wajah, serta gerakan dan kata-kata berulang untuk melibatkan anak-anak masuk ke dalam cerita. Tip lainnya, hendaklah menggunakan kata-kata dan deskripsi yang tepat untuk membantu si anak membayangkan kejadian di dalam cerita, dan ulanglah cerita yang sama berkali-kali, karena dengan begitu anak-anak akan membangun pemahaman mereka terhadap cerita tersebut.

Pada akhir setiap cerita, selain pesan yang disajikan dengan visualisasi yang mencolok, penulis menyertakan "Tip Bercerita", "Pertanyaan", serta saran "Aktivitas dalam Bercerita". Saran-saran dalam "Tip Bercerita" didapatkan dari pengalaman penulis selama bercerita kepada anak-anak. Tip-tip tersebut untuk membantu pembaca cerita mengenali aspek cerita yang spesifik, yang dapat mengembangkan dan menyesuaikan kebutuhan para pendengar anak-anak. Sementara beberapa pertanyaan yang disuguhkan di akhir cerita dimaksudkan untuk merangsang daya imajinasi anak setelah mendengarkan cerita. Namun demikian, penulis tidak menyarankan untuk selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut setiap kali usai bercerita. Menurut dia, kapan pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan, sepenuhnya diserahkan pada sang pencerita yang merasakan langsung perasaan pendengarnya. Kalau tak dipandang perlu, pertanyaan-pertanyaan tersebut boleh tak diajukan sama sekali.

Sedangkan "Aktivitas dalam Cerita" menyajikan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan cerita atau ide pokok cerita, yang diharapkan mampu mendorong kreativitas anak. Sebagai contoh, untuk melengkapi cerita "Monyet dan Kelinci" yang pesan moralnya adalah menghargai setiap perbedaan, disarankan untuk bersama-sama membuat gambar wajah monyet dan kelinci. Lalu, setelah digunting, gambar tersebut diberi tangkai dan digunakan sebagai alat peraga-semacam wayang-saat mengulangi cerita.

Atau pada saat bercerita tentang perbedaan tikus kota dan tikus desa, disarankan untuk mengajak anak bercermin lalu bersama-sama membuat ekspresi dan gerakan pantomim yang yang berhubungan dengan kejadian-kejadian dalam cerita.

Menurut penulis, aktivitas-aktivitas tersebut terutama diperlukan oleh pendengar yang belum dapat membaca. Bagi yang sudah, aktivitas-aktivitas tersebut membantu mereka untuk mengingat ide utama dari cerita yang disampaikan.

Di halaman-halaman akhir buku ini disediakan "kartu cerita", yang dimaksudkan sebagai alat bantu pembaca untuk mengingat peranan pemain utama, urutan jalan cerita, kata-kata, dan bahkan garis besar cerita. Kartu-kartu tersebut, demikian penulis, sangat praktis digunakan ketika bercerita sehingga pembaca cerita dapat lebih mantap dengan cerita baru, membuat kumpulan cerita yang akan diceritakan, atau untuk mengulang cerita di lain waktu, sehingga akan membantu pembaca cerita, baik yang masih pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Dari sisi tata letak (visual), buku yang mencakup empat tema besar (Menjadi Diri Sendiri, Gunakan Akal Kamu, Menghargai Perbedaan, Mendengarkan Musik di Mana-mana) ini cukup baik. Penempatan ilustrasi, panduan gerak ketika bercerita, pesan-pesan, dan alenia-alenia penting dalam cerita sedemikian rupa, memudahkan pembaca saat bercerita, dalam keadaan lelah sekalipun.

Rasanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini adalah salah satu buku penting bagi setiap orangtua yang berikhtiar menjadikan putra-putrinya berkarakter indah sehingga kelak akan turut memberi sumbangan bagi terciptanya kedamaian di Bumi ini.

Agung Bawantara Pecinta dunia anak, pendiri Lingkungan Belajar dan Bekerja Mediakita (LBBM)

Ayo Mendongeng !

Kendati tahu mendongeng banyak manfaatnya, banyak orang tua tidak pede melakukannya. Rani tahu benar manfaat dongeng bagi anak. Ia ingin melakukannya untuk Intan (3 tahun).''Tapi, aku nggak bisa. Imajinasi dan kemampuan mendongengku cekak,'' katanya. Sebagai gantinya, Rani membelikan sejumlah VCD tentang dongeng anak nusantara untuk buah hatinya. ''Biarlah video yang menggantikan,'' tambahnya. Namun, pendongeng dan

penulis dongeng anak-anak dari Yogyakarta, RUA Zainal Fanani tak sependapat. Menurut dia, orang ! tua tak usah merasa takut dengan hal-hal teknis.

''Para orang tua mendongenglah,'' saran dia. ''Kadang ada orang tua yang enggan mendongeng karena merasa tidak bisa mendongeng bagus, tidak bisa menirukan suara ini-itu, dan sebagainya,'' tuturnya. Menurut dia, mendongeng di rumah itu berbeda dengan mendongeng di kelas. Mendongeng di kelas, kata Zainal, sisi hiburannya harus tinggi, karena harus mengendalikan banyak anak. Apalagi mendongeng di depan ribuan anak-anak.

Lain halnya mendongeng di rumah. ''Anak-anak itu dengan teknik mendongeng terjelek pun mau mendengarkan,'' katanya, ''Asal orang tua terutama ibunya mau mendongeng.''

Waspadai pengaruh

Bagi anak-anak, mendongeng di rumah itu tidak sekadar dongeng. Tetapi posisinya lebih merupakan kedekatan batin antara orang tua dengan anak! ''Itu jauh lebih memenuhi dahaga anak-anak akan kehangatan dengan ayah ibunya,'' ungkap Zainal.

Meskipun begitu, pendongeng ini berpendapat, karena kita meyakini makna edukatif dongeng itu sangat kuat, maka kita harus menyadari bahwa pengaruhnya kepada anak-anak akan banyak. ''Kalau yang kita dongengkan itu sesuatu yang tidak baik, tidak pas, mungkin pengaruhnya juga buruk. Sebaliknya, kalau kita mempersiapkan dongeng dengan baik, pengaruhnya juga akan baik.''

Dongeng yang pengaruhnya buruk, misalnya orang tua yang terlalu banyak

memberikan dongeng-dongeng yang berbau mistis atau yang bersifat 'mentalitas menerabas' seperti istilah antropolog Koentjaraningrat. Misalnya, kata dia, hanya dengan membaca semacam ayat-ayat tertentu, rapalan-rapalan tertentu, semua keinginan kontan bisa tercapai. Dari segi pandang pembentukan mental, dongeng yang instan seperti itu jelaslah buruk. Akibatnya, anak-anak ! mempunyai pandangan yang keliru tentang etos kerja, etos berusaha, sehingga ikhtiarnya kurang.

Karena itu, Zainal Fanani menyarankan agar para orang tua dalam mendongeng membuat proporsi yang lebih menonjolkan cerita-cerita pada usaha keras. Di Cina, misalnya, orang dilatih kungfu dalam waktu panjang, sampai luka-luka dan baru dia menguasai ilmu kungfu. Demikian juga pada cerita Oshin dari Jepang yang sukses di masa tuanya, semasa kecil bekerja keras, menghadapi banyak tantangan. Para Nabi pun begitu berusaha keras dalam hidupnya. Mengutip sosiolog David McLelland, Zainal menyebutkan cerita yang baik itu setidaknya menanamkan tiga prinsip kehidupan. Yakni, kemauan untuk berprestasi, kemauan untuk bertahan hidup, dan kemauan untuk berkreasi.

Kasih sayang Allah

Dalam mendongeng, Zainal mengingatkan! agar memasukkan unsur-unsur kasih sayang Allah. ''Kita harus katakan kepada anak-anak bahwa semuanya Allah berperan di sini. Cuma kita tetap kerja keras, sebelum kita berhasil, Allah ingin melihat usaha kita,'' kata Zainal yang juga pelatih Ardika (Armada Da'i Khusus untuk Kalangan Anak-anak), Yayasan Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturrahim Pecinta Anak-anak Yogyakarta. Zainal melihat kisah-kisah seperti karya HC Anderson menimbulkan Sindrom Cinderella. Yakni, bermimpi suatu saat akan ada pangeran yang lewat. ''Itu kurang tepat. Apalagi menawarkan mimpi-mimpi yang berkonotasi ke arah perjodohan,'' tuturnya.

Lewat dongeng, lanjut Zainal, anak-anak berlatih berimajinasi. Imajinasi itu bisa banyak hal misalnya imajinasi ke masa lalu, ke dunia lain seperti binatang atau imajinasi yang sifatnya futuristik. Misalnya, anak-anak diajak bercerita tahun 3000 dengan membayangkan teknologi yang memungkinkan kita bisa bertamasya ke dasar lautan.

Yang tak boleh dilupakan adalah mendongengkan tentang cerita yang memperkenalkan nilai baik dan buruk. ''Pada usia TK harus digambarkan hitam-putih, maksudnya kalau baik ya baik dan kalau jelek ya jelek, jangan digambarkan abu-abu,'' kata Zainal, ''Jadi, anak-anak bisa melakukan identifikasi tokoh dan identifikasi perbuatan.'' Misalnya, anak ingin seperti Nabi Muhammad SAW dan tidak ingin melakukan hal-hal yang merugikan.

Teknik Praktis Mendongeng

Bila Anda sudah berniat mulai mendongeng untuk si kecil, jangan takut. RUA Zainal Fanani memberikan beberapa tips teknis yang bakal mempermudah penyampaian pesan Anda.

1) Bisa membacakan cerita atau menceritakan kembali isi cerita.

Caranya bisa orang tua berhadapan dengan anak atau orang tua di samping anak membaca bersama-sama.

2) Cerita bisa dibuat sendiri.

Ada yang dibuat sampai jadi lalu diceritakan, bisa juga mengarang sambil mendongeng sehingga anak boleh mengusulkan saat pendongeng bercerita.

Pendongeng yang membuat cerita sendiri ini membutuhkan kemampuan dan

pengalaman supaya dongengnya tidak macet di tengah jalan. Harus ada konsistensi, tokoh-tokohnya jangan sampai lupa.

3) Perhatikan durasi dan waktu.

Cerita sebelum tidur itu cukup baik. Hanya lebih baik lagi kalau disampaikan pada waktu yang tepat misalnya setelah belajar. Cerita menjelang tidur sebaiknya pendek saja, 15-2! 0 menit sudah cukup, terutama bila anak sudah mengantuk. Yang penting ada kesepakatan tentang frekuensi dalam seminggu. Anda kadang memberikan cerita sebagai hadiah itu baik, karena menjadi 'kejutan' bagi anak.

4) Hindari cerita mengandung konflik bertingkat.

Maksudnya, cerita di mana pemerannya kalah dulu, kemudian akhirnya menang. Sebab, jangan-jangan ketika pemerannya kalah, anak sudah tertidur. Alhasil, yang masuk dalam benaknya, ''O, orang baik itu harus mengalah.'' Bagaimana pun cerita yang menarik itu ada unsur konfliknya, tetapi harus disesuaikan kemampuan si anak menangkap cerita. Anak TK membutuhkan cerita yang sederhana.
5) Setelah mendongeng, didiskusikan ceritanya dengan anak.

Ini usaha untuk menginternalisasikan nilai cerita pada anak. Misalnya, ''Kamu atau temanmu pernah tidak mengalami seperti cerita itu?''
Selamat mendongeng !
Sumber: republika.co.id

Story Telling, Tugas Penting untuk ayah

Hampir semua anak suka mendengar dongeng. Dongeng sendiri memiliki kekuatan besar mendorong munculnya imajinasi dalam benak anak. Coba saja ingat-ingat, bagaimana reaksi si kecil ketika mendengarkan cerita atau dongeng yang dibawakan oleh guru atau Anda orangtuanya. Mungkin bayangan ketertarikan si kecil akan isi cerita, tokoh, gambar dalam buku dapat Anda tangkap dengan jelas dari wajahnya.

Lewat dongeng berbagai nilai juga dapat ditanamkan pada anak. Namun sayangnya, entah karena sibuk atau merasa tidak bisa mendongeng, banyak orangtua yang akhirnya tidak terlalu memprioritaskan kegiatan mendongeng ini sebagai bagian penting dari pola pengasuhannya. Alhasil, mendongeng pun kalah populer dibandingkan televisi yang informasinya belum tentu sesuai untuk anak-anak yang dalam kenyataannya telah menjadi menu wajib dari keseharian anak.

Story telling atau mendongeng bukan hanya menyenangkan untuk si kecil yang mendengarkannya tetapi juga menyimpan banyak manfaat, baik untuk orangtua maupun anak. Pakar psikologi pendidikan, Dr Tjut Rifameutia Psi, menyebutkan manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan mendongeng yaitu:

1) Dongeng sebagai sarana atau alternatif hiburan yang positif bagi anak daripada anak berkutat seharian di depan televisi dan games stationnya.

2) Pilih dongeng yang mengandung pesan moral sehingga saat mendongeng bisa dipakai orangtua untuk menyampaikan nilai sosial dan keluarga.

3) Alur cerita, detil, tokoh yang dikisahkan dapat membantunya mengasah kemampuan nalar.

4) Dongeng dapat menjadi sarana mengungkapkan pikiran dan emosi anak.

5) Cerita dalam dongeng dapat mendorong anak untuk mengembangkan daya imajinasinya.

6) Kata-kata yang digunakan dalam dongeng sangat baik untuk menambah perbendaharaan kata anak.

7) Membantu memperluas wawasan anak. Misalnya, anak yang tidak pernah pergi ke Bali atau kampung halamannya bisa mengetahui dan membayangkan keadaannya melalui dongeng dan deskripsi yang diberikan melalui kegiatan mendongeng.

8) Bagi orangtua sendiri mendongeng dapat menjadi media untuk lebih mendekatkan diri pada anak.

Mengasuh anak bukanlah semata-mata tugas ibu, tapi juga ayah. Karena itu Anda pun harus mulai membagi tugas pengasuhan kepada pasangan Anda. Apalagi para ayah biasanya sibuk dengan berbagai tuntutan pekerjaan di luar rumah. Dengan menyerahkan tugas story telling pada ayah juga membuatnya mempunyai kesempatan untuk tetap dekat dekat dengan si kecil dan pada saat yang sama berkesempatan menanamkan berbagai hal positif tanpa menggurui. Cukup dengan menyediakan waktu setidaknya 15 menit saja dalam sehari, anak-anak pun bisa melewatkan waktu yang berharga dan bermanfaat dengan ayahnya.

Tips untuk ayah:

9) Tak punya ide cerita untuk anak? Kunjungi toko buku dan carilah buku-buku dengan cerita klasik dengan gambar menarik. Bacakan untuk anak-anak.

10) Jangan terpaku pada buku. Pengalaman dan cerita masa lalu dari orangtua bisa menjadi bahan yang menarik untuk anak-anak. Tradisi yang kerap dilakukan dalam keluarga, cerita mengenai hewan peliharaan, teman masa kecil, liburan, ulang tahun serta berbagai kejadian menarik yang pernah Anda lalui bisa menjadi pilihan yang dapat membuat anak lebih mengenal ayahnya.

11) Jangan monoton, gunakanlah suara-suara, gerakan tubuh, ekspresi untuk membuat saat mendongeng menjadi momen yang menyenangkan dan menarik untuk si kecil.

12) Jika anak-anak sudah cukup besar saat mendongeng bisa juga digunakan dengan menceritakan berbagai pelajaran yang dapat diambil dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Ceritakan dengan jujur, konsekuensi negatif yang harus ditanggung, kepedihan dan hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tersebut.

13) Jangan malas untuk berlatih dan membaca referensi mengenai bagaimana mendongeng yang baik supaya anak-anak tidak bosan mendengarnya.

14) Tidak harus di sampingnya, bercerita lewat telepon pun bisa dilakukan. Ceritakan saja pada si kecil pengalaman hari itu. Jangan lupa sisipkan detil yang menarik untuk si kecil tetap mendengarkan.
Sumber: sahabatnestle.com

Dongeng Memberi Banyak Manfaat bagi Anak
Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

Kenadati demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena orang tua di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan orangtuanya, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh orang tua. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu orang tua dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Kesibukan memang dapat menjadi alasan yang utama bagi orang tua untuk tidak mendongeng, ditambah dengan anggapan yang salah bahwa bercerita kepada anak dapat diwakili oleh alat-alat teknologi. Namun mengingat betapa banyaknya manfaat yang dapat diperoleh anak lewat kegiatan mendongeng, hendaknya orang tua dapat meluangkan waktunya untuk mulai mendongeng. Tak banyak waktu yang dibutuhkan. Rata-rata hanya 15-20 menit untuk satu cerita, sedangkan untuk anak-anak yang lebih kecil atau usia prasekolah bahkan kurang dari itu. Sebab, terlalu lama pun anak akan cenderung bosan.
Putu R.Ujianti, sarjana psikologi
Sumber : balipost.com

Mendongeng Itu Menyenangkan
Anak-anak biasanya sangat senang mendengarkan cerita. Terutama cerita yang dibacakan oleh orang tua. Bercerita atau mendongeng atau dalam bahasa Inggris disebut storytelling, memiliki banyak manfaat. Misalnya saja, mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara anak, mengembangkan daya sosialisasi anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan orang tuanya.

Psikolog Ninok Widiantoro, menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Karena interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan mendongeng sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara paling ampuh dan efektif untuk memberikan "human touch" atau sentuhan manusiawi dan sportifitas bagi anak.

Ninok menyayangkan kesibukan orangtua saat ini membuat anak-anak tenggelam dengan berbagai permainan, tontonan dan bacaan media lain. seperti televisi dan komputer serta buku-buku komik yang membuat mereka jarang berinteraksi dengan orangtua. Belajar tentang sportifitas dengan mengakui kelebihan orang lain.

Ninok menambahkan, sebagai bagian dari seni, dongeng bisa menciptakan sisi kepekaan terhadap sang anak. Tokoh dan karakter yang diceritakan dalam dongeng akan selalu diingat oleh sang anak, baik tokoh baik maupun tokoh jahat. Cerita dongeng juga dapat berpengaruh bagi kesembuhan anak yang sedang sakit, terutama dampak psikologisnya.

Acara mendongeng untuk anak-anak saat ini mulai menjadi tren di Jakarta. Ditempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan, acara ini kerap digelar dan menyedot perhatian anak-anak.

Mulai maraknya kegiatan mendongeng dipusat perbelanjaan agaknya menunjukkan fenomena sendiri. Acara seperti ini semakin menarik minat pengunjung. Seorang pendongeng yang setiap pagi membacakan dongeng disebuah stasiun radio swasta di Jakarta misalnya, telah melakukan kegiatan mendongeng on air selama 2 tahun belakangan.

Makin banyaknya peminat, menunjukkan adanya keinginan orang tua muda sekarang yang ingin kembali ke kebiasan masa kecil mereka. Selain itu, mereka juga ingin mengimbangi kegiatan anak-anak sekarang yang lebih banyak asik dengan permainan elektronik.

Dalam kegiatan mendongeng seorang pendongeng biasanya tidak tampil sendiri. Ada beberapa orang yang membantu membuat peralatan mendongeng. Misalnya gambar-gambar kucing yang sesuai dengan cerita yang dia pilih.

Di sela-sela dogengnya ditampilkan pula lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara. Semuanya menjadi satu kemasan yang dibuat menarik untuk anak-anak. Namun demikian, kegiatan mendongeng sebenarnya yang paling ideal dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Sebab kegiatan itu seharusnya menjadi pengalaman intim, antara orangtua dan anak.

Walaupun mendongeng cerita untuk anak-anak terlihat sepele, namun ternyata sangat berpengaruh terhadap tingkah laku, moral dan sportifitas anak. Jadi, untuk para orang tua, tak ada istilah terlambat untuk memulai sesuatu apalagi untuk anak tersayang. Mulailah Mendongeng !

(Idh/Bahan : Fokussiang, 25/09/2004)

1 comment:

eemenk said...

informasi nya banyak dan bagus. bisa menjadi semangat dan memotivasi saya untuk mendongeng