Tuesday, May 15, 2007

Dongeng Seru Kisah Para Nabi/Rasul

Ayo mendengarkan aksi dongeng Papinto Badut...dengan akting, pantomim dan musik rebana...!
Mendongeng pada anak memerlukan sedikit pemahaman psikologi anak, memahami dunia anak dan apa yang yang menarik minatnya sehingga mereka mau duduk tenang mendengar dongengan kita. Ada kalanya anak mampu bertahan berjam jam duduk terpaku menikmati alur cerita dan aksi tokoh dongengan, ada kalanya anak hanya mampu konsentrasi dan bertahan menyimak dongengan hanya 10 menit saja, lantas menguap bosan dan "menggaggu" aksi kita dengan melakukan aktifitas lain, misalnya bicara dengan temannya atau memainkan barang2 sekitarnya, yang paling ekstrem ia akan meninggalkan forum bila memang dongengan kita tidak menarik baginya. Sudah satu bulan ini acara dongeng sosial mingguan-ku di serambi Masjid Al-Amal Kedurus Surabaya, pertama kali anak2 mampu mendengar dongengan selama hampir 1 jam yang kuagendakan setiap jum'at sore itu , selanjutnya pada minggu ke-4 mereka sudah mulai kendur perhatiannya dan terpecah. Apa sebab? setelah aku telaah, ternyata audiensku usianya berfariasai dari 4 tahun sampai 12 tahun, anak2 usia 5 tahunan sudah tak mampu atau bosan dengan cerita monoton para nabi yang selalu berkisah tentang orang jahat, munafik dan berdosa serta upaya mengembalikan para umat ke jalan yang benar, sedangakan anak usia 10-12 tahunan bisa menikmati dongengan kisah para rasul tersebut dan merasa tidak bosan.
Lantas apa yang terjadi? anak usia 5 tahunan mulai menguap bosan dan "mengganggu" dengan mengajak bicara sendiri pada kakak2nya. Setelah observasi, akhirnya aku putuskan menggunakan alat peraga yaitu boneka pada minggu ke-5 untuk menarik minat anak2 usia 5 tahunan. Kumulai membuka dongengan dengan menghadirkan tokoh Cici Kelinci dan Omsi Singa dua sahabat yang berkomentar pada keadaan sekeliling sebelum acara dongengan dimulai, sedangkan dongengan kuganti dengan Kisah Raja/Nabi Sulaiman bersama para binatang, hasilnya anak2 pun mulai kembali duduk manis mendengarkan kisah2 Nabi Sulaiman yang sudah aku modifikasi sedemikian rupa sehingga cocok dikonsumsi untuk audiens 4-12 tahun...Aku lega ternyata anak2 memerlukan "penyegaran" dalam menikmati sebuah dongengan...Ayo mendongeng Mas!

Manfaat Dongeng Bagi Anak-Anak

Tidak ada anak yang tidak senang mendengarkan dongeng. Entah itu dongeng yang dibacakan dari buku atau dongeng yang telah sangat melekat di benak orangtua sehingga dapat disampaikan secara lisan dengan improvisasi di sana sini. Buktinya tokoh dalam dongeng akan selalu diingat oleh anak bahkan hingga mereka beranjak dewasa, baik yang baik maupun yang jahat.

Ternyata dongeng memiliki banyak manfaat bagi anak. Sebut saja mengembangkan daya pikir dan imajinasi, kemampuan berbicara, serta daya sosialisasi karena melalui dongeng anak dapat belajar mengaui kelebihan orang lain sehingga mereka jadi lebih sportif.

Yang tak kalah penting, mendongeng merupakansalah satu bentuk komunikasi antara orangtua dan anaknya. Interaksi langsung itu akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Bila orangtua ingin mendidik anak, aktifitas mendongeng adalah cara yang paling ampuh dan efektif karena di dalamnya terkandung sentuhan manusiawi. Hal ini karena

sebagai bagian dari seni, dongeng dapat merangsang epekaan anak. Sayangnya kesibukan orangtuadi zaman modern ini membuat anak tenggelam dalam berbagai permainan elektronik, tontonan televisi, atau bacaan komik sehingga mereka jadi jarang berinterkasi.

Oleh karena itu orangtua perlu membiasakan bdiri mendongengkan cerita kepada anak demi mengurangi pengaruh buruk berbagai sarana hiburan modern tersebut.

Walaupun mendongeng tampaknya sepele, namun efeknya sangat besar terhadap tingkah laku dan moral anak. Oleh karena itu mulailah luangkan waktu di sela-sela kesibukan, misalnya saat akhir pekan atau menjelang jam tidur anak untuk berkumpul bersama keluarga dan menjadikannya sebagai sesi mendongeng sekaligus sarana berkomunikasi. (CHK/KOMPAS)

Dongeng Membangun Moralitas dan Kreativitas
(Ulasan buku The Values Book For Children/17 Cerita Moral & Aktifitas Anak

oleh Shirley raines & Rebecca Isabell, penerbit: Elexmedia,2002)

UNTUK menciptakan karakter-karakter yang indah sebagai awal dari terciptanya kedamaian di dunia, salah satu tempat terpenting adalah keluarga. Sentuhan yang baik bagi seorang anak sejak usia dini, bahkan sejak dalam kandungan, akan menumbuhkan pribadi-pribadi yang indah. Dan salah satu bentuk dari sentuhan yang baik tersebut adalah memberi dongeng yang terpilih kepada mereka.

Dongeng? Ya! Menurut Nina A Kartini, psikolog anak di Jakarta, dongeng mempunyai banyak manfaat. Selain dapat menciptakan hubungan yang akrab antara anak dengan orangtua, dongeng juga memberi kontribusi bagi perkembangan anak, menstimulir kemampuan berbahasa si anak, dan meningkatkan kemampuan intelektual anak (Pikiran Rakyat, 9 September 2001).

Selain itu, masih menurut Nina, dongeng juga bermanfaat untuk mentransfer nilai-nilai dan etika secara halus kepada anak. Melalui dongeng yang didengarnya, akan tertanam sikap mental yang bersemangat dan tanggung jawab pada diri si anak. Pesan moral dan ajaran budi pekerti dalam dongeng akan memberikan keteladanan dan panutan bagi anak untuk membimbing perilaku ke arah yang lebih baik.

Namun, hati-hati, tak semua dongeng yang terdapat dalam buku-buku yang beredar di Indonesia menawarkan kisah dan pesan kebajikan. Setidaknya, begitu pengamatan Murti Bunanta, seorang ahli sastra anak dari Universitas Indonesia. Menurut Murti, banyak dongeng atau cerita rakyat yang dituliskan kembali tidak menghormati cerita rakyat itu sendiri, penulisannya tidak dengan pantas sehingga nilai-nilai yang ada dalam dongeng itu menjadi hilang atau berkurang. Cerita rakyat sendiri juga banyak yang dibebani dengan misi yang berlebihan, dan bahkan dikaitkan dengan ideologi. (indonesian@rt.com, 1 Agustus 2001).

Dalam konteks inilah buku The Values Book for Children - 17 Cerita Moral & Aktivitas Anak mempunyai kelebihan. Buku ini tidak saja menyajikan dongeng-dongeng pilihan dengan pesan moral yang universal, tetapi juga melengkapinya dengan panduan cara menuturkannya agar selain menarik untuk didengarkan, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya mudah dicerna si anak pendengarnya.

Sebagaimana yang dipaparkan dalam Bab Pendahuluan, ke-17 dongeng yang disuguhkan dalam buku ini memiliki jalan cerita yang mudah diikuti. Cerita-cerita itu juga mengandung kata dan ucapan yang berulang sebagai cara untuk menyampaikan pesan.

Misalnya, dalam cerita Kura-kura dan Kelinci yang mengisahkan tentang seekor kelinci yang selalu menyombongkan keahliannya dalam berlari, menantang kura-kura untuk lomba lari, di mana perlombaan ini akhirnya dimenangkan oleh kura-kura.

Sepanjang cerita, kalimat "Si kura-kura terus melangkah, selangkah demi selangkah, dengan lambannya, dan matanya terus menatap jalan di depannya", diulang beberapa kali. Jika dituturkan dengan baik, kalimat itu memang menjadi kontras dengan kalimat "Si Kelinci lari dengan cepat. Di sepanjang jalan, setiap melihat kerumunan penonton, ia membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya".

Dan memang, di situlah moral ceritanya. Pada akhir cerita dituliskan bahwa setelah memenangi perlombaan, si kura-kura berkata kepada si kelinci yang kebingungan karena dikalahkan oleh seekor binatang yang berjalan sangat lamban. Katanya, "Saya menyusul kamu ketika kamu sedang tertidur. Saya mungkin saja lamban, tetapi mata saya selalu menatap tujuan. Dengan pelan dan mantap, saya memenangkan perlombaan lari ini."

Lalu, di bagian bawah halaman, tepat di akhir cerita, dengan tata visual yang mencolok tertulis pesan: "tatapkan mata kamu pada tujuan dan terus bergerak maju" (hlm 28). Dan, hal semacam itu diterapkan pada semua cerita.

Rupanya, dalam pemilihan cerita, Shirley C Raines dan Rebecca Asbell, penyusun buku ini, meyakini sebuah formula dalam memilih dan menuliskan dongeng yang baik. Yakni, bahwa dalam memilih cerita yang baik, selain jalan ceritanya mudah diikuti serta mengandung ucapan yang berulang seperti yang dipaparkan di atas, hendaknya kisahnya dapat ditebak dan kumulatif, lalu berisi sekumpulan kegiatan, mengandung kejadian yang menarik minat, lucu, memiliki akhir yang baik dengan kesimpulan yang sesuai, serta berisi pesan moral yang jelas (hlm 8).

Dengan formula yang bagus itu, buku ini mempermudah para orangtua dalam memilih dongeng untuk diceritakan kembali kepada putra-putrinya. Apalagi buku ini juga disertai dengan "tip umum" bercerita yang baik. Misalnya, selama bercerita hendaklah selalu memperhatikan anak pendengar cerita dan membuat klarifikasi jika dibutuhkan, selalu memberi dorongan kepada si anak untuk berinteraksi dan berpartisipasi, memodifikasi jalan dan panjang cerita untuk menyesuaikan pengalaman dan tingkat perkembangan si anak, menggunakan variasi suara, ekspresi wajah, serta gerakan dan kata-kata berulang untuk melibatkan anak-anak masuk ke dalam cerita. Tip lainnya, hendaklah menggunakan kata-kata dan deskripsi yang tepat untuk membantu si anak membayangkan kejadian di dalam cerita, dan ulanglah cerita yang sama berkali-kali, karena dengan begitu anak-anak akan membangun pemahaman mereka terhadap cerita tersebut.

Pada akhir setiap cerita, selain pesan yang disajikan dengan visualisasi yang mencolok, penulis menyertakan "Tip Bercerita", "Pertanyaan", serta saran "Aktivitas dalam Bercerita". Saran-saran dalam "Tip Bercerita" didapatkan dari pengalaman penulis selama bercerita kepada anak-anak. Tip-tip tersebut untuk membantu pembaca cerita mengenali aspek cerita yang spesifik, yang dapat mengembangkan dan menyesuaikan kebutuhan para pendengar anak-anak. Sementara beberapa pertanyaan yang disuguhkan di akhir cerita dimaksudkan untuk merangsang daya imajinasi anak setelah mendengarkan cerita. Namun demikian, penulis tidak menyarankan untuk selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut setiap kali usai bercerita. Menurut dia, kapan pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan, sepenuhnya diserahkan pada sang pencerita yang merasakan langsung perasaan pendengarnya. Kalau tak dipandang perlu, pertanyaan-pertanyaan tersebut boleh tak diajukan sama sekali.

Sedangkan "Aktivitas dalam Cerita" menyajikan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan cerita atau ide pokok cerita, yang diharapkan mampu mendorong kreativitas anak. Sebagai contoh, untuk melengkapi cerita "Monyet dan Kelinci" yang pesan moralnya adalah menghargai setiap perbedaan, disarankan untuk bersama-sama membuat gambar wajah monyet dan kelinci. Lalu, setelah digunting, gambar tersebut diberi tangkai dan digunakan sebagai alat peraga-semacam wayang-saat mengulangi cerita.

Atau pada saat bercerita tentang perbedaan tikus kota dan tikus desa, disarankan untuk mengajak anak bercermin lalu bersama-sama membuat ekspresi dan gerakan pantomim yang yang berhubungan dengan kejadian-kejadian dalam cerita.

Menurut penulis, aktivitas-aktivitas tersebut terutama diperlukan oleh pendengar yang belum dapat membaca. Bagi yang sudah, aktivitas-aktivitas tersebut membantu mereka untuk mengingat ide utama dari cerita yang disampaikan.

Di halaman-halaman akhir buku ini disediakan "kartu cerita", yang dimaksudkan sebagai alat bantu pembaca untuk mengingat peranan pemain utama, urutan jalan cerita, kata-kata, dan bahkan garis besar cerita. Kartu-kartu tersebut, demikian penulis, sangat praktis digunakan ketika bercerita sehingga pembaca cerita dapat lebih mantap dengan cerita baru, membuat kumpulan cerita yang akan diceritakan, atau untuk mengulang cerita di lain waktu, sehingga akan membantu pembaca cerita, baik yang masih pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Dari sisi tata letak (visual), buku yang mencakup empat tema besar (Menjadi Diri Sendiri, Gunakan Akal Kamu, Menghargai Perbedaan, Mendengarkan Musik di Mana-mana) ini cukup baik. Penempatan ilustrasi, panduan gerak ketika bercerita, pesan-pesan, dan alenia-alenia penting dalam cerita sedemikian rupa, memudahkan pembaca saat bercerita, dalam keadaan lelah sekalipun.

Rasanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini adalah salah satu buku penting bagi setiap orangtua yang berikhtiar menjadikan putra-putrinya berkarakter indah sehingga kelak akan turut memberi sumbangan bagi terciptanya kedamaian di Bumi ini.

Agung Bawantara Pecinta dunia anak, pendiri Lingkungan Belajar dan Bekerja Mediakita (LBBM)

Ayo Mendongeng !

Kendati tahu mendongeng banyak manfaatnya, banyak orang tua tidak pede melakukannya. Rani tahu benar manfaat dongeng bagi anak. Ia ingin melakukannya untuk Intan (3 tahun).''Tapi, aku nggak bisa. Imajinasi dan kemampuan mendongengku cekak,'' katanya. Sebagai gantinya, Rani membelikan sejumlah VCD tentang dongeng anak nusantara untuk buah hatinya. ''Biarlah video yang menggantikan,'' tambahnya. Namun, pendongeng dan

penulis dongeng anak-anak dari Yogyakarta, RUA Zainal Fanani tak sependapat. Menurut dia, orang ! tua tak usah merasa takut dengan hal-hal teknis.

''Para orang tua mendongenglah,'' saran dia. ''Kadang ada orang tua yang enggan mendongeng karena merasa tidak bisa mendongeng bagus, tidak bisa menirukan suara ini-itu, dan sebagainya,'' tuturnya. Menurut dia, mendongeng di rumah itu berbeda dengan mendongeng di kelas. Mendongeng di kelas, kata Zainal, sisi hiburannya harus tinggi, karena harus mengendalikan banyak anak. Apalagi mendongeng di depan ribuan anak-anak.

Lain halnya mendongeng di rumah. ''Anak-anak itu dengan teknik mendongeng terjelek pun mau mendengarkan,'' katanya, ''Asal orang tua terutama ibunya mau mendongeng.''

Waspadai pengaruh

Bagi anak-anak, mendongeng di rumah itu tidak sekadar dongeng. Tetapi posisinya lebih merupakan kedekatan batin antara orang tua dengan anak! ''Itu jauh lebih memenuhi dahaga anak-anak akan kehangatan dengan ayah ibunya,'' ungkap Zainal.

Meskipun begitu, pendongeng ini berpendapat, karena kita meyakini makna edukatif dongeng itu sangat kuat, maka kita harus menyadari bahwa pengaruhnya kepada anak-anak akan banyak. ''Kalau yang kita dongengkan itu sesuatu yang tidak baik, tidak pas, mungkin pengaruhnya juga buruk. Sebaliknya, kalau kita mempersiapkan dongeng dengan baik, pengaruhnya juga akan baik.''

Dongeng yang pengaruhnya buruk, misalnya orang tua yang terlalu banyak

memberikan dongeng-dongeng yang berbau mistis atau yang bersifat 'mentalitas menerabas' seperti istilah antropolog Koentjaraningrat. Misalnya, kata dia, hanya dengan membaca semacam ayat-ayat tertentu, rapalan-rapalan tertentu, semua keinginan kontan bisa tercapai. Dari segi pandang pembentukan mental, dongeng yang instan seperti itu jelaslah buruk. Akibatnya, anak-anak ! mempunyai pandangan yang keliru tentang etos kerja, etos berusaha, sehingga ikhtiarnya kurang.

Karena itu, Zainal Fanani menyarankan agar para orang tua dalam mendongeng membuat proporsi yang lebih menonjolkan cerita-cerita pada usaha keras. Di Cina, misalnya, orang dilatih kungfu dalam waktu panjang, sampai luka-luka dan baru dia menguasai ilmu kungfu. Demikian juga pada cerita Oshin dari Jepang yang sukses di masa tuanya, semasa kecil bekerja keras, menghadapi banyak tantangan. Para Nabi pun begitu berusaha keras dalam hidupnya. Mengutip sosiolog David McLelland, Zainal menyebutkan cerita yang baik itu setidaknya menanamkan tiga prinsip kehidupan. Yakni, kemauan untuk berprestasi, kemauan untuk bertahan hidup, dan kemauan untuk berkreasi.

Kasih sayang Allah

Dalam mendongeng, Zainal mengingatkan! agar memasukkan unsur-unsur kasih sayang Allah. ''Kita harus katakan kepada anak-anak bahwa semuanya Allah berperan di sini. Cuma kita tetap kerja keras, sebelum kita berhasil, Allah ingin melihat usaha kita,'' kata Zainal yang juga pelatih Ardika (Armada Da'i Khusus untuk Kalangan Anak-anak), Yayasan Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturrahim Pecinta Anak-anak Yogyakarta. Zainal melihat kisah-kisah seperti karya HC Anderson menimbulkan Sindrom Cinderella. Yakni, bermimpi suatu saat akan ada pangeran yang lewat. ''Itu kurang tepat. Apalagi menawarkan mimpi-mimpi yang berkonotasi ke arah perjodohan,'' tuturnya.

Lewat dongeng, lanjut Zainal, anak-anak berlatih berimajinasi. Imajinasi itu bisa banyak hal misalnya imajinasi ke masa lalu, ke dunia lain seperti binatang atau imajinasi yang sifatnya futuristik. Misalnya, anak-anak diajak bercerita tahun 3000 dengan membayangkan teknologi yang memungkinkan kita bisa bertamasya ke dasar lautan.

Yang tak boleh dilupakan adalah mendongengkan tentang cerita yang memperkenalkan nilai baik dan buruk. ''Pada usia TK harus digambarkan hitam-putih, maksudnya kalau baik ya baik dan kalau jelek ya jelek, jangan digambarkan abu-abu,'' kata Zainal, ''Jadi, anak-anak bisa melakukan identifikasi tokoh dan identifikasi perbuatan.'' Misalnya, anak ingin seperti Nabi Muhammad SAW dan tidak ingin melakukan hal-hal yang merugikan.

Teknik Praktis Mendongeng

Bila Anda sudah berniat mulai mendongeng untuk si kecil, jangan takut. RUA Zainal Fanani memberikan beberapa tips teknis yang bakal mempermudah penyampaian pesan Anda.

1) Bisa membacakan cerita atau menceritakan kembali isi cerita.

Caranya bisa orang tua berhadapan dengan anak atau orang tua di samping anak membaca bersama-sama.

2) Cerita bisa dibuat sendiri.

Ada yang dibuat sampai jadi lalu diceritakan, bisa juga mengarang sambil mendongeng sehingga anak boleh mengusulkan saat pendongeng bercerita.

Pendongeng yang membuat cerita sendiri ini membutuhkan kemampuan dan

pengalaman supaya dongengnya tidak macet di tengah jalan. Harus ada konsistensi, tokoh-tokohnya jangan sampai lupa.

3) Perhatikan durasi dan waktu.

Cerita sebelum tidur itu cukup baik. Hanya lebih baik lagi kalau disampaikan pada waktu yang tepat misalnya setelah belajar. Cerita menjelang tidur sebaiknya pendek saja, 15-2! 0 menit sudah cukup, terutama bila anak sudah mengantuk. Yang penting ada kesepakatan tentang frekuensi dalam seminggu. Anda kadang memberikan cerita sebagai hadiah itu baik, karena menjadi 'kejutan' bagi anak.

4) Hindari cerita mengandung konflik bertingkat.

Maksudnya, cerita di mana pemerannya kalah dulu, kemudian akhirnya menang. Sebab, jangan-jangan ketika pemerannya kalah, anak sudah tertidur. Alhasil, yang masuk dalam benaknya, ''O, orang baik itu harus mengalah.'' Bagaimana pun cerita yang menarik itu ada unsur konfliknya, tetapi harus disesuaikan kemampuan si anak menangkap cerita. Anak TK membutuhkan cerita yang sederhana.
5) Setelah mendongeng, didiskusikan ceritanya dengan anak.

Ini usaha untuk menginternalisasikan nilai cerita pada anak. Misalnya, ''Kamu atau temanmu pernah tidak mengalami seperti cerita itu?''
Selamat mendongeng !
Sumber: republika.co.id

Story Telling, Tugas Penting untuk ayah

Hampir semua anak suka mendengar dongeng. Dongeng sendiri memiliki kekuatan besar mendorong munculnya imajinasi dalam benak anak. Coba saja ingat-ingat, bagaimana reaksi si kecil ketika mendengarkan cerita atau dongeng yang dibawakan oleh guru atau Anda orangtuanya. Mungkin bayangan ketertarikan si kecil akan isi cerita, tokoh, gambar dalam buku dapat Anda tangkap dengan jelas dari wajahnya.

Lewat dongeng berbagai nilai juga dapat ditanamkan pada anak. Namun sayangnya, entah karena sibuk atau merasa tidak bisa mendongeng, banyak orangtua yang akhirnya tidak terlalu memprioritaskan kegiatan mendongeng ini sebagai bagian penting dari pola pengasuhannya. Alhasil, mendongeng pun kalah populer dibandingkan televisi yang informasinya belum tentu sesuai untuk anak-anak yang dalam kenyataannya telah menjadi menu wajib dari keseharian anak.

Story telling atau mendongeng bukan hanya menyenangkan untuk si kecil yang mendengarkannya tetapi juga menyimpan banyak manfaat, baik untuk orangtua maupun anak. Pakar psikologi pendidikan, Dr Tjut Rifameutia Psi, menyebutkan manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan mendongeng yaitu:

1) Dongeng sebagai sarana atau alternatif hiburan yang positif bagi anak daripada anak berkutat seharian di depan televisi dan games stationnya.

2) Pilih dongeng yang mengandung pesan moral sehingga saat mendongeng bisa dipakai orangtua untuk menyampaikan nilai sosial dan keluarga.

3) Alur cerita, detil, tokoh yang dikisahkan dapat membantunya mengasah kemampuan nalar.

4) Dongeng dapat menjadi sarana mengungkapkan pikiran dan emosi anak.

5) Cerita dalam dongeng dapat mendorong anak untuk mengembangkan daya imajinasinya.

6) Kata-kata yang digunakan dalam dongeng sangat baik untuk menambah perbendaharaan kata anak.

7) Membantu memperluas wawasan anak. Misalnya, anak yang tidak pernah pergi ke Bali atau kampung halamannya bisa mengetahui dan membayangkan keadaannya melalui dongeng dan deskripsi yang diberikan melalui kegiatan mendongeng.

8) Bagi orangtua sendiri mendongeng dapat menjadi media untuk lebih mendekatkan diri pada anak.

Mengasuh anak bukanlah semata-mata tugas ibu, tapi juga ayah. Karena itu Anda pun harus mulai membagi tugas pengasuhan kepada pasangan Anda. Apalagi para ayah biasanya sibuk dengan berbagai tuntutan pekerjaan di luar rumah. Dengan menyerahkan tugas story telling pada ayah juga membuatnya mempunyai kesempatan untuk tetap dekat dekat dengan si kecil dan pada saat yang sama berkesempatan menanamkan berbagai hal positif tanpa menggurui. Cukup dengan menyediakan waktu setidaknya 15 menit saja dalam sehari, anak-anak pun bisa melewatkan waktu yang berharga dan bermanfaat dengan ayahnya.

Tips untuk ayah:

9) Tak punya ide cerita untuk anak? Kunjungi toko buku dan carilah buku-buku dengan cerita klasik dengan gambar menarik. Bacakan untuk anak-anak.

10) Jangan terpaku pada buku. Pengalaman dan cerita masa lalu dari orangtua bisa menjadi bahan yang menarik untuk anak-anak. Tradisi yang kerap dilakukan dalam keluarga, cerita mengenai hewan peliharaan, teman masa kecil, liburan, ulang tahun serta berbagai kejadian menarik yang pernah Anda lalui bisa menjadi pilihan yang dapat membuat anak lebih mengenal ayahnya.

11) Jangan monoton, gunakanlah suara-suara, gerakan tubuh, ekspresi untuk membuat saat mendongeng menjadi momen yang menyenangkan dan menarik untuk si kecil.

12) Jika anak-anak sudah cukup besar saat mendongeng bisa juga digunakan dengan menceritakan berbagai pelajaran yang dapat diambil dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Ceritakan dengan jujur, konsekuensi negatif yang harus ditanggung, kepedihan dan hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tersebut.

13) Jangan malas untuk berlatih dan membaca referensi mengenai bagaimana mendongeng yang baik supaya anak-anak tidak bosan mendengarnya.

14) Tidak harus di sampingnya, bercerita lewat telepon pun bisa dilakukan. Ceritakan saja pada si kecil pengalaman hari itu. Jangan lupa sisipkan detil yang menarik untuk si kecil tetap mendengarkan.
Sumber: sahabatnestle.com

Dongeng Memberi Banyak Manfaat bagi Anak
Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

Kenadati demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena orang tua di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan orangtuanya, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh orang tua. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu orang tua dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Kesibukan memang dapat menjadi alasan yang utama bagi orang tua untuk tidak mendongeng, ditambah dengan anggapan yang salah bahwa bercerita kepada anak dapat diwakili oleh alat-alat teknologi. Namun mengingat betapa banyaknya manfaat yang dapat diperoleh anak lewat kegiatan mendongeng, hendaknya orang tua dapat meluangkan waktunya untuk mulai mendongeng. Tak banyak waktu yang dibutuhkan. Rata-rata hanya 15-20 menit untuk satu cerita, sedangkan untuk anak-anak yang lebih kecil atau usia prasekolah bahkan kurang dari itu. Sebab, terlalu lama pun anak akan cenderung bosan.
Putu R.Ujianti, sarjana psikologi
Sumber : balipost.com

Mendongeng Itu Menyenangkan
Anak-anak biasanya sangat senang mendengarkan cerita. Terutama cerita yang dibacakan oleh orang tua. Bercerita atau mendongeng atau dalam bahasa Inggris disebut storytelling, memiliki banyak manfaat. Misalnya saja, mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara anak, mengembangkan daya sosialisasi anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan orang tuanya.

Psikolog Ninok Widiantoro, menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Karena interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan mendongeng sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara paling ampuh dan efektif untuk memberikan "human touch" atau sentuhan manusiawi dan sportifitas bagi anak.

Ninok menyayangkan kesibukan orangtua saat ini membuat anak-anak tenggelam dengan berbagai permainan, tontonan dan bacaan media lain. seperti televisi dan komputer serta buku-buku komik yang membuat mereka jarang berinteraksi dengan orangtua. Belajar tentang sportifitas dengan mengakui kelebihan orang lain.

Ninok menambahkan, sebagai bagian dari seni, dongeng bisa menciptakan sisi kepekaan terhadap sang anak. Tokoh dan karakter yang diceritakan dalam dongeng akan selalu diingat oleh sang anak, baik tokoh baik maupun tokoh jahat. Cerita dongeng juga dapat berpengaruh bagi kesembuhan anak yang sedang sakit, terutama dampak psikologisnya.

Acara mendongeng untuk anak-anak saat ini mulai menjadi tren di Jakarta. Ditempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan, acara ini kerap digelar dan menyedot perhatian anak-anak.

Mulai maraknya kegiatan mendongeng dipusat perbelanjaan agaknya menunjukkan fenomena sendiri. Acara seperti ini semakin menarik minat pengunjung. Seorang pendongeng yang setiap pagi membacakan dongeng disebuah stasiun radio swasta di Jakarta misalnya, telah melakukan kegiatan mendongeng on air selama 2 tahun belakangan.

Makin banyaknya peminat, menunjukkan adanya keinginan orang tua muda sekarang yang ingin kembali ke kebiasan masa kecil mereka. Selain itu, mereka juga ingin mengimbangi kegiatan anak-anak sekarang yang lebih banyak asik dengan permainan elektronik.

Dalam kegiatan mendongeng seorang pendongeng biasanya tidak tampil sendiri. Ada beberapa orang yang membantu membuat peralatan mendongeng. Misalnya gambar-gambar kucing yang sesuai dengan cerita yang dia pilih.

Di sela-sela dogengnya ditampilkan pula lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara. Semuanya menjadi satu kemasan yang dibuat menarik untuk anak-anak. Namun demikian, kegiatan mendongeng sebenarnya yang paling ideal dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Sebab kegiatan itu seharusnya menjadi pengalaman intim, antara orangtua dan anak.

Walaupun mendongeng cerita untuk anak-anak terlihat sepele, namun ternyata sangat berpengaruh terhadap tingkah laku, moral dan sportifitas anak. Jadi, untuk para orang tua, tak ada istilah terlambat untuk memulai sesuatu apalagi untuk anak tersayang. Mulailah Mendongeng !

(Idh/Bahan : Fokussiang, 25/09/2004)

Friday, May 11, 2007

PUISI ANAK yang kamu kirim ada disini...

Kepada Ayah Ibu

tiba2 wajah ayah di pelupuk mata
dengan senyum tua
ada gigi hitam dua
ah, dari dulu tetap sama
kudengar cerita dari ibu
ayah seorang yang bijaksana


latar sempit di rumah ibu
serta pagar bambu di sekelilingnya
senantiasa membawa damai hatiku
seperti lirik tembang itu
yang selalu didendangkan ibu
menjelang bobok malamku
(raja_gembel:webforum.plasa.com)




Bermain Bersama Kerbau dan Layang Layang
Kang,
Bersegera aku menjajari langkahmu
Langkah kecil yang kuayun sangat kuat
Jangan tinggalkan aku bersama layang-layangmu
Ijinkan aku duduk diatas punggung kerbau, menggayuti perut buncitmu
Dan bersendau gurau di sepanjang langkahnya

Kang,
Kerbaumu bau!
Bagaimana kalau kita mandi bersamanya?
Dan nikmat itu tiada taranya

Haripun berangkat siang
Kita akan mengadu layang-layang
Pasti aku yang menang
Tentu aku akan sangat girang
Kalau engkau kalah kang, engkau harus menggendongku sepanjang jalan pulang...
(sweetu:webforum.plasa.com)




Tuesday, May 8, 2007

Anak-anak, Sex dan Aborsi

Papinto Badut terkesima, masih anak-anak kok hamil.
Lilis (15 tahun) sedang hamil muda, posturnya yang masih anak-anak serta wajahnya yang manis, kurus dan tiris dengan perut buncit membuat orang bertanya tanya masih anak2 kok hamil?. Kehamilan yang menginjak usia 3 bulan ini membuat ia sering mual dan muntah2 dan mulai mengidam makanan buah tertentu, karena tak punya uang, maka ia menghampiri Papinto sambil berkata " Papinto, tolong minta buah blimbingnya dong!", lalu aku turuti kehendaknya kerna merasa iba sebab kehamilan yang ke-2 ini ia ditinggalkan lagi oleh sang suami sirinya yang masih cukup muda juga usianya, 20 tahunan yang hanya tamat SMP. Lilis hanya mengenyam pendidikan SD, sedangkan ke SMP tiada lagi biaya. Ibunya yang penjual rujak manis diemperan rumah kontrakannya tak lagi mampu membiayai sekolahnya. Konon ayah Lilis pergi jadi TKI, tapi tak ada kabar beritanya hingga kini. Jadilah ia anak remaja yang kawin terpaksa karena keadaan dan keterpaksaan. Seharusnya-seandainya ia tahu manfaat KB- ia lebih baik ber-KB saja, untuk mencegah kehamilan yang tak dikehendaki, tapi entah karena kurangnya pengetahuan dan kemiskinan, ia tak melakukannya. Saya sempat dengar bahwa ia akan menggugurkan kandungan, tapi terlambat karena kandunganya kadung besar. Berapa kira-kira jumlah gadis remaja Indonesia mengalami peristiwa seperti Lilis?

60% Aborsi oleh Remaja
(Seksolog dan androlog, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila Sp And FAACS di sela-sela Kongres Nasional I Asosiasi Seksologi Indonesia, Minggu (20/7/ 2002).

Sebanyak 60 persen aborsi yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh remaja. Angka yang sedemikian tinggi ini bisa menjadi indikasi adanya perubahan persepsi remaja terhadap masalah seks. Di sisi lain, pengetahuan remaja tentang masalah seks ternyata belum maju dengan masih banyaknya salah pengertian dan masih dipercayanya beberapa mitos.

Wimpie dalam penjelasannya menandaskan, "Persoalan aborsi remaja di Indonesia itu jika dibandingkan dengan salah satu negara bagian saja di AS, sudah lebih gawat." Namun, dia mengakui bahwa dia belum mendapat data pembanding yang riil.

"Di Indonesia ada 2,5 juta aborsi, di mana 1,5 juta di antaranya adalah aborsi yang dilakukan remaja. Kalau aborsi dilakukan oleh seorang istri ada alasannya, seperti alasan kesehatan atau kegagalan program Keluarga Berencana," ujarnya.

Setelah soal PACARAN, Kini Masanya "Making Love"

UNTUK menggambarkan betapa sulitnya "menjaga" anak perempuan, digambarkan oleh seorang guru yang juga ibu asrama. Katanya, dia lebih senang diserahi tugas mengurus berpuluh-puluh kambing daripada seorang anak perempuan.

Alasannya, kalau kambing betina bunting itu berarti keuntungan karena jumlahnya bakal bertambah. Sebaliknya dengan anak perempuan yang hamil di luar nikah, bisa berarti "urusan berat" seumur hidup.

Cerita dalam sinetron Pernikahan Dini pun memberi gambaran betapa peliknya kehidupan, bila seorang gadis remaja hamil dan terpaksa menikah sebelum waktunya. Dia sendiri tidak siap, keluarganya pun turut terbawa dalam suasana yang serba amburadul. Si ibu dan ayah bertentangan pendapat, si kakak lelaki cenderung marah sekaligus jatuh iba pada nasib si adik.

Sementara Dini, si gadis hamil yang diperankan Agnes Monica terjebak antara perannya sebagai remaja yang ingin bergaul, tanggung jawab sebagai ibu, rasa bersalah, dan ketidaksiapan diri menghadapi semua perubahan yang dirasakannya datang begitu mendadak.

Dini dalam Pernikahan Dini tidak sendirian. Retno Kusrini, psikolog dari Klinik Griya Sahari yang antara lain mengurusi kesehatan reproduksi mengatakan, tahun 1980-an awal dia banyak menangani para remaja putri yang berkonsultasi soal bagaimana mendapat pacar, atau gundah karena putus cinta. Namun, belakangan ini, sebagian remaja itu ingin bertanya lebih jauh masalah ML (singkatan dari Making Love–berhubungan seks).

"Hampir semua remaja yang datang berkonsultasi menanyakan soal ML. Ini bisa menjadi salah satu pertanda bahwa semakin banyak remaja yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah," kata Rini, nama panggilannya.

Psikolog lainnya yang kerap menangani masalah reproduksi, Ninuk Widyantoro, menambahkan, apa pun alasan mereka melakukan hubungan intim, namun fakta menunjukkan kehamilan di luar nikah biasanya baru menjadi masalah keluarga setelah yang bersangkutan terlambat menstruasi lebih dari dua bulan.

"Lebih repot lagi kalau yang bersangkutan sudah berusaha dengan berbagai cara minum ramuan atau ke dukun segala. Selain harus mempersiapkan dia menjadi ibu sekaligus bisa tetap sekolah, kita juga mesti berhadapan dengan kemungkinan si bayi lahir cacat," ujar Ninuk.

SULIT atau bahkan amat mungkin tak ada angka yang menunjukkan berapa banyak perempuan–terutama remaja–yang hamil di luar nikah. Bagaimanapun sebagian besar masyarakat menganggap hamil di luar nikah sebagai aib keluarga yang sebisa mungkin disembunyikan serapat-rapatnya.

Bahkan, seorang perempuan berusia 20-an tahun, sebut saja namanya Arni, yang hamil di luar nikah langsung "dikucilkan" oleh keluarganya. Keluarga Arni yang tinggal di daerah padat di Jakarta, suatu hari merasa amat terhenyak begitu Arni mengaku bahwa dirinya telah hamil dengan pria tetangganya, orang yang di lingkungan itu dikenal sebagai pria pengangguran yang suka membual. Kehamilan Arni tak mungkin digugurkan, karena usianya sudah sekitar empat-lima bulan. Untuk menikahkan dia dengan pria tetangganya pun keluarga Arni keberatan, sebab si pria dinilai tidak bisa bertanggung jawab. Mereka khawatir pernikahan justru akan membuat keluarga terbelit masalah yang semakin rumit. Mereka juga merasa keberatan membiarkan Arni tinggal di rumah saja. Alasannya klasik, malu kepada para tetangga. Padahal, di belakang "punggung" keluarga itu, amat mungkin sebagian tetangga sudah tahu kondisi Arni dan menjadikannya bahan pembicaraan. Rapat keluarga besar pun lalu digelar, karena keluarga inti saling beradu argumentasi tanpa mampu menghasilkan jalan keluar bagi kehamilan Arni. Hasilnya, Arni akan tinggal di rumah salah satu kerabatnya di Yogyakarta sampai dia melahirkan. Apakah dia akan memelihara bayinya, atau menyerahkannya kepada pihak lain akan dipikirkan kemudian.

Atas keputusan keluarganya itu, Arni tak bisa berbuat apa-apa. Perempuan itu tidak menjawab ketika ditanya apa sebetulnya keinginannya sendiri. Dia bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan si bayi. Dia hanya mengatakan, merasa bersalah karena telah merepotkan semua orang.

Hal yang sama juga dialami Indah, bukan nama sebenarnya. Dia hamil dengan pacarnya Riva. Kakak lelakinya, Tono, mengaku amat marah dan sempat terpikir keinginan membunuh Riva. "Saya sudah berkali-kali memperingatkan Wina agar tidak pacaran dengan Riva, karena dia sudah punya istri dan anak pula," ujar Tono. Hubungan Tono dengan Wina cukup dekat. Oleh karena itulah, ketika tahu dirinya hamil, Tono adalah orang pertama yang diberitahu Wina. "Kalau sudah berani begitu, artinya dia sudah dewasa. Saya sudah berusaha memperingatkannya, tetapi dia nekat memilih Riva. Maka, dia harus berani menghadapi kenyataan dan bertanggung jawab pada kehamilannya," cetus Tono. Namun, orangtua mereka tak tega melihat Wina kebingungan. Mereka membawa Wina ke luar kota, dan bercerita kepada para tetangga bahwa Wina sudah menikah. Setelah bayinya lahir, Wina kembali menjalani aktivitasnya, sementara si bayi diasuh orangtuanya.

BAIK Ninuk maupun Rini mengatakan, tahap menerima kenyataan bahwa salah satu anggota keluarga mereka hamil di luar nikah, merupakan hal yang paling sulit. Untuk mengatasi hal itu, tak ada rumusan baku karena kondisi keluarga maupun perempuan muda yang hamil di luar nikah amat berbeda-beda.

"Biarpun sama-sama hamil di luar nikah, tetapi kondisi mereka berbeda-beda. Makanya penanganannya pun harus individual. Ada keluarga yang mudah didamaikan, artinya tidak perlu saling menyalahkan dan bertengkar, lebih baik mencari jalan keluar. Tetapi ada juga yang sampai memerlukan bantuan konselor, entah itu psikolog, penasihat spiritual, atau anggota keluarga lain yang disegani," tutur Ninuk.

Bagi si remaja yang hamil di luar nikah, menurut Ninuk, salah satu hal penting yang mesti dilakukan adalah menghindarkannya dari trauma. Artinya, meski dia dinilai berbuat kesalahan, tetapi jangan sampai membuatnya didera rasa bersalah berkepanjangan. "Kalau lingkungan begitu memojokkan dia, tak jarang yang bersangkutan jadi trauma. Kepribadiannya berubah, dia jadi menutup diri, tidak mau bergaul. Ini kan kontra-produktif," ujarnya.

Dari pengalamannya, Ninuk mengatakan, sebagian besar mereka yang hamil di luar nikah paham bahwa hal itu melanggar norma, mencoreng nama baik keluarga, sampai mempermalukan diri sendiri. Namun di sisi lain, mereka juga tidak punya bekal cukup tentang pengetahuan fisik dan kejiwaan yang tengah mereka alami.

"Untuk menghadapi kasus hamil di luar nikah atau kehamilan yang tidak diharapkan ini, konselor harus berkejaran dengan waktu. Usia kehamilan terus bertambah, sementara kita perlu mempersiapkan yang bersangkutan, keluarganya, sekaligus mengorek keterangan apa saja yang telah dia lakukan begitu tahu dirinya hamil," cerita Ninuk.

Hal yang terakhir itu penting untuk menentukan langkah terbaik yang mesti dilakukan. Misalnya, menentukan usia dan kondisi kehamilan. Kalau yang bersangkutan sudah mencoba berbagai hal untuk menggugurkan kandungannya, berarti ada kemungkinan hal itu akan mempengaruhi kualitas bayinya. Jalan keluarnya bisa beragam, kalau usia kandungan masih dini bisa dilakukan aborsi yang aman, atau mempersiapkan yang bersangkutan kemungkinan hadirnya anggota keluarga yang cacat.

Rini menambahkan, setelah bisa menerima kenyataan, orangtua sering kali akan mengambil alih tanggung jawab memelihara bayi. Mereka ingin si anak bisa terus bersekolah, dan meneruskan aktivitas lain sesuai usianya. "Tindakan seperti ini buat anak yang sudah dewasa, mungkin dia bisa mengambil hikmahnya. Tetapi buat anak yang masih berpikiran remaja, akan membuatnya tidak pernah belajar menjadi dewasa, menjadi orang yang bertanggung jawab pada perbuatannya."

Menurut Rini, dengan membiarkan si anak sendiri yang mengurus bayinya, sedang orangtua mendampingi dan mengawasi, akan membuat si anak belajar bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. "Kalau tanggung jawab itu diambil alih, dia akan merasa jadi anak ABG (anak barugede) terus-menerus. Bahkan, bisa jadi dia hamil lagi," Rini menandaskan.

Tanggung jawab harus diajarkan sejak dia masih hamil. Misalnya, bagaimana dia harus rajin memeriksakan kandungannya ke dokter, mengonsumsi makanan bergizi, dan membesarkan bayinya mulai dari memikirkan soal pakaian, makanan, sampai pendidikannya nanti.

"Bisa dikatakan setiap perempuan itu punya naluri sebagai ibu. Jika orangtua tidak mendorong si anak menumbuhkan nalurinya sebagai ibu, maka anak itu tidak akan bisa menjadi ibu dari bayinya," cetus Rini.

Dilema yang dari tahun 1980-an hingga kini masih terjadi adalah kondisi di mana orangtua "membuang" si anak yang hamil di luar nikah, sementara kehamilan itu sendiri tidak mungkin digugurkan.

"Pemerintah melarang aborsi, tetapi tidak memberikan fasilitas bagi perempuan yang mengalami kehamilan tak dikehendaki. Padahal, kondisi yang bersangkutan saat itu biasanya stres berat. Dia harus menanggung kehamilan sekaligus dibuang keluarga. Ke mana dia harus pergi? Situasi ini jadi sangat menyedihkan bagi sang ibu dan janin yang dikandungnya," tutur Rini.

Oleh karena itu, jika ada anggota keluarga yang hamil di luar nikah, sebaiknya semua orang yang dekat dengannya bisa berpikiran jernih, dan tidak mengedepankan emosi. Dengan demikian, apa pun keputusan yang diambil merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan. Hal ini perlu, agar orangtua maupun yang bersangkutan tidak menyesal di kemudian hari.

"Jangan pernah orangtua mencela atau membicarakan keluarga lain yang tengah mengalami anggota keluarganya hamil di luar nikah. Oleh karena, kejadian itu bisa terjadi pula pada dirinya. Saya amati, kejadian seperti itu makin hari kok semakin banyak ya," ujar Rini. Nah lho…. Sumber www.kompas.com
(ARN/CP)

Aborsi dan alasannya.

Aborsi adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin sepenuhnya berkembang dan dapat hidup di luar tubuh ibu, yaitu bila janin berusia di bawah dua puluh minggu atau ketika berat janin kurang lebih 500 gram dan panjang dari puncak kepala ke bokong lebih kurang 18 cm. Umumnya aborsi terjadi pada masa tiga bulan pertama kehamilan. Akan tetapi, pada prinsipnya aborsi mempunyai dua arti yang berbeda, yaitu keguguran kandungan yang tidak disengaja (abortus spontan) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "keguguran" dan keguguran kandungan yang sengaja dilakukan (abortus provocatus) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "pengguguran". Biasanya yang kedua istilah inilah yang sering mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat.

Aborsi yang dilakukan dengan sengaja disebabkan oleh dua hal, yaitu aborsi yang dilakukan karena alasan medis yakni untuk keselamatan ibu disebut abortus therapeuticus dan aborsi yang dilakukan karena tidak menginginkan anak, misalnya karena malu anak yang dikandungnya merupakan hasil dari hubungan di luar nikah atau tidak menginginkan terlalu banyak anak karena alasan ekonomi, dan sebagainya disebut abortus criminalis.

Sejak zaman dahulu hingga sekarang terdapat bermacam-macam cara menggugurkan kandungan yang dilakukan manusia seperti meminum ramuan tumbuh-tumbuhan (jamu) baik dengan atau tanpa mantera, pijat, melompat dari tempat yang tinggi, meletakkan sesuatu yang panas di atas perut, menggunakan teknik penyedotan (yang disebut "induksi haid" oleh dr. Suk), pelebaran rongga rahim, kuretase, dan sebagainya. Abortus yang tidak memenuhi persyaratan medis sering menimbulkan komplikasi, perdarahan sampai shock, infeksi, dan dapat mengakibatkan kematian pada ibu hamil yang digugurkan kandungannya.

Awal terjadinya kehamilan

Sebelum membahas mengenai boleh-tidaknya aborsi dilakukan, ada baiknya kita melihat bagaimana awal terjadinya kehamilan dalam perspektif ilmu kedokteran. Ketika terjadi hubungan seksual, kira-kira 200 juta sel sperma (spermatozoa) terpancar dari zakar laki-laki ke lubang vagina perempuan. Sel sperma tersebut -- yang dilindungi oleh cairan semen dari asam yang ada di vagina, berenang dengan ekornya, dan berusaha menembus ke dalam saluran telur melalui uterus (rahim). Dalam empat puluh menit perjalanannya, sebagian besar sel sperma mati. Bila ada satu sel sperma yang bertemu dengan ovum atau sel telur maka terjadilah konsepsi atau pembuahan. Pada saat itu, kepala spermatozoa berusaha masuk ke dalam ovum melalui permukaan luarnya. Jika ada sel sperma yang berhasil masuk, membran ovum berubah sehingga tidak bisa dimasuki oleh sel sperma yang lain. Sel baru yang baru terbentuk tersebut disebut zigot.

Beberapa jam setelah pembuahan, zigot mengalami pembelahan atau mitosis menjadi dua sel baru yang serupa. Kemudian, masing-masing sel membelah diri menjadi dua, empat, delapan, dan seterusnya sampai membentuk bola sel yang disebut morula. Setelah mengalami pembelahan berkali-kali, morula berubah menjadi bulatan berongga yang disebut blastosit. Kemudian, blastosit menanamkan diri ke dalam selaput lendir rahim, dan tumbuh menjadi janin (embrio). Sel yang membelah diri itu kemudian tumbuh berbeda. Sejumlah sel menjadi embrio, dan yang lain membentuk kantung yang mengelilingi embrio yang disebut korion (selaput luar embrio yang berfungsi sebagai selaput pelindung dan pencari makanan) dan amnion (selaput ketuban atau selaput paling dalam yang mengelilingi janin sebelum kelahiran yang berisi cairan).

Dari 46 kromosom dalam diri kita -- 23 di antaranya berasal dari ayah dan 23 lainnya dari ibu, ada dua kromosom yang secara khusus menentukan jenis kelamin individu. Kedua kromosom ini disebut kromosom seks. Dalam diri perempuan, kromosom ini serupa, dan masing-masing disebut kromosom X sehingga kromosom seks dalam diri perempuan disebut XX. Akan tetapi, dalam diri laki-laki hanya ada satu kromosom X dan satu kromosom Y sehingga kromosom seks dalam diri laki-laki disebut XY. Oleh karena itu, seorang ayah bisa mewariskan kromosom X atau Y kepada anaknya, sementara seorang ibu hanya bisa mewariskan satu kromosom X. Sebuah sel sperma yang mengandung kromosom X kebetulan membuahi ovum maka akan terbentuk sel yang mengandung komplemen kromosom 46 + XX, dan bayi yang akan lahir nanti adalah perempuan. Sebaliknya, jika sel sperma yang membuahi itu mengandung kromosom Y, sel yang akan terbentuk mempunyai komplemen kromosom 46 + XY, dan bayi yang akan lahir nanti, insya Allah, laki-laki. Dengan demikian, faktor yang menentukan jenis kelamin bayi adalah jenis sel sperma yang membuahi.

Pengetahuan tentang embriologi (ilmu yang menguraikan tentang pembentukan, pertumbuhan pada tingkat permulaan, dan perkembangan embrio) baru diketahui oleh ilmuwan pada abad ketujuh belas karena penemuannya harus menunggu berbagai kemajuan luar biasa yang berpuncak pada kemampuan manusia untuk melihat kromosom-kromosom (dengan menggunakan mikroskop), dan menyelidiki peran yang dimainkannya. Akan tetapi, empat belas abad yang lampau Alquran secara tidak langsung sudah memberikan rujukan mengenai peranan faktor sperma dalam menentukan jenis kelamin. Alquran menyatakan, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah ia (pada mulanya) setetes nuthfah (sperma) yang ditumpahkan ke (dalam rahim)? Kemudian menjadi `alaqah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menciptakan sepasang laki-laki dan perempuan." (Q.S. 75: 36-39). Dalam ayat lain disebutkan, "Dan bahwasannya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari setitik nuthfah apabila dipancarkan." (Q.S. 53: 45-46). Kedua ayat termaktub memberikan gambaran bahwa sperma laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin janin laki-laki atau perempuan karena hanya sperma dipancarkan oleh laki-laki ke dalam vagina perempuan.

Ihwal permulaan kehidupan

Dalam perspektif hukum Islam klasik, aborsi masih merupakan kontroversi. Sebagian fukaha (ulama ahli hukum Islam) ada yang berpendapat bahwa melakukan aborsi berdosa kalau dilakukan sesudah masa kehamilan enam belas minggu karena ketika itu Allah sudah meniupkan roh kepada janin,sehingga dia hidup seperti manusia juga. Akan tetapi, kalau aborsi dilakukan sebelum itu, tidak berdosa. Dalil yang digunakan untuk menunjukkan kebolehan aborsi itu sebagai berikut. "Setiap orang di antaramu diciptakan dalam rahim ibunya dari setetes nuthfah selama empat puluh hari, lalu dia menjadi `alaqah selama (kurun) waktu yang sama, kemudian menjadi mudhghah selama kurun waktu yang sama juga, dan kemudian Allah mengutus malaikat datang kepadanya dengan membawa empat perintah. Sang malaikat itu diperintahkan untuk menuliskan rezeki, usia, amal perbuatan, dan akhirnya nasibnya bahagia atau sengsara, lantas meniupkan ruh kepadanya" (H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas`ud). Dalam hadis lain disebutkan, 'Ketika nuthfah telah berusia empat puluh dua hari, Allah mengutus malaikat yang membentuknya, menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, daging, dan tulangnya, lalu bertanya, "Tuhanku, apakah dia laki-laki atau perempuan?" (H.R. Muslim dari Hudzaifah bin Asid).

Kedua hadis di atas mempunyai variasi susunan kata-kata yang berbeda, tergantung kepada siapa yang meriwayatkannya. Tampaknya kebolehan melakukan aborsi berawal dari kedua hadis ini. Sebagian fukaha dulu telah salah memandang ditiupkannya roh sebagai bermakna permulaan kehidupan. Karena perempuan hamil tidak merasakan gerakan sebelumnya, maka janin itu pastilah "belum hidup". Demikianlah data yang dikemukakan oleh embriologi pada zaman mereka. Hadis kedua dijadikan alasan membolehkan aborsi sebelum tujuh minggu masa kehamilan. Itulah waktu kunjungan malaikat yang diperkirakan dalam hadis tersebut, yaitu ketika janin berbentuk sesosok manusia.

Padahal di zaman kita sekarang ini, kita mengetahui bahwa janin sudah hidup sejak awal, tetapi karena ukuran dan anggota badannya kecil, serta banyaknya cairan dalam kantong amniotik di sekitarnya maka sang ibu belum bisa merasakan gerakan-gerakannya. Hadis kedua juga tidak dapat dijadikan alasan kebolehan aborsi sebelum usia tujuh minggu masa kehamilan karena proses pembentukan manusia berawal jauh sebelum itu. Hassan Hathout berpendapat bahwa fase kehidupan seorang manusia yang pantas dikualifikasikan sebagai permulaan kehidupan harus menggabungkan semua kriteria sebagai berikut.

1. Ia harus berupa suatu kejadian yang jelas dan memiliki batasan yang gamblang yang secara aktual bisa disebut sebagai awal-mula kehidupan.

2. Ia harus memperlihatkan ciri utama kehidupan awal, yakni "pertumbuhan".

3. Jika pertumbuhan itu tidak terhambat, secara alami ia akan menuju pada tahap-tahap kehidupan berikutnya seperti fetus, neonatus, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, sampai mati.

4. Ia mengandung gen-gen khas yang dimiliki ras manusia pada umumnya dan juga yang unik dimiliki oleh seorang individu tertentu yang tak ada orang lain benar-benar menyerupainya, sejak zaman azali hingga zaman azali lagi.

5. Ia tidak didahului oleh fase lainnya yang menggabungkan semua karakteristik sebelumnya dari nomor 1 sampai 4.

Dengan menerapkan kriteria termaktub, kehidupan manusia berawal dari berpadunya spermatozoa dengan ovum yang disebut pembuahan atau konsepsi guna membentuk zigot. Zigot inilah yang mengandung 46 kromosom, separuh dari ibu dan separuh lagi dari ayah. Sperma atau ovum yang tidak dibuahi tidak memenuhi kriteria ini sekalipun keduanya hidup karena sel sperma dan ovum hanya memiliki setengah jumlah kromosom manusia, yaitu 23 kromosom. Oleh karena itu, pernyataan Gadis Arivia dalam "Etika Feminis dan Aborsi" menjadi tidak relevan dan terlalu menyederhanakan masalah ketika dia membandingkan terkonsepsinya janin sudah menjadi manusia adalah sama dengan durian sebelum ditanam sudah menjadi pohon durian (Kompas, 8 Oktober 2001). Kehidupan seorang manusia -- kendati masih berbentuk janin -- jauh lebih kompleks dari sekadar biji durian.

Dengan sangat baik, George W. Corner mendeskripsikan, The fertilization of an egg by a sperm is one of the greatest wonders of nature, an event in which magnificently small fragments of animal life are driven by cosmic forces toward their appointed end, the growth of a living being. As a spectacle it can be compared only with an eclipse of the sun or the eruption of a volcano. It is, in fact, the most common and the nearest to us of nature's cataclysms, and yet it is very seldom observed because it occurs in a realm most people never see, the region of microscopic things (Williams Obstetrics, edisi ke-20, 1997, hlm. 96).

Imam al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengatakan, "Keberadaan (manusia) memiliki tahapan-tahapan. Tahapan pertama adalah penempatan air mani dalam rahim dan campurannya dengan telur wanita. Kemudian siaplah ia menerima kehidupan. Mengusiknya adalah suatu kejahatan. Ketika ia berkembang lebih lanjut dan menjadi suatu gumpalan, menggugurkannya adalah suatu kejahatan yang lebih besar." (Lihat Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Aborsi, Kontrasepsi, dan Mengatasi Kemandulan: Isu-Isu Biomedis dalam Perspektif Islam, Mizan, Bandung, 1977, hlm. 113). Apa yang dikatakan oleh al-Ghazali tampaknya sesuai dengan etika kedokteran yang menyatakan bahwa "dokter wajib menghormati kehidupan manusia sejak saat pembuahan" (Deklarasi Jenewa 1948). Pembuahan adalah suatu masa pertemuan antara ovum dan spermatozoa, dan itulah permulaan kehidupan yang tidak teramati, tetapi dapat dirasakan oleh ibu melalui perubahan fisiologis tubuhnya.

Al-Ghazali tampaknya cukup piawai merumuskan bahwa kehidupan janin mulai dalam dua fase, yaitu fase kehidupan tak teramati yang ditandai oleh pertumbuhan diam-diam dan tengah menyiapkan diri untuk menerima roh, yang kemudian disusul oleh kehidupan yang bisa diamati, yang mulai dengan dirasakannya fase cepatnya gerak pertumbuhan oleh sang ibu. Kedua fase ini harus dihormati dan tidak boleh dilanggar. Dengan demikian, pengguguran kandungan adalah suatu bentuk pembunuhan. Padahal, ajaran Islam pada dasarnya sangat menghargai kehidupan manusia. Al-Quran menyebutkan bahwa tindakan seseorang baik positif maupun negatif, berkenaan dengan kehidupan itu selalu mempunyai dampak yang lebih luas yang bisa dirasakan bukan hanya oleh individu pelaku tindakan itu sendiri karena dampak itu akan menyangkut keseluruhan kemanusiaan. Dengan demikian, menghabisi jiwa seseorang bagaikan mengakhiri kehidupan masyarakat dan memelihara jiwa seseorang bagaikan memelihara kehidupan manusia seluruhnya (Q.S. 5: 32).

Anak hasil perzinaan

Untuk menunjukkan betapa Islam sangat menghargai kesucian kehidupan, ada sebuah hadis yang menyebutkan sikap Rasulullah terhadap pengakuan perempuan yang berzina, "Seorang wanita dari Ghamid datang kepada Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku telah berzina. Hukumlah aku'. Tetapi Rasulullah menolaknya. Esok harinya, perempuan itu berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau menolakku? Mungkin engkau menampikku seperti engkau menampik Ma`iz. Demi Allah, aku telah hamil'. Nabi berkata, 'Baiklah jika kamu berkeras, maka pergilah sampai anak itu lahir'. Ketika wanita itu telah melahirkan, dia datang bersama anaknya (yang terbungkus) kain buruk, dan berkata, 'Inilah anak yang telah kulahirkan'. Nabi berkata, 'Pergilah, dan susuilah ia sampai engkau menyapihnya'. Ketika wanita itu sudah menyapih anaknya, dia kembali kepada Nabi dengan membawa anaknya yang sedang memegang sepotong roti. Wanita itu berkata, 'Nabi Allah, inilah dia. Aku telah menyapihnya dan dia memakan makanan biasa sekarang'. Nabi mempercayakan anak itu kepada salah seorang kaum Muslim dan kemudian menetapkan hukuman bagi wanita itu."

Berdasarkan hadis tersebut, para ulama mengatakan bahwa jika seorang perempuan melakukan kejahatan yang ganjarannya adalah hukuman mati, tetapi terbukti perempuan itu sedang hamil maka pelaksanaan hukuman itu harus ditunda sampai dia melahirkan bayinya dan menyempurnakan penyusuannya sampai bayi itu disapih. Inilah pengakuan yang jelas dan gamblang atas hak hidup janin. Ini pun berlaku bagi kehamilan yang terjadi di luar nikah karena janin yang terbentuk di luar ikatan perkawinan juga mempunyai hak hidup. "Setiap bayi dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan suci," demikian menurut sebuah hadis. Lebih-lebih bila kehamilan tersebut berasal dari perkawinan yang sah. Inilah sunah yang dijalankan oleh Nabi dan berlaku tanpa memperhatikan usia kehamilan. Tidak menjadi soal, apakah itu kehamilan dini atau telah mencapai usia empat puluh dua hari lebih. Aturan hukum ini juga sekaligus menjawab segala macam pertanyaan yang berkaitan dengan kewajiban kita untuk melindungi janin sejak awal usia kehamilan. (Lihat Hassan Hathout, Revolusi Seksual Perempuan: Obstetri dan Ginekologi dalam Pandangan Islam, Mizan, Bandung, 1994, hlm. 61-62). Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau Islam mensejajarkan hak janin dengan hak bayi yang telah lahir dalam pembagian harta peninggalan (waris).

Kapan aborsi dibolehkan?

Salah satu perdebatan sengit mengenai aborsi adalah pertanyaan, "Siapakah yang berhak atas nasib janin dalam kandungan: sang ibukah yang harus tunduk kepada hak janin untuk lahir, ataukah janin yang harus tunduk kepada ibu sebagai pemilik rahim yang mengandungnya?" Tampaknya hampir semua ulama fikih sepakat bahwa jika perempuan yang hamil menderita kondisi medis yang tidak cocok dengan kehamilan serta pandangan medis menyatakan bahwa kelangsungan kehamilan benar-benar bakal mengancam kehidupannya maka aborsi pun diperbolehkan. Fikih berpandangan bahwa ibu adalah akar dan janin adalah cabang. Jika kesehatan mereka berdua tidak bisa diselaraskan, janin mesti dikorbankan guna menyelamatkan nyawa sang ibu. Dalam Ushul Fiqih kita akan menemukan diktum yang menyebutkan, Adh-dharuratu tubihul mahdzurat (keadaan darurat membolehkan hal-hal terlarang), dan Idza ta`radhatul mafsadatani ru�iya a`dzamuhuma dhararan birtikabi akhaffihima (Jika dua keburukan menghadang, maka harus dihindari yang lebih berat bahayanya dengan menempuh yang lebih ringan). Konferensi Islam Rabat memperjelas hukum aborsi dengan menyatakan bahwa hanya ketika nyawa ibu terancam atau tiada harapan bagi kelangsungan kehidupan janin maka aborsi diizinkan. Islam sama sekali tidak memberi peluang kepada pertimbangan hak perempuan untuk menentukan nasib janinnya. Apalagi atas pertimbangan kesehatan yang tidak fatal yang dikehendaki oleh segelintir perempuan.

Akhirnya, semua persoalan yang menyangkut aborsi akan tetap menjadi semacam perdebatan yang tidak berujung-pangkal bila kita tidak menyepakati etika mengenai permulaan kehidupan. ***
Nina Surtiretna, mahasiswa PPDS-Anak Unpad dan dokter tetap di RS Muhammadiyah Bandung. Rachmat Taufiq Hidayat, Direktur Penerbit Kiblat Buku Utama, Bandung.
Sumber www.pikiran-rakyat.com

Thursday, May 3, 2007

Hari Pendidikan Nasional & Keprihatinan













Papinto Badut Prihatin Tentang "Education" oleh Lingkungan

Redi (8) tahun langsung misuh memaki dan mengeluarkan kata2 kotor yang tak pantas diucapkan oleh anak seusianya, ketika pesawatnya meledak terkena rudal pesawat induk musuh yang menembak dengan kecepatan tinggi. Reaksi syaraf motoriknya tak mampu melayani tembakan pesawat musuh yang disetting demikian tinggi. Ya, Redi berada didepan media hiburan Videogame yang dijalankan dengan 2 koin ratusan. Nampaknya itu permainan terakhirnya karena koinnya sudah habis. Sementara disebelahnya 3 orang anak berseragam SMP tertawa cekikikan sambil berusaha menelanjangi gambar wanita yang berpose hot yang terpampang di layar monitor dengan cara memenangkan Fightgame. Mengapa Redi begitu kasar? siapa yang mempengaruhinya? "pendidikan" kekasaran ini oleh siapa ? Lingkungan pergaulankah? TV kah? Playstation atau Videogamekah? yang jelas bukan didikan sekolah formalnya yang baru kelas 2 SD itu. Kemarin Hari Pendidikan Nasional, koran2 ramai memuat berita al: 75.000 anak2 Papua belum mampu bersekolah, Tukul Arwana diprotes siswa SD Muhammadiyah karena aksi tempel pipi kiri kanannya di TV, mahasiswa Unesa protes mahalnya pendidikan di bis kota dengan poster2 dan wajah badut.

BAHAYA TONTONAN KEKERASAN PADA ANAK

Ada dua umpan yang dilempar oleh produser agar film produksinya laku ditonton. Seksualitas dan kekerasan. Orang tua cenderung mencekal yang pertama, tapi jarang atau tidak sama sekali untuk yang kedua. Padahal "bahayanya" tak kalah seriusnya.

Ny. Lita Marfiandi terkejut melihat anaknya yang berumur delapan tahun melemparkan gelas dan piring. Apalagi tidak ada masalah dalam diri anaknya. Bahkan hal itu dilakukannya sambil tertawa senang. Ketika ditanya, anaknya dengan enteng menjawab, "Kayak Joshua di televisi." Yang dimaksud adalah ulah Joshua dalam sinetron Anak Ajaib.

Kasus anak Ny. Lita itu memunculkan kembali silang pendapat, benarkah tayangan televisi berpengaruh terhadap perilaku anak? Dalam lingkup yang lebih kecil, apakah tayangan kekerasan di televisi (juga game kekerasan) bisa memicu kebrutalan anak di kemudian hari? Masih ingat dengan kasus Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17), dua pelajar Columbine High School di Littleton Colorado, Amerika, yang menewaskan 11 rekannya dan seorang guru pada 20 April 1999? Dari keterangan temannya diperoleh, Dylan Klebold bisa berjam-jam main game yang tergolong penuh kekerasan seperti Doom, Quake, dan Redneck Rampage.

Sungguh sulit menjawab pertanyaan itu. Melihat jawaban anak Ny. Lita, jelas tayangan di televisi mempengaruhi perilakunya. "Tapi, itu 'kan hanya meniru?" kata Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis, pengajar di Fakultas Psikologi UI sambil menambahkan, fase anak-anak memang fase meniru. Tak heran bila anak-anak sering disebut imitator ulung. Lain persoalannya jika lemparannya ditujukan ke orang.

Ihwal kasus Harris dan Klebold, para peneliti berpendapat, video game menawarkan agresi lebih kuat pada anak-anak dibandingkan tontonan di TV, karena jauh lebih hidup dan bersifat interaktif. Bukan sekadar observasi seperti TV.

Pendapat Fawzia mendukung pernyataan itu, "Main game itu intens. Di sana ada target, entah menjatuhkan atau mematikan lawan. Jika (dilakukan) bertahun-tahun, tayangan itu bisa menjadi rangsangan untuk berbuat."

Apalagi analisis lanjutan menemukan, rasa minder Klebold dan Harris terhadap rekan-rekan yang berprestasi di bidang atletik mendorong mereka untuk menunjukkan kejantanan dengan bermain senjata.

Apa yang menarik anak?

Yang menjadi masalah, mengapa kekerasan menjadi menu pilihan yang ditayangkan di TV? Tak bisa dipungkiri, persaingan penyelenggara siaran di layar kaca dalam memperebutkan kue iklan yang makin terbatas sangatlah ketat. Demikian pula dengan pengiklanan suatu mata acara. Dengan durasi terbatas, kail yang dilemparkan ke pemirsa harus bisa menohok langsung ke benak.

Kalau rajin memperhatikan iklan cuplikan tayangan film, tentu unsur seks dan kekerasan itu besar porsinya. Apalagi dalam film laga yang memang menjual seputar kekerasan. Ambil contoh sinetron seri Jacklyn. Kekerasan digunakan dalam berbagai cara dalam promosi sebagai pengait untuk menarik pemirsa agar menonton program itu.

Seorang psikolog sosial mengamati, jenis film-film laga kepahlawanan (hero) selalu menarik perhatian dan disenangi anak-anak, termasuk balita, sehingga mereka tahan berjam-jam duduk di depan layar kaca. Diduga, selain menghibur, yang terutama bikin "kecanduan" ialah unsur thrill, suasana tegang saat menunggu adegan apa yang bakal terjadi kemudian. Tanpa itu, film cenderung datar dan membosankan.

Kekerasan yang ditayangkan di TV tak hanya muncul dalam film kartun, film lepas, serial, dan sinetron. Adegan kekerasan juga tampak pada hampir semua berita, khususnya berita kriminal. TV swasta di Indonesia terkadang lebih "kejam" dalam menggambarkan korban kekerasan, misalnya dengan ceceran darah atau meng-close up korban.

Jadi, orang tua jangan terkecoh dengan hanya menyensor adegan seksual, misalnya ciuman. Adegan kekerasan, mulai tembakan, tamparan pipi, jerit dan teriakan, darah, gebuk-gebukan perlu juga disensor.

Jadi agresor dan tak pedulian

Di Indonesia belum ada penelitian mengenai pengaruh tayangan kekerasan terhadap perilaku anak. Ini tentu membuat semakin sulit untuk mengatakan bahwa tayangan televisi berpengaruh terhadap perilaku anak. Sementara, meski masih simpang siur, peneliti di luar sudah menyimpulkan ada korelasi - untuk tidak menyebut penyebab - antara tayangan kekerasan dengan perilaku anak. Sebuah survai pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 - 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.

Hasil penelitian Dr. Brandon Centerwall dari Universitas Washington memperkuat survai itu. Ia mencari hubungan statistik antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan dengan masuknya TV di tiga negara (Kanada, Amerika, dan Afrika Selatan). Fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama, kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan yang sejajar. Di Afrika Selatan, siaran TV baru diizinkan tahun 1975. Penelitian Centerwall dari 1975 - 1983 menunjukkan, tingkat pembunuhan di antara kulit putih meningkat 130%. Padahal antara 1945 - 1974, tingkat pembunuhan justru menurun (Kompas, 20-3-1995).

Centerwall kemudian menjelaskan, TV tidak langsung berdampak pada orang-orang dewasa pelaku pembunuhan, tetapi pengaruhnya sedikit demi sedikit tertanam pada si pelaku sejak mereka masih anak-anak. Dengan begitu ada tiga tahap kekerasan yang terekam dalam penelitian: awalnya meningkatnya kekerasan di antara anak-anak, beberapa tahun kemudian meningkatnya kekerasan di antara remaja, dan pada tahun-tahun akhir penelitian di mana taraf kejahatan meningkat secara berarti yakni kejahatan pembunuhan oleh orang dewasa.

Penemuan ini sejalan dengan hasil penelitian Lembaga Kesehatan Mental Nasional Amerika yang dilakukan dalam skala besar selama sepuluh tahun. "Kekerasan dalam program televisi menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak dan remaja yang menonton program tersebut," demikian simpulnya. Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat; kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain; ketiga, dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain; keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Nonton untuk pelarian

Tapi, benarkah agresivitas anak-anak terjadi hanya karena tayangan kekerasan di layar kaca? "Pada dasarnya setiap manusia itu mempunyai sifat agresif sejak lahir," ungkap Fawzia. Sifat ini berguna dalam bertahan hidup. Tanpa agresivitas, anak tidak akan bereaksi jika mendapat rangsangan yang mengancamnya. Tetapi, tanpa pengarahan yang baik, sifat itu bisa merusak.
Ada yang melihat, proses dari sekadar tontonan sampai menjadi perilaku perlu waktu yang cukup panjang. Namun, yang merepotkan bila tontonan kekerasan jadi suguhan sehari-hari, sehingga menjadi hal yang biasa, apalagi lingkungan sekitar juga mendukung.

Menurut psikolog dari Universitas Stanford, Albert Bandura, respons agresif bukan turunan, tetapi terbentuk dari pengalaman. Ada permainan yang dapat memicu agresi. "Orang belajar tidak menyukai dan menyerang tipe individu tertentu melalui pengalaman atau pertemuan langsung yang tidak menyenangkan."

Bayangkan, bila dalam sehari disuguhkan 127 adegan kekerasan, berapa yang akan diterima dalam seminggu, sebulan, atau setahun? Mungkinkah akhirnya si anak merasa, memang "tidak apa-apa" memukul dan menganiaya orang lain?

Hasil survai berikut bisa memberikan gambaran. Rata-rata orang Amerika menonton TV selama 25 - 30 jam per minggu. Dalam penelitian yang melibatkan 100.000 orang sebagai subjek disimpulkan, ada bukti kuat hubungan antara perilaku agresif dan melihat tayangan TV yang bermuatan kekerasan dalam waktu lama (ekstensif).

Banyak anak begitu betah menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. "Menurut mereka, televisi adalah cara terbaik untuk menyingkirkan perasaan tertekan, atau untuk mencoba lari dari perasaan itu," kata Mark I Singer, guru besar di Mandel School of Applied Social Sciences yang meneliti 2.244 anak sekolah yang berumur 8 - 14 tahun di Northeast Ohio, AS.

Malah menurut majalah TV Guide, sekitar 70% anak yang menonton TV menyatakan, nonton TV hanya sebagai pelarian. Hanya 1 dari 10 pemirsa yang mengatakan TV untuk olah intelektual.

Padahal, penelitian menunjukkan, menonton TV berjam-jam secara pasif justru meningkatkan level trauma kejiwaan. "Kegiatan nonton TV berjam-jam tidak menghilangkan rasa tertekan, tapi membuatnya makin parah," tambah Singer.

Rupanya, ada hubungan antara pilihan program dengan tingkat kemarahan atau agresi. "Anak laki-laki atau perempuan yang memilih program TV dengan banyak aksi dan perkelahian - atau program kekerasan tinggi, memiliki nilai kemarahan yang tinggi dibandingkan anak lainnya. Mereka juga dilaporkan lebih banyak menyerang anak lain," ujar Singer.

Yang menarik, ada hubungan nyata antara kebiasaan menonton TV dengan tingkatan pengawasan orang tua. Pengawasan itu berupa pengenalan orang tua akan teman-teman sang anak, di mana mereka berada sepanjang hari. Selain itu, apakah orang tua juga menetapkan dan menjalankan peraturan pembatasan waktu bermain di luar rumah atau nonton TV.

Anak yang tidak diawasi dengan ketat akan menonton TV lebih banyak dibandingkan anak-anak yang lain. Kelompok ini lebih banyak menonton program aksi dan perkelahian atau video musik. "Sebanyak 58% anak perempuan yang kurang diawasi, lebih memilih program TV berbau kekerasan atau video musik," ungkap Singer.

Singer juga melaporkan, hampir separuh kelompok anak perempuan dengan tingkat kemarahan tinggi punya pikiran untuk bunuh diri. Sedangkan pada kelompok anak laki-laki tipe yang sama merasa takut akan ada orang yang membunuh mereka.

Apalagi menurut Aletha Huston, Ph.D. dari University of Kansas, "Anak-anak yang menonton kekerasan di TV lebih mudah dan lebih sering memukul teman-temannya, tak mematuhi aturan kelas, membiarkan tugasnya tidak selesai, dan lebih tidak sabar dibandingkan dengan anak yang tidak menonton kekerasan di TV."

Toh tidak semua pihak setuju dengan pendapat bahwa kekerasan di TV berakibat langsung pada perilaku. Satu kajian oleh para ahli ilmu jiwa Inggris menyebutkan, tak ada kaitan langsung antara kekerasan di TV dengan perilaku anak.

Namun, ada syarat yang harus dipenuhi. "Tak ada yang lebih baik daripada keluarga yang hangat, sekolah yang bermutu, dan masyarakat yang peduli," tutur ahli perilaku Tony Charlton, yang memimpin kajian itu. "Kalau tiga aspek itu terpenuhi, tak ada masalah dengan kekerasan yang ditonton."

Film laga harus pula dilihat dari aspek positifnya, yaitu bahwa anak membutuhkan figur pahlawan, jagoan, dan heroisme. Di sinilah peran orang tua untuk mengajaknya menarik garis perbedaan antara dunia nyata dan film. Seperti yang dikatakan Madeline Levine, Ph.D., psikolog di Marin County, Kalifornia, "Pada umur sembilan tahun anak baru bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi."

Majalah Time (12-1-1998) juga memaparkan hasil sebaliknya. Selama tiga tahun peneliti Inggris, Tony Charlton, memantau perilaku 859 anak di pulau terpencil Saint Helena, Atlantik. Ia menemukan, tidak ada perubahan perilaku pada mereka yang menonton TV dari berbagai belahan dunia yang diterima melalui satelit. Tapi jangan-jangan, Charlton tidak memperhatikan populasi penduduk yang hanya 5.600 orang dan letaknya yang terpencil itu?

Orang tua contoh model anak

Dari berbagai kemungkinan masalah yang bisa timbul, tentu peran orang tua tidak bisa diabaikan. Sikap orang tua terhadap TV akan mempengaruhi perilaku anak. Maka sebaiknya orang tua lebih dulu membuat batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya, di kala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton TV. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin, artinya Anda bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh, anak akan tahu ada banyak cara beraktivitas selain menonton TV.

Usahakan TV hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya, umumnya anak-anak senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun bersama orang tuanya.

Hal penting kedua adalah mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara TV yang ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton TV hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan. Ia menonton hanya bila perlu. Untuk itu video kaset bisa berguna, rekam acara yang Anda sukai lalu tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena anak hanya menyaksikan apa yang ada di rekaman itu.

Masalah jenis program yang ditonton sangat penting dipertimbangkan sebab itu menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan - seperti pacaran, rayuan - yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan "saru".

Masalah bahasa pun perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru. Orang tua bisa menjelaskannya sebagai ungkapan untuk keadaan khusus, terutama di TV untuk mencapai efek tertentu.

Dua jam sudah cukup

Kapan dan berapa lama anak boleh menonton TV, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari.

Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jane Murphy dan Karen Tucker - produser acara TV anak-anak dan penulis - sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game. Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak.

Memberikan batasan apa, kapan, dan seberapa banyak menonton acara TV juga akan mengajarkan pada anak bahwa mereka harus memilih (acara yang paling digemari), menghargai waktu dan pilihan, serta menjaga keseimbangan kebutuhan mereka.

Agar sasaran tercapai, disiplin dan pengawasan orang tua mutlak diperlukan. Sayangnya, unsur pengawasan ini yang sering jadi titik lemah orang tua yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor. "Untuk itu, orang tua memang dituntut untuk cerewet. Tidak apa-apa agak cerewet, demi kebaikan anak-anak," ujar Fawzia.

Kekerasan memang sulit dipisahkan dari industri hiburan. Sama sulitnya jika harus mencari siapa yang harus disalahkan terhadap masuknya tayangan kekerasan dalam industri hiburan. Kita akan terjebak dalam lingkaran setan antara produser, pengelola TV, sutradara, pengiklan, maupun penonton sendiri. Sementara menangkap setannya lebih sulit, tindakan yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan pengaruh tersebut, khususnya terhadap anak-anak. Kuncinya, mulai dari lingkungan keluarga. (Yds. Agus Surono/Shinta Teviningrum)