<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518</id><updated>2012-02-16T14:51:30.180-08:00</updated><category term='storytelling'/><title type='text'>Kidworld Around Me (PapintoWorld)</title><subtitle type='html'>Kisahku bersama anak-anak, siapapun dia, dimanapun mereka berada...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-2862825611991371087</id><published>2007-10-10T03:07:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T03:22:56.844-07:00</updated><title type='text'>Dongeng Ngabuburit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rwyliq6qroI/AAAAAAAAAKI/z5ZdDfzpoNo/s1600-h/lay2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rwyliq6qroI/AAAAAAAAAKI/z5ZdDfzpoNo/s400/lay2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119648891467902594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Papinto mendongeng ngabuburit di Masjid Baitul Arqom.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bulan puasa ini aku mencoba mendekati anak2 yang suka ngaji di Masjid dengan dongeng 10 menit sebelum buka puasa, alhasil ternyata mereka cukup antusias mendengarkan dongenganku. Puncaknya aku dipanggil untuk mendongeng selama kl 1 jam di depan anak2 Taman Baca Al-qur'an Bitul Arqom - Kedurus Dukuh Surabaya yang masih terbilang lingkunganku. Panitia minta dongengan yang berhubungan dengan hari Nuzulul Qur'an. Jadilah aku mendongeng di depan kl 50 anak2 usia TK-SD itu. Kiashnya kumulai ketika Si Johan malas sekolah dan ngaji dan sukanya cuma main layang2, sampai suatu ketika si Johan pengen pergi ke bulan dengan membuat layang2 sendiri...akhirnya bisa ditebak si Johan gagal pergi ke bulan sebab tak mungkin pergi kesana tanpa persiapan apapun apalagi dengan cuma sebuah layang2. Akhirnya si Johan sadar bahwa untuk bisa pergi  ke bulan harus dengan  peralatan pendukung mis. baju astronot  hal ini sesuai nasehat sahabat Raja Sulaiman ...Sang Angin yang membantu menerbangkan Si Johan ke angkasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="98%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="70%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hudzaifah.org/Category21-All.phtml"&gt;Tips dan Trik&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td align="right" width="30%"&gt;&lt;span class="pn-sub"&gt;&lt;a class="pn-normal" href="http://www.hudzaifah.org/PrintArticle409.phtml"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2"&gt;         &lt;span class="judulnaskah"&gt;&lt;a href="http://www.hudzaifah.org/Article409.phtml"&gt;10 Langkah Mengisi Ramadhan Bersama Anak&lt;/a&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="tanggalnaskah" valign="top"&gt;     &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;    &lt;!-- [article-edit-del] --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td colspan="2" class="bodynaskah" valign="top"&gt;       &lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Hudzaifah.org - &lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi' binti Mu'awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhon): "...dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka." (HR. Bukhari Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi? Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;1. Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah, sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa. Dibuat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;3. Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;4. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan dipinggir jalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;5. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainanya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;6. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;7. Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi diatas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. "Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa". Anak akan senang karena sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;8. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternatif permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al Quran diturunkan pertama kali pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;9. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;10. Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa. Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua yang telah mendidik mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Romadhon akan turun ke setiap keluarga muslim.[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Disusun oleh: Penerbit BINA MITRA&lt;/span&gt;      &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-2862825611991371087?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/2862825611991371087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=2862825611991371087' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/2862825611991371087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/2862825611991371087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/10/dongeng-ngabuburit.html' title='Dongeng Ngabuburit'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rwyliq6qroI/AAAAAAAAAKI/z5ZdDfzpoNo/s72-c/lay2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-2376014761341692706</id><published>2007-09-12T21:08:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T22:50:18.840-07:00</updated><title type='text'>Lingkungan Hidup Kita dan Anak2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RujNFeYEWkI/AAAAAAAAAKA/VBetMlHrBGk/s1600-h/mercury_minamata.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RujNFeYEWkI/AAAAAAAAAKA/VBetMlHrBGk/s400/mercury_minamata.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5109559271188879938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kasus Pencemaran Mercury di Teluk Minamata - Japan 1972&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian ratus tahun sejak revolusi indiustri di Inggris menngulirkan kemirisan akan ketakutan umat manusia pada penggunaan mesin2 industri untuk mengeksploitasi alam. Mulai dari daratan, bukit, gunung hingga lautan habis tergerus oleh mesin2 rakus pengganti tenaga kerja umat manusia itu. Kita di Indonesia tak luput dari membudayanya eksploitasi&lt;br /&gt;sumber daya alam dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;Pencemaran industri menjadi kian tren sejalan dengan upaya orde baru untuk mensukseskan program lima tahunannya, sungai2 di Jawa khususnya tek terlepas dari gejala pencemaran oleh industri ini yang ditandai dengan menghilangnya komunitas jenis2 ikan tertentu. Anak2 pun kini takut kembali masuk air mandi di sungai oleh karena kentalnya kadar pencemaan ini, Akankah ini bisa diakhiri dengan kontrol yang ketat oleh peraturan pemerintah dan penegakkan akibat hukumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;MENYELAMATKAN GENERASI YANG AKAN DATANG DENGAN MENYELAMATKAN LINGKUNGAN HIDUP&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Anak merupakan masa depan bangsa, demikian yang sering dikatakan oleh banyak orang tentang pentingnya memperhatikan nasib anak-anak, terutama balita. Namun fakta menunjukkan bahwa kenyataan tidaklah seindah yang apa yang sering didengung-dengungkan orang. Nasib jutaan anak-anak, terutama di banyak negara berkembang dan miskin masih sering diabaikan. Menurut WHO (The World Health Organization), setiap tahunnya, 3 juta anak balita meninggal dunia akibat kerusakan lingkungan hidup. Di tahun 2000, tidak kurang dari 1,3 juta anak balita di negara-negara berkembang meninggal dunia akibat penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi air yang tidak sehat, serta buruknya kondisi sanitasi dan kesehatan pribadi. Ratusan ribu anak balita di seluruh dunia meninggal dunia akibat gangguan dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang disebabkan oleh pencemaran udara di dalam ruangan serta akibat lingkungan hidup yang tidak sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan WHO di tahun 2002 menunjukkan bahwa anak-anak di seluruh dunia merupakan korban terbesar dari kerusakan lingkungan hidup. WHO juga menyebutkan bahwa hampir sepertiga beban penyakit yang ada di dunia ini disebabkan oleh kerusakan lingkungan hidup. Dan lebih dari 40% dari beban tersebut harus ditanggung oleh anak balita, yang nota bene jumlahnya hanya 10% dari total populasi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman terhadap keberlangsungan hidup anak berasal dari air yang tidak sehat, udara yang tercemar, pencemaran bahan-bahan kimia berbahaya, serta kerusakan lingkungan alam. Buruknya kondisi sanitasi, pencemaran lingkungan serta pola pembangunan yang eksploitatif dan tidak memperhitungkan faktor keberlanjutan telah berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan fisik maupun mental anak-anak di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruknya kondisi sanitasi terutama di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi menimbulkan permasalahan kontaminasi sumber-sumber air oleh bakteri coliform yang berasal dari tinja. Di beberapa sungai besar yang terdapat di wilayah Asia, kontaminasi bakteri faecal coliform lebih tinggi 50 kali dari standar yang ditetapkan oleh WHO. Kurang lebih sepertiga populasi dunia saat ini menghadapi kelangkaan air dan hampir di seluruh tempat di muka bumi ini mengalami penurunan tinggi muka air tanah (water table). Hal ini diakibatkan oleh perubahan kondisi ekologis dan modifikasi ekosistem. Pembalakan hutan, perubahan peruntukan daerah resapan air menjadi wilayah komersial telah mengakibatkan pula degradasi kuantitas air. Hal ini tidak memungkinkan terjaganya kondisi sanitasi yang lebih lanjut menyebabkan timbulnya penyakit pada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang terkontaminasi menyebabkan penyakit yang dapat mematikan bagi anak. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan infeksi saluran pencernaan menyebabkan anemia, pertumbuhan yang lambat dan kematian pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak negara berkembang, kelangkaan air telah menyebabkan anak dan perempuan menghabiskan banyak waktu mereka untuk mencari air untuk kebutuhan sehari-hari. Seringkali sumber air tersebut jauh dari tempat tinggal mereka ataupun mereka terpaksa mengambil air dari sumber-sumber yang tidak layak. Hal ini juga telah menyebabkan banyak anak perempuan tidak dapat mengikuti pendidikan sebagaimana layaknya anak seumur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lain pencemaran lingkungan adalah tingginya tingkat produksi dan pemakaian bahan-bahan kimia berbahaya dan beracun. Saat ini tidak kurang dari 100.000 jenis bahan kimia sintetis telah diproduksi secara komersial. Banyak diantara bahan kimia ini yang belum diketahui bahayanya, hanya sebagian kecil saja yang telah diteliti dan diketahui potensi dampaknya baik terhadap tubuh manusia maupun lingkungan hidup. Cepatnya laju industrialisasi, urbanisasi dan intensifikasi pertanian turut berkontribusi terhadap tingginya tingkat pencemaran lingkungan hidup akibat bahan-bahan kimia. Timbal, pestisida serta bahan kimia berbahaya dan beracun lainnya bersifat menetap di alam (tidak terdegradasi secara alamiah) dan dapat terakumulasi di jaringan tubuh makhluk hidup dan menimbulkan efek terhadap kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontaminasi bahan kimia berbahaya pada anak-anak dimulai sejak dia berada dalam kandungan dan ketika bayi melalui air susu ibu yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya akibat akumulasi bahan kimia tersebut di tubuh sang ibu. Kontaminasi timbal –yang diantaranya berasal dari gas buang kendaraan bermotor—pada ibu hamil dapat menyebabkan kelahiran prematur, kelahiran cacat, bahkan kematian janin. Kontaminasi timbal pada anak, terutama balita, mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental, dan lebih jauh dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya terjadi 50.000 kematian prematur dan terdapat 400.000 kasus bronkhitis baru di 11 kota di wilayah Asia Timur yang diakibatkan oleh pencemaran udara. Enam puluh persen kematian akibat penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) menimpa anak-anak di bawah umur 15 tahun, terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan sedang. Secara global, ini setara dengan 2 juta kematian anak dan menempati urutan kedua penyebab utama penyakit pada anak balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak merupakan masa depan bangsa, begitu mudah hal ini diucapkan. Kenyataan sampai saat ini masih membuktikan bahwa pola pembangunan masih meminggirkan aspek keadilan, baik intra-generasi maupun inter-generasi. Pembangunan berkelanjutan yang menyatakan bahwa pembangunan seharusnya tidak mengkompromikan kebutuhan generasi yang akan datang masih sebatas pada slogan. Pembangunan masih menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai panglima dengan pola-pola ekstraksi alam secara habis-habisan demi meraup keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala hal dihalalkan untuk mencapai tujuan pembangunan yang hanya bermanfaat bagi segelintir orang. Kekerasan, penggusuran, kriminalisasi dilakukan secara telanjang oleh pihak-pihak yang seharusnya memberi perlindungan pada rakyat, pemegang kedaulatan yang sah, atas nama pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 23 tahun perjalanannya, telah banyak yang dilakukan oleh WALHI, namun banyak tantangan masih menunggu di depan. Upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan keberlanjutan sumber-sumber kehidupan masih harus menempuh jalan yang panjang dan tantangan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari jadinya yang ke-23, WALHI mengajak seluruh pihak yang masih peduli kepada keberlanjutan kehidupan dan sumber-sumber kehidupan untuk menyatukan langkah dan menggalang solidaritas bersama untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dibutuhkan suatu gerakan yang kuat dan masif untuk mengkoreksi arah pembangunan yang selama ini selalu meminggirkan rakyat dan lingkungan hidup serta keberlanjutan kehidupan generasi yang akan datang untuk bisa hidup secara layak dan bermartabat. Dibutuhkan segenap daya dan upaya dari setiap pihak yang masih peduli untuk saling bahu membahu meluruskan kembali arah reformasi dan mencegah kembalinya rejim otoriter yang menyengsarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari jadinya yang ke-23, WALHI menyatakan diri sebagai organisasi publik yang terbuka. WALHI mengajak semua pihak yang masih peduli akan nilai-nilai keadilan dan kelestarian untuk membangun gerakan bersama yang didasarkan atas prinsip-prinsip solidaritas universal, baik intra-generasi maupun antar-generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda adalah gerakan ini!&lt;br /&gt;Jakarta, 15 Oktober 2003&lt;br /&gt;Sumber : Rully Syumanda, http://rullysyumanda.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-2376014761341692706?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/2376014761341692706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=2376014761341692706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/2376014761341692706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/2376014761341692706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/09/menyelamatkan-generasi-yang-akan-datang.html' title='Lingkungan Hidup Kita dan Anak2'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RujNFeYEWkI/AAAAAAAAAKA/VBetMlHrBGk/s72-c/mercury_minamata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-6219536661633760754</id><published>2007-08-30T23:23:00.001-07:00</published><updated>2007-09-01T23:46:08.807-07:00</updated><title type='text'>M E R D E K A....! - 62 KALI -M E R D E K A ...!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte4g3B9NwI/AAAAAAAAAJo/TDqIIPWUlI4/s1600-h/Pinang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte4g3B9NwI/AAAAAAAAAJo/TDqIIPWUlI4/s400/Pinang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104751577315227394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;62 kali kami panjat pohon nasib kami...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Nyatanya masih licin dan sulit terkendali...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte4QHB9NvI/AAAAAAAAAJg/acJRmEPOAsQ/s1600-h/6a00c225204cb8604a00c22528aabf8fdb-320pi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte4QHB9NvI/AAAAAAAAAJg/acJRmEPOAsQ/s400/6a00c225204cb8604a00c22528aabf8fdb-320pi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104751289552418546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;62 kali kami tadahkan tangan memohon uluran sesuap nasib kami...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Nyatanya kami masih dapatkan cuma setali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte2wXB9NuI/AAAAAAAAAJY/xNeZ8yNK0Po/s1600-h/01P8190127.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 334px; height: 234px;" src="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte2wXB9NuI/AAAAAAAAAJY/xNeZ8yNK0Po/s400/01P8190127.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104749644579944162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;62 kali kami baris berbaris...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Nyatanya kami cuma dapat secawan bubur roti ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte2i3B9NtI/AAAAAAAAAJQ/22qfT1fdFrg/s1600-h/sigit1708.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte2i3B9NtI/AAAAAAAAAJQ/22qfT1fdFrg/s400/sigit1708.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104749412651710162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Om Papinto...! aku baru  4 kali lho...belum 62 kali...he..he..he..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte1vHB9NsI/AAAAAAAAAJI/nPLLfPGfeJU/s1600-h/anak_jalanan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 353px; height: 250px;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte1vHB9NsI/AAAAAAAAAJI/nPLLfPGfeJU/s400/anak_jalanan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104748523593479874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;62 kali kami menadahkan tangan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Nyatanya cuma sekali dapat uang... setali lagi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte1ZHB9NrI/AAAAAAAAAJA/1swy1-q8KO4/s1600-h/03C-box+jelang+17-an.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte1ZHB9NrI/AAAAAAAAAJA/1swy1-q8KO4/s400/03C-box+jelang+17-an.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104748145636357810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;62 kali kami rayakan sederhana kemerdekaan ini bersama teman di kampung...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte0_3B9NqI/AAAAAAAAAI4/pyiuJ4aV0Vs/s1600-h/drumband.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte0_3B9NqI/AAAAAAAAAI4/pyiuJ4aV0Vs/s400/drumband.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5104747711844660898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-6219536661633760754?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/6219536661633760754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=6219536661633760754' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/6219536661633760754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/6219536661633760754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/08/m-e-r-d-e-k-62-kali-m-e-r-d-e-k.html' title='M E R D E K A....! - 62 KALI -M E R D E K A ...!'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rte4g3B9NwI/AAAAAAAAAJo/TDqIIPWUlI4/s72-c/Pinang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-1805565037188586459</id><published>2007-07-11T07:29:00.000-07:00</published><updated>2007-09-01T23:48:40.702-07:00</updated><title type='text'>Bertemu Raksasa Keuangan &amp; Periklanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RtpcjnB9NyI/AAAAAAAAAJ4/P5tv6FNA6E8/s1600-h/link_prod_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 237px; height: 108px;" src="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RtpcjnB9NyI/AAAAAAAAAJ4/P5tv6FNA6E8/s400/link_prod_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105494894420244258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Papinto Badut Mendongeng berbasis teater Monoplay di Plasa untuk "Untung Beliung BRITAMA" BRI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Wah gw dapet proyek nih....ndongeng 9 hari berturut turut di acara pemasaran produk "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untung&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beliung Britama&lt;/span&gt;" Bank Rakyat Indonesia di Royal Plaza Surabaya. Malem itu selagi asyik nonton acara 4mata, tiba2 phoneku berdering Papinto...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;berapa fee untuk mendongeng 9 kali&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;berturut turut?&lt;/span&gt; tanya Kak Henoch kolegaku. Setelah basa basi sejenak kusebutkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;...sekian&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;juta, berani? &lt;/span&gt;ok, katanya besok kukabari. Benar, esok harinya angkaku diterima tanpa ditawar. Ini rejeki bulan Juli nampaknya...thanks God! Mendongeng dengan membawa pesan buat anak2 untuk "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;giat menabung&lt;/span&gt;", ceritanya macem macem...heran juga aku bisa lancar ngarang cerita dan membawakannya hanya dengan latihan sendiri di kamar. Sengaja aku menutup kamar untuk latihan berimajinasi dan berekspresi khususnya bila akan membawakan cerita baru. Cerita yang kubawakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kisah Raja Sulaiman bersama Semut, lebah, kucing, tikus, angin, hujan, hutan, banjir, padi, si Nyoman, Si Kevin, Si Umar&lt;/span&gt; dll. Semua cerita ini kusisipi pesan "giat menabung" dan kuis2 tentang seputar dunia bank dan hewan2. Anak2 antusias menyambutnya bahkan kadang mereka larut dalam dongenganku...ya mereka ikut berlarian mengejar aku... ikut naik ke punggung Angin - sahabat Raja Sulaiman - terbang menuju angkasa...terbang menuju pulau kesejahteraan ...ke pulau impan dunia maya nan indah. Pada hari ke-6, Papinto berkesempatan bertemu dengan anak2 MATARI ADV. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;salah satu raksasa bisnis periklanan dari Jakarta yang kiprahnya selama ini hanya bisa kubaca di majalah bisnis&lt;/span&gt;). MATARI bertugas sebagai Event Organizer dalam mengorganisasikan kegiatan lapangan program berkelanjutan Untung Beliung Britama, wah mereka rata2 relatif masih muda..energik lagi, semua masih dibawah 25 tahun, thanks ya..Abang2 en None2!. Terima kasih BRI.. terima kasih Untung Beliung Britama, semoga kemunculan sebagaian sosokmu yang "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nge-progressive&lt;/span&gt;" dengan Untung Beliung ini, tidak menguburkan sosok tinggalan Belandamu yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;konservative&lt;/span&gt; dalam berbisnis di kantung2 konsentrasi ekonomi di daerah pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table style="width: 435px; height: 2890px;" align="center" bgcolor="black" cellpadding="4" cellspacing="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="color: rgb(204, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;td bgcolor="white"&gt;&lt;b&gt;Annida Online&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rubrik : Psikologi Anak&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="color: rgb(204, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;td bgcolor="white"&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 18 Januari 05 - by : &lt;a href="http://www.ummigroup.co.id/?pilih=pesan&amp;id=27"&gt;admin&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;td bgcolor="white"&gt;&lt;blockquote&gt;Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan beberapa ahli tentang gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peran orangtua dan guru&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreativitas. Rasa tanggung jawab dan kreativitas dapat ditumbuhkan sedini mungkin sejak anak mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, peran lingkungan, semisal guru-guru, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak. Mereka bisa berperan dalam membuat anak agar bisa menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu, guru harus kreatif mengajar dan membuat soal. â€œBerikan kesempatan untuk berpikir alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, jangan bertanya 5X5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25,â€ kata Zainun Muâ€™tadin, S.Psi, M.Psi, Dosen Psikologi UPI YAI.&lt;br /&gt;Dengan kreativitas orangtua dan guru, anak dilatih memiliki beberapa alternatif jawaban dan solusi. Alternatif tersebut akan melatih anak mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, menurut Zainun, hal-hal tersebut di sekolah kurang mendapat perhatian. Kebanyakan sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kreativitas masih kurang dikembangkan.&lt;br /&gt;Padahal pengembangan kreativitas akan membuat anak mampu menciptakan hal-hal baru. Kreativitas inilah modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Sisi positif lain dari pengembangan sikap ini adalah terbangunnya rasa tanggung jawab pada semua hal yang dilakukan. Menurut Zainun, bila banyak orang di Indonesia memiliki jiwa enterpreunership, maka jumlah koruptor juga akan sedikit. â€œBila kelak anak tersebut dewasa dan mengambil kredit di bank, ia akan bertanggungjawab mengembalikan dan tidak akan kabur,â€ kata psikolog yang menamatkan studinya di UI ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Latihan bertahap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menumbuhan sifat wirausaha pada diri anak memerlukan latihan bertahap. Latihan wirausaha ini bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, toilet training untuk melatih anak yang masih ngompol. Tujuan akhirnya sampai anak mampu membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya. Latihan itu dilakukan secara bertahap dan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan lain, misalnya melatih anak untuk dapat membereskan mainan selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya. Hal ini juga merupakan latihan untuk bertanggungjawab dan awal pengajaran tentang kepemilikan. Ini mainan saya diletakkan di sini. Ini mainan kakak, kalau mau pinjam, harus ijin dulu. Sifat tersebut, menurut Zainun, adalah awal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengajarkan anak mengelola uang, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua terhadap aturan. Misalnya, saat mengajak anak berbelanja. Catat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak belanja di luar catatan belanja. Bila anak mengamuk meminta mainan atau barang kebutuhan lain di luar catatan, maka orangtua harus konsisten untuk membelikannya. Aturan itu harus sudah disepakati sejak awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan seperti ini sudah dapat dilakukan sejak anak berusia dua tahun. â€œJangan anggap anak tidak mengerti apa-apa dengan mengatakan â€˜Ah, masih anak kecilâ€™. Padahal sejak kecil pun anak sudah mampu berkomunikasi,â€ tutur ayah satu orang putra ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bisnis kecil-kecilan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak diajarkan mengelola uang, tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli.&lt;br /&gt;Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, anak bisa diajarkan menjual barang hasil karyanya, saperti es mambo, kue, dan lain-lain. â€œIni tidak disarankan untuk dilatihkan, tapi sebenarnya bisa,â€ ujar Zainun. Syaratnya, tahapan ini bisa dijalankan bila orangtua sudah mengajarkan cara mengelola uang terlebih dahulu. Sehingga anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik. Dengan demikian uang yang mereka dapat tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang dipakai oleh David Owen, seorang penulis buku di Amerika Serikat, agaknya layak ditiru. Owen mengisahkan tentang bagaimana ia mampu mendorong anak-anaknya menjadi gemar menabung dan penuh perhitungan dalam membelanjakan uang. Ia membuat â€œBank Ayahâ€, khusus untuk anak-anaknya. Prinsip yang dikembangkan dalam "Bank Ayah" adalah pemberian tanggungjawab dan kontrol keuangan secara penuh pada anak sebagai pengelola uang mereka sendiri. Uang anak adalah milik anak, bukan milik orang tua. Bahkan anak juga bebas mencari pendapatan di luar jatah uang saku yang telah mereka dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini "Bank Ayah" berperan dalam melakukan kontrol secara tidak langsung, yaitu dengan mengembangkan prinsip-prinsip perbankan seperti bonus yang dapat menarik minat akan untuk menambah saldo tabungan, juga saldo minimal, yang dapat membatasi jumlah pengambilan uang agar tidak terkuras habis. Dengan ini anak akan benar-benar bertanggungjawab dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bank Ayah" ala David Owen ini tidak cuma menjadi daya tarik anak untuk menabung. Lebih dari itu "Bank Ayah" dikelola sebagai sarana pembelajaran dari praktik ekonomi kepada anak dengan bahasa yang sederhana. Dengan sedikit improvisasi, Owen mengubah "Bank Ayah" ini menjadi media latihan berinvestasi pada anak-anaknya. Owen sendiri berhasil mendirikan sebuah perusahaan pialang saham yang bernama "Dad and Coâ€.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sejak dini jiwa wirausaha baik untuk ditanamkan. Inti dari kewirausahaan adalah bagaimana menanamkan cara untuk berusaha, memecahkan permasalahan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan. Sangat positif, bukan?&lt;br /&gt;(Sarah Handayani/Bahan :Ami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td bgcolor="white"&gt;Annida Online : &lt;a href="http://www.ummigroup.co.id/"&gt;http://www.ummigroup.co.id/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Versi Online : &lt;a href="http://www.ummigroup.co.id//?pilih=lihat&amp;amp;id=27"&gt;http://www.ummigroup.co.id//?pilih=lihat&amp;amp;id=27&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-1805565037188586459?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/1805565037188586459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=1805565037188586459' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/1805565037188586459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/1805565037188586459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/07/bertemu-raksasa-keuangan-periklanan.html' title='Bertemu Raksasa Keuangan &amp; Periklanan'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RtpcjnB9NyI/AAAAAAAAAJ4/P5tv6FNA6E8/s72-c/link_prod_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-992028560203422661</id><published>2007-07-09T14:06:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T16:00:33.470-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RpeI1n5g4tI/AAAAAAAAAIw/LdtUWGAMhvU/s1600-h/120605aKecelakaan-banyuwang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 418px; height: 227px;" src="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RpeI1n5g4tI/AAAAAAAAAIw/LdtUWGAMhvU/s400/120605aKecelakaan-banyuwang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086684758962922194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;Papinto Badut berbela sungkawa atas terjadinya musibah kecelakaan beruntun di kala liburan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;7 Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bus Liburan Sekolah Masuk Jurang di Cianjur 15 orang murid tewas.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;8 Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;6 Siswa SMPN *7 Jakarta Selatan tewas menghirup gas beracun Kawah Ratu Gunung Salak Kabupaten Bogor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;PESAN BUAT ANAK2KU BILA AKAN  BEPERGIAN&lt;br /&gt;DENGAN WAHANA BERGERAK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Anakku&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa negerimu dilingkari "cincin api" oleh gugusan gunung berapi dan asset negerimu berupa gugusan pulau berlaut luas sehingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sangat terbuka&lt;/span&gt; untuk memiliki kondisi cuaca yang gampang berubah secara ekstreem, itu artinya engkau akan selalu dalam lingkungan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;potensi kecenderungan bahaya&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;baik didarat, laut ataupun udara &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;selama hidupmu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Anakku,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa oleh sebab adanya lingkaran "cincin api" ini, kontur permukaan tanahmu cenderung tidak merata, naik turun, miring, berlumpur permukaan, mudah longsor sehingga jalan kendaraan yang kau bangun akan mengandung &lt;span style="font-size:130%;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;potensi kecenderungan bahaya&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Anakku,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah oleh sebab itu kamu harus berusaha keras sekeras kerasnya bila kamu besar nanti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&gt;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;untuk memiliki organisasi pemantau/pengingat bahaya ini untuk berkarya profesional maksimal dengan memasang papan peringatan bahaya di daerah tujuan wisata dan daerah jangkauan publik lain yang memiliki "&lt;span style="font-size:180%;"&gt;potensi kecenderungan bahaya&lt;/span&gt;",&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;&gt;&gt;untuk menindak dengan keras atas kelalaian para pengusaha angkutan yang tidak melaporkan secara  berkala kondisi teknis seluruh armada angkutannya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&gt;&gt;untuk memberi sangsi bagi siapa saja yang tidak melaporkan selama 1 pulsa telephone kepada DLLAJR/ORGANDA terdekat untuk mendapatkan petunjuk lisan langsung karena akan mengangkutmu secara massal bila hendak bepergian keluar kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&gt;&gt;untuk selalu berusaha  memantau laporan hasil test kondisi psikologis para sopir wahana angkutan massal secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(204, 0, 0);" align="center"&gt;  &lt;hr align="center" size="2" width="100%"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;h1 style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Santunan Kecelakaan Urusan Siapa?&lt;/h1&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat masih ragu terhadap perusahaan asuransi. Karena bisnis asuransi merupakan bisnis kepercayaan seperti perbankan, asuransi apa pun yang ingin bertahan, haruslah mampu memberi bukti dan bukan sekadar mengumbar janji. &lt;/i&gt;&lt;b&gt;Redaksi&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\PC4\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" title="28korban"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;ASURANSI KECELAKAAN - Peristiwa kecelakaan di ruas jalan tol Rawamangun, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Timur. PT Jasa Raharja ditugaskan negara, lewat Undang-Undang No 33 dan 34 Tahun 1964, memberikan santunan kepada korban kecelakaan lalu lintas, baik yang meninggal dunia, cacat seumur hidup, maupun luka-luka.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;BISA dipastikan, tak seorang pun di dunia ini menghendaki adanya musibah. Sayangnya, musibah itu datangnya selalu pada waktu dan tempat yang tak bisa diprediksi oleh siapa pun. Masih hangat di ingatan kita, musibah kecelakaan pesawat Lion Air di Bandara Adi Sumarmo Solo, 30 November 2004, yang merenggut nyawa 25 penumpang dan awak pesawat. Peristiwa itu terjadi begitu cepat dan tak diprediksi sebelumnya. Tangis sedih sanak keluarga yang kehilangan orang terkasihnya tak bisa dielakkan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Dalam situasi yang demikian, orang baru terhenyak betapa pentingnya asuransi dalam kehidupan ini. Sayangnya, kesadaran itu tak bertahan lama. Begitu musibah itu berlalu, berlalu pula ingatan orang akan pentingnya asuransi. Hal itu wajar terjadi, karena sampai saat ini sebagian besar masyarakat masih ragu dengan perusahaan asuransi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, baik itu asuransi jiwa, umum, maupun asuransi sosial. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kalau toh ada sebagian warga yang ikut program asuransi, khususnya mereka yang bekerja, biasanya karena sudah merupakan bagian dari peraturan kantor. Artinya, mereka mengikuti asuransi seperti asuransi jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) karena "diharuskan" perusahaan tempatnya bekerja, bukan atas dasar kesadaran pribadi. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sekalipun demikian, masih banyak juga yang masih mempertanyakan mengapa harus masuk asuransi Jamsostek. Apalagi, kalau mereka diminta untuk berasuransi secara suka-rela. Seribu satu alasan akan meluncur dari mulut, baik itu alasan yang berkaitan dengan keimanan maupun alasan sosial dan penghasilan yang pas-pasan. Artinya, ada seribu satu cara untuk menghindari asuransi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Semua itu terjadi karena masyarakat sudah telanjur memiliki citra yang tidak bagus terhadap asuransi. Di mata sebagian masyarakat, asuransi tak lebih dari pengeluaran tambahan yang hanya membebani mereka tanpa keuntungan yang jelas. Apalagi, banyak kasus terjadi, klaim yang dilakukan tidak bisa dicairkan karena berbagai alasan. Misalnya, persyaratan yang tak lengkap, tidak sesuai dengan perjanjian dalam polis, atau berbelit-belitnya proses untuk mendapatkan klaim tersebut. Alhasil, sebagian masyarakat kemudian menjadi apatis terhadap asuransi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Tidaklah salah memang, karena bisnis asuransi merupakan bisnis kepercayaan seperti perbankan. Karena itu, asuransi apa pun yang ingin bertahan, haruslah mampu memberi bukti dan bukan sekadar mengumbar janji. Problematika itu juga yang dihadapi oleh asuransi Jasa Raharja. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Di tengah ketidakpastian itu, PT Jasa Raharja selaku penyelenggara asuransi sosial terus berupaya memberikan bukti kepada masyarakat khususnya mereka yang menjadi korban kecelakaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Perusahaan asuransi milik negara ini memang sedikit berbeda dengan perusahaan asuransi lainnya. Secara khusus, PT Jasa Raharja ditugaskan negara, lewat Undang-Undang No 33 dan 34 Tahun 1964 untuk memberikan santunan kepada korban kecelakaan lalu lintas, baik yang meninggal dunia, cacat seumur hidup, maupun yang menderita luka-luka. Uniknya lagi, jumlah nasabahnya pun tak terbatas. Artinya, semua penduduk &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, yang menjadi korban kecelakaan secara otomatis akan mendapatkan santunan dari Jasa Raharja, walaupun mereka tidak pernah membayar premi. Jadi, bila suatu saat seorang pejalan kaki menjadi korban kecelakaan, ia secara otomatis akan mendapatkan santunan dari Jasa Raharja layaknya seorang nasabah asuransi. Sekalipun si korban itu tak pernah membayar premi asuransi kecelakaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Premi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kalau demikian, dari manakah perusahaan ini mendapatkan preminya? Dalam Undang-Undang No 33/1964 disebutkan, perusahaan ini berhak menghimpun premi dari masyarakat berupa iuran sumbangan wajib dari seluruh penumpang angkutan umum baik darat, laut, maupun udara. Selain itu, sesuai amanat UU No 34/1964, perusahaan ini diberi kewenangan penuh menghimpun premi dari sumbangan wajib pemilik kendaraan bermotor. Pungutan itu biasanya dilakukan bersamaan dengan pengurusan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yakni Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sedangkan untuk penumpang angkutan baik darat, laut, atau udara, premi dikumpulkan operator yang selanjutnya disetorkan ke Jasa Raharja. Biasanya, premi itu sudah merupakan satu paket dengan biaya yang harus dibayar oleh penumpang/pengguna jasa angkutan yang bersangkutan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Karena itu, walau tidak ada bukti-bukti layaknya per-usahaan asuransi lainnya, setiap korban kecelakaan berhak mendapatkan santunan dari Jasa Raharja dan perusahaan ini pun memiliki kewajiban menyantuni setiap korban kecelakaan. Pegangannya hanya satu, yakni UU No 33 dan 34 Tahun 1964. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sekali pun tak ada perjanjian tertulis antara pemegang polis dan perusahaan asuransi, tetapi sejauh ini PT Jasa Raharja mencoba tetap konsisten menjalankan amanat Undang-Undang tersebut. Tak hanya sampai di situ, sebagai salah satu penyelenggara asuransi sosial, Jasa Raharja juga terus berupaya meningkatkan kemampuannya, baik di bidang manajemen sumber daya manusia maupun di bidang keuangan. Setidaknya pada akhir 2004, perusahaan ini telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 pada 10 dari 27 cabang di seluruh &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Selain itu, pada 2004 pula, perusahaan ini mampu membukukan angka &lt;i&gt;Risk Based Capital&lt;/i&gt; (RBC/rasio kecukupan modal dibanding risiko yang harus ditanggung) sebesar 281,17 persen atau berada jauh di atas persyaratan Departemen Keuangan yakni 120 persen. Barangkali, karena kekonsistenan dan prestasinya itulah yang membuat Departemen Keuangan memberikan predikat sehat sekali untuk penilaian kinerja BUMN bagi PT Jasa Raharja. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia (YLKAI) juga mencatat selama &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tahun terakhir ini pihaknya hanya menerima tiga pengaduan terkait dengan asuransi kecelakaan yang dikelola PT Jasa Raharja. Padahal, selama &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tahun terakhir YLKAI menerima 489 pengaduan berkaitan dengan asuransi. Dari jumlah itu, sebagian besar terkait dengan asuransi jiwa, yakni 301 pengaduan, disusul asuransi kesehatan 23, asuransi kerugian 25, asuransi hari tua 41, dan jaminan sosial tenaga kerja satu pengaduan.&lt;br /&gt;Harus diakui, Jasa Raharja sendiri dari waktu ke waktu terus memperbaiki diri, khususnya berkaitan pelayanan kepada masyarakat. Aspek akuntabilitas dan keterbukaan coba diterapkan dengan membuka saluran telepon bebas pulsa bagi masyarakat dan juga akses internet di &lt;i&gt;www.jasaraharja.co.id&lt;/i&gt;. Lewat kedua sarana itu, mereka berharap masyarakat yang memiliki masalah atau ingin mendapatkan informasi mengenai asuransi kecelakaan yang dikelolanya bisa segera mendapatkannya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Mereka juga berupaya mempercepat proses pengurusan klaim bagi korban kecelakaan yang tak lebih dari sepekan sejak pengajuan dilakukan. Hal itu setidaknya bisa menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat, sekaligus mengubah citra masyarakat bahwa pengurusan klaim asuransi itu sulit dan berbelit.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Peranan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Lepas dari semua itu, sesungguhnya peranan asuransi kecelakaan terasa begitu penting. Terutama, bagi mereka yang sebagian besar waktunya habis di perjalanan atau karena tugas dan pekerjaannya mengharuskan orang yang bersangkutan banyak melakukan perjalanan dinas. Apalagi, angka kecelakaan dalam lima tahun terakhir dengan korban meninggal juga cukup tinggi, yakni 130.873 orang. Artinya sekitar 26.000 orang meninggal setiap tahunnya karena kecelakaan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;PT Jasa Raharja sendiri mencatat dalam lima tahun terakhir telah memberikan santunan kepada 395.061 korban kecelakaan lalu lintas. Dari angka itu, 130.873 orang dinyatakan meninggal dan 264.188 lainnya cacat tetap dan luka-luka. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Dirut PT Jasa Raharja, Darwin Noor dalam suatu kesempatan mengatakan, khusus untuk korban penumpang pesawat udara selama lima tahun terakhir, dari 1999 hingga 2004, pihaknya telah membayar santunan Rp 2,1 miliar. Jumlah itu diberikan kepada korban meninggal dunia sebanyak 40 orang dan luka-luka sebanyak 53 orang. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Ia mengatakan, selain menjadi keprihatinan bersama karena tingginya angka dan korban kecelakaan, yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak adalah persentase terbesar dari jumlah korban kecelakaan itu masih dalam usia produktif. Kondisi itu sudah selayaknya pula menjadi keprihatinan bersama seluruh elemen bangsa untuk melihat bahwa asuransi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Hal itu juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku asuransi. Apalagi, di era yang semakin global ini, kehadiran asuransi memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Tetapi, masyarakat juga tidak akan apatis kalau pelaku asuransi, khususnya PT Jasa Raharja selaku penyelenggara asuransi sosial, melakukan berbagai terobosan. Belum lagi, persaingan di industri bisnis asuransi yang kian ketat dewasa ini. Karena itu, tidak ada cara lain, Jasa Raharja harus melakukan terobosan baru dan mendekatkan diri kepada konsumennya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Jasa Raharja harus mampu menjawab tantangan, berasuransi tidaklah rumit. Apalagi, masih banyak warga masyarakat yang belum tahu, ia sesungguhnya memiliki hak untuk mendapatkan santunan jika mengalami kecelakaan di jalan raya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Untuk itu, langkah jemput bola dengan memberikan berbagai penyuluhan ataupun memberikan hak kepada mereka yang sudah sepatutnya menerima, merupakan salah satu alternatif yang bisa ditempuh Jasa Raharja. Dalam kaitan ini, langkah untuk mendatangi korban dan keluarganya tanpa pandang bulu merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, sekaligus memasyarakatkan asuransi kecelakaan di hati masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Artinya, kalau Jasa Raharja ingin merebut hati masyarakat, tidak ada pilihan lain, Jasa Raharja harus mengubah diri sesuai dengan tuntutan zaman dan lebih mendahulukan kepentingan korban kecelakaan, sebagai pemegang hak polis untuk mendapatkan santunan. Artinya, Jasa Raharja harus hadir dalam setiap kesempatan jika ada masyarakat yang menjadi korban kecelakaan tanpa peduli siapa pun dia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Paling tidak, masyarakat akan selalu ingat, jika ada kecelakaan, mereka tahu dengan siapa harus berurusan khususnya menyangkut santunan. Hanya dengan cara itu Jasa Raharja akan mampu eksis, sekaligus merebut hati masyarakat untuk berasuransi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;PEMBARUAN/PAULUS C NITBANI&lt;/p&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(204, 0, 0);" align="center"&gt;  &lt;hr align="center" size="2" width="100%"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Last modified: 28/1/05&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;SUARA PEMBARUAN DAILY&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;www.suarapembaruan.com&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-992028560203422661?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/992028560203422661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=992028560203422661' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/992028560203422661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/992028560203422661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/07/papinto-badut-berbela-sungkawa-atas.html' title=''/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RpeI1n5g4tI/AAAAAAAAAIw/LdtUWGAMhvU/s72-c/120605aKecelakaan-banyuwang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-6994349577911643030</id><published>2007-07-06T13:40:00.000-07:00</published><updated>2007-07-09T14:06:19.817-07:00</updated><title type='text'>Liburan...Maen Catur Yuk!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Ro6v3vXn99I/AAAAAAAAAH4/9pMYy9MVZIE/s1600-h/jessejoeyChess.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Ro6v3vXn99I/AAAAAAAAAH4/9pMYy9MVZIE/s400/jessejoeyChess.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5084194401491089362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Papinto Badut :" Bermain catur, bermain strategi dalam menata langkah kehidupan" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah 3 hari ini 2 orang keponakanku dari Bekasi berlibur ke Surabaya, Fiona (13TH) begitu turun dari mobil langsung bilang "Papinto, maen catur yuk!", katanya menantang. "Lho apa kamu udah bisa?" jawabku "ya bisa dong, akukan belajar dari internet!" katanya tangkas. Kamipun bermain catur mengisi liburan kali ini. Permainan pembukaan yang dia ajukan e2-e4, langkah buka formasi Sisilia, sementara aku yang pegang buah hitam membalas dengan pertahanan Reti. Alhasil skore sore itu 1-1, aku sengaja berpikir main-main supaya dianya senang dapet ngalahin aku. Aku suka dan merasa senang sekali ia bisa melangkahkan buah catur meski dalam tahapan langkah pemula. Aku mengenal catur usia 7 tahun, belajar sendiri tanpa guru. Kalo lagi suntuk aku suka maen catur sama tetangga sebelah, itung2 buat bina kerukunan he..he..he..CATUR CATUR CATUR, ya catur inilah permainan asah otak yang akan membawa rakyat Indonesia dapat berfikir strategis kelak, mau megakui kekalahan, mau mengakui bahwa orang lain ternyata lebih kuat darinya. Catur menyuguhkan banyak ilmu kebijakan2 al. mencoba membaca pikiran lawan, bagaimana menghitung untung rugi, berpikir futuristik jauh kedepan, ilmu strategi, ilmu pertimbangan, pertukaran untuk meraih posisi, posisioning, menimbang waktu, kecepatan mengambil keputusan, kekawatiran/antsipasi, daya tahan/kecepatan berpikir/mengambil keputusan dan lain lain. Kekuatan "&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sayap kiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;" dan "&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sayap kanan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;" diperlakukan sebagai partner yang saling berinteraksi, berkolaborasi, bersinergi  untuk meraih sasaran antara, strategis dan utama, pengorbanan taktis untuk meraih waktu, posisi dan kemenangan babak akhir. Ya...ayo ajarin anak anda bermain catur agar tak selalu larut dalam tayangan tv yang membodohkan. Ya ...ayo ajarain anak2 bermain catur agar bisa merasa dekat satu dengan yang lainnya. SKAK!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Catur Bukan Buat Pemalas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;img src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/belia/010205/aksi.gif" style="float: right; margin-left: 5px; margin-right: 5px; margin-bottom: 5px;" border="1" height="178" width="250" /&gt;Sekolah boleh aja         belum genap sebulan mulai. Tapi, sejumlah SMA di Bandung langsung berpartisipasi dalam         gelaran Dynamite Fun Chess Road To School sejak 24 Januari - 3 Februari 2005 ini.         Terbilang ada sepuluh sekolah yang terlibat: SMAN 15, SMAN 12, SMA Sumatra 40, SMA YWKA,         SMAN 1 Lembang, SMAN 9, SMA Angkasa, SMAN 7, dan SMA Pasundan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pak Sugeng, ketua panitia, mengatakan acara serupa sudah digelar di kota-kota besar di         Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti Surabaya dan Semarang. Tanggal 7 Februari nanti akan         disusul oleh Jakarta. "Rencananya akan ada sepuluh sekolah di Jawa Barat lagi yang         akan diundang," katanya. Dari setiap sekolah akan dipilih dua orang terbaik untuk         mewakili tiap propinsi untuk bertanding di ajang nasional. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Karena di setiap sekolah digelar sehari, nggak heran kalau acaranya adalah perkenalan         dasar. Tapi, perkenalan dasar dalam dunia catur itu nggak lain adalah bertanding. So, ada         ajang catur cepat. Catur cepat ini simpelnya tiga langkah langsung skak. Selain itu ada         catur simultan melibatkan banyak peserta bersama-sama. Perkenalan ini dipandu pihak         Percasi yang ternyata juga tutur bertanding. Hasilnya? Di SMA YWKA, ada siswa kelas II         yang berhasil mengalahkan orang Percasi!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Akal &amp; Strategi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Catur mungkin bukan jenis olahraga yang populer di kalangan Belia, apalagi bila         dibandingkan dengan sepak bola, basket, atau bilyar. Nah, justru karena alasan itulah         event ini digelar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Orang beranggapan catur itu olahraga orang pemalas. Padahal akal dan strategi         berperan sangat besar dalam catur," jelas Pak Sugeng. Well, kalau mau mahir, mau         nggak mau memang harus rajin berlatih. Jauh banget kan dari kesan malas? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Ternyata pesertanya nggak bisa dibilang sedikit, loh. Andi, siswa kelas III IPA 1,         contohnya. Dia mulai main catur sejak kelas I SMP. Walaupun nggak berniat mendalami dunia         catur secara serius, catur memang hobinya. "Ini pengalaman pertama ikut pertandingan         catur. Bagus buat pengalaman," katanya senang walaupun nggak jadi pemenang.         "Saingannya banyak dan hebat-hebat," tambahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selain melatih akal agar mampu berpikir dan bertindak tepat dan cepat, catur punya         manfaat lain, loh. Ada yang berpendapat bahwa catur lebih dari sekadar keterampilan,         tetapi juga pelajaran sejarah abad pertengahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Catur sudah dimainkan sejak lama di Cina, India, dan Persia. Dari mana asal catur         sendiri masih jadi perdebatan banyak orang, Cina atau India. Pada abad ke-8 M, orang Moor         menyerbu Persia. Mereka belajar catur dari orang Persia. Kemudian orang Moor menyerbu         Spanyol dan mengenalkan permainan catur ini. Dari Spanyol, catur menyebar ke seluruh Eropa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Nah, di abad ke-16 catur mulai memperoleh bentuknya seperti yang dikenal sekarang.         Orang Eropa menyebut bidak catur sesuai cara dan gaya hidup mereka di abad pertengahan.         Katanya sih karena mereka susah memakai istilah Persia. Nggak heran ada nama-nama yang         khas abad pertengahan, seperti raja, kuda, benteng, dan lain-lain. Cara melangkahkan         bidak-bidak ini menggambarkan porsi kekuasaan setiap posisi dalam sistem kerajaan di abad         pertengahan. Canggih, ya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dibandingin dengan game-game action RPG yang berlatar belakang medieval age, catur bisa         jadi kalah secara visual. Namun, dalam catur ada interaksi langsung dengan lawan         (manusia). Dan, sebenarnya catur populer loh. Di komputer dan handphone, nggak sedikit         yang menyertakan catur sebagai game bawaan. Tahun 1970-1980-an catur malah jadi suatu cara         dari seorang bapak mengetes calon menantu. Kalau ketauan lemotnya, mampus aja! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Times New Roman;" &gt;Nah, mereka yang dulu "dites" ini, sekarang sudah jadi bapak-bapak yang         mungkin punya anak cewek cute seumuran Belia. Kalau kamu ngebet mereka hati-hati aja.         Jangan-jangan... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sumber : www.pikiran-rakyat.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-6994349577911643030?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/6994349577911643030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=6994349577911643030' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/6994349577911643030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/6994349577911643030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/07/liburanmaen-catur-yuk.html' title='Liburan...Maen Catur Yuk!'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Ro6v3vXn99I/AAAAAAAAAH4/9pMYy9MVZIE/s72-c/jessejoeyChess.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-8074781162484210234</id><published>2007-07-02T09:42:00.000-07:00</published><updated>2007-07-08T16:52:14.713-07:00</updated><title type='text'>Popularitas Berkesenian, perlu tapi yang melanggengkan !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RokxavXn96I/AAAAAAAAAHg/vu5Y_G0btKQ/s1600-h/tejo2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 170px; height: 164px;" src="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RokxavXn96I/AAAAAAAAAHg/vu5Y_G0btKQ/s200/tejo2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5082647989926229922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RokxOPXn95I/AAAAAAAAAHY/DafRb0mZ5Bo/s1600-h/neno.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 161px; height: 162px;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RokxOPXn95I/AAAAAAAAAHY/DafRb0mZ5Bo/s200/neno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5082647775177865106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Papinto Badut Kangen Neno Warisman dan Sujiwo Tejo&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bertemu Mbak Neno di acara Surabaya Book Fair 2007 oleh IKAPI Jatim sungguh sesuatu yang amat menggelorakan, betapa tidak... Neno yang sekarang nyaris tak berbeda dengan Neno 20 tahun yang lalu di Bandung...masih demikian cantik, mata tajam indah berbinar, suara yang tajam merdu mendayu namun agak sedikit gemuk, maklum sudah jadi seorang ibu. Si Pemerhati anak ini sempat bertemu satu panggung dengan Papinto di Bandung tahun 1987, Papinto jadi MC acara pesta kampus, sedang Neno berkesempatan menyanyi. Di Surabaya, Neno aku daulat untuk memberi ucapan selamat dan tanda tangan pada plakat PANDORA (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paguyuban Pendongeng Surabaya&lt;/span&gt;) sebuah wadah organisasi pendongeng Surabaya yang aku gagas berdirinya. Terima kasih Neno...ternyata kamu masih ingat ketika aku menyebutkan sebuah nama padahal 20 tahun telah berlalu. Bagaimana dengan Sujiwo Tejo, si dalang edan atawa si pendongeng wayang kulit atawa seniman serba bisa. Wah, aku terpesona lho dengan penampilannya yang terkesan santai dan akrab di acara Festival Seni Surabaya 2007, nampaknya Cak Tejo mencoba bermain main dengan humor fabel, kritik politisi, ludrukan yang dibalut  dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jazzy music look&lt;/span&gt; bersama 4 personal bandnya. Iapun menguraikan betapa sulitnya memasarkan musik khusus garapannya, bahkan ada sebuah radio yang tak mau memutar lagunya sebab katanya pendengarnya yang ga sejalan bakal lari menjauh. Sabar Cak Tejo, aku yang di tribun penonton melihat betapa antusias penikmat senimu melahap semua suguhannmu, bahkan tahu ga aku ga kebagian karcis sampe sampe harus memelas pada panitia untuk beli tiket masuk walaupun dengan berdiri di buritan.&lt;br /&gt;Cak Tejo sempat kutanya tentang masa depan profesi pendongeng Indonesia yang masih suram dan belum bisa diharapkan sebagai gantungan hidup. Teruslah berkarya, Cak! bukankah kita sudah 7 tahun sepanggung dalam membesarkan sebuah kelompok teater tradisional di Bandung..lalu hasilnya terasa manis hingga kini dan tidak mengecewakan? Bravo Cak Tejo dan Mbak Neno.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;!-- START CONTENT --&gt;  &lt;div style="text-align: center; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:130%;"  &gt;Memaknai Karya Seni Berkualitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; Oleh Nelson Alwi&lt;/span&gt;&lt;!-- end title --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; Kesenian adalah satu dari sekian banyak lapangan kegiatan, yang tak mungkin diberi batasan secara konkret. Sedang hidup menyeni atau aktivitas serta kreativitas seniman kurang lebih menyerupai sebuah perkalian menuju abstraksi-abstraksi kesimpulan. Suatu perkiraan yang bermuara pada ciri-ciri, yang mencuat menandai kualitas karya yang dihasilkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Karya yang dihasilkan, di satu sisi, tidak lebih dari sejenis hiburan yang melelapkan dan untuk seketika mampu mengalihkan perhatian dari rutinitas hidup sehari-hari - sehingga terbebas dari berbagai kegelisahan yang berpijak pada identitas diri selaku makhluk berakal budi. Sementara di sisi lain, selain memiliki sifat dan peran menghibur, karya yang dihasilkan juga akan menuntun sang penikmat ke lingkungan kesadaran untuk bereksistensi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Masalahnya sekarang, di manakah seorang pekerja seni berdiri? Untuk menjawabnya diperlukan sikap tegas dan visi yang jelas mengenai hidup berkesenian! Apakah ia hendak melacurkan atau cuma memperkedok kesenian, atau sebaliknya ingin menghormatinya?!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Kadang-kadang seniman sendiri memang harus menghadapi problem fundamental menyangkut keyakinan (ke)hidup(an) yang dianggap baik dan wajar. Dan, ini sering menjebak serta menggiring sang seniman ke lingkar permasalahan yang tiada bertali-temali dengan pandangan kesenian berorientasi jauh ke depan. Dengan kata lain, seorang seniman seakan sudah merasa puas mengutak-atik alias memanfaatkan instrumen kesenian untuk mencapai kemajuan (finansial) dan perbaikan diri pribadi, lalu melangkah menuju kondisi dunia seni yang vulgar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Dalam keadaan demikian, bukan tidak mungkin, seorang seniman melancarkan pelecehan nilai-nilai: menyetarakan atau mencampuradukkan pengertian seni yang berkualitas dengan seni yang semata-mata bersifat menghibur - seperti pernah dilakukan Deddy "Miing" Gumelar (1991).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Sebagaimana diketahui, "Pelawak bermobil MBW" itu pernah mengungkapkan bahwa kegagalan karya seni selama ini disebabkan senimannya tidak mengerti selera masyarakat. Pernyataan tersebut menyiratkan fatwa bahwa "pasar"lah yang menentukan keberhasilan karya seni. Padahal, esensinya justru seniman melalui karyanya yang harus berperan mengubah atau memperbaiki selera rendahan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;(Mengingat kapabilitas dan kredibilitas Miing saya jadi curiga, jangan-jangan dia cuma sekadar membanyol atau meledek seniman yang hijau matanya melihat uang. Dan, itu sah-sah saja kiranya. Siapa pun wajib mengarifi adanya ketidakpastian arah dan cita-cita yang mempengaruhi seseorang - seniman).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Matthew Arnold, pemikir kebudayaan asal Inggris, memandang keutamaan (per)puisi(an) sebagai kritik kehidupan yang disampaikan melalui kata serta kalimat terseleksi yang serba ringkas. Sementara Herbert Read, lewat bukunya yang masyhur, The Politics of the Unpolitical berpendapat, kesenian (pada umumnya) adalah sejenis kegiatan intelektual. Selanjutnya bisa dikatakan, kesenian merupakan ekspresi dari emosi dan insting jiwa (manusia) seniman yang paling dalam, suatu aktivitas sungguh-sungguh yang senantiasa membuat orang hidup bergairah sepanjang masa&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Pada gilirannya kesenian (baca: karya seni) memang jadi begitu berarti dan mengharukan. Kadarnya ditentukan oleh takaran nilai-nilai yang dikandungnya, yang selalu survive.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Sejarah membuktikan, para pakar tidak dapat membedakan peradaban kecuali dengan meneliti karya seni-karya seni yang mewakilinya. Barang-barang dari tanah liat, lempengan koin atau mata uang logam, pahatan atau goresan berupa huruf, flora, fauna dan lain sebagainya, yang dipatrikan di dinding gua maupun batu mejan, jauh lebih awet lagi mengesankan ketimbang sejumlah nama kaisar, pahlawan atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;medan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; pertempuran.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Artinya, karya seni tampil lebih langsung melalui bentuk dan style yang diketengahkannya - yang akan menjadi ukuran bagi kemurnian suatu peradaban. Di samping itu, karya seni "bicara" dengan bahasa yang jernih, menceritakan status serta karakter zaman tertentu. Karya seni tidak hanya mengabari kita tentang pemujaan masyarakat terhadap bulan, bintang dan matahari atau (telah) adanya kepercayaan atas hidup sesudah mati, akan tetapi juga menawarkan pengertian-pengertian, ilmu pengetahuan berikut segala sesuatu yang, karena faktor-faktor keterbatasan, belum tentu dapat diperoleh dari sumber-sumber lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Namun golongan yang sinis boleh jadi berkomentar, umpamanya, nilai apakah yang akan tetap survive dari sajak-sajaknya Sutardji Calzoum Bachri atau cerpen-cerpen Danarto maupun novel-novel Iwan Simatupang?! Apakah elemen-elemen atau gayanya? Ya, apakah yang hendak dipetik dari sajak berikut cerita absurd dan tidak memenuhi kaidah-kaidah perpuisian dan penceritaan yang berlaku umum itu?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Kita semua barangkali perlu menyadari, bahwa substansi dan kelebihan karya seni mencakup gagasan-gagasan serta tindakan-tindakan yang unik alias lain dari pada yang lain. Pada mulanya, ada kalanya orang mencurigai atau membenci, katakanlah, misalnya, arsitektur Gothic yang seabad setelah diproklamasi dan dipresentasikan baru diserbu para pengagum yang berlomba-lomba mengagung-agungkan gayanya yang memang khas dan unik. Sementara di hadapan kita sendiri juga pernah terjadi, betapa menggemparkan sejarah roman Belenggu karya Armijn Pane: ditolak oleh Penerbit Balai Pustaka, dicela berbagai kalangan (intelektual) zamannya, namun akhirnya tak urung dipuji dan disanjung serta dipandang sebagai salah satu karya sastra &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; modern yang paling monumental.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Pada hemat saya, memang demikianlah skala prioritas atau ukuran nilai-nilai estetika karya seni yang ideal. Kesenian toh bukan cuma tergantung pada keahlian teknis maupun kepopuleran (sesaat) sebagaimana disinyalisasi Eugene Johnson lewat The Encyclopedia Americana (1980).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Kesenian atau karya seni lahir dari dan berdasarkan suatu panggilan serta kebutuhan situasi. Kesenian atau karya seni adalah budi bahasa, keikhlasan, keluwesan dan juga form. Dan karya seni yang berkualitas lagi takkan dilupakan dibangun di atas berbagai pondasi kemungkinan: kreativitas, cara, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;, sikap, tingkah-laku dan sopan-santun tindakan dalam berkesenian. ***&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Penulis, peminat sastra budaya, tinggal di &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city style="color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Padang&lt;br /&gt;        Sumber : www.suarakarya-online.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-8074781162484210234?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/8074781162484210234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=8074781162484210234' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/8074781162484210234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/8074781162484210234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/07/popularitas-perlu-tapi-yang.html' title='Popularitas Berkesenian, perlu tapi yang melanggengkan !'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RokxavXn96I/AAAAAAAAAHg/vu5Y_G0btKQ/s72-c/tejo2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-3885083276094933523</id><published>2007-06-26T09:03:00.000-07:00</published><updated>2007-06-26T09:39:10.633-07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan, Tempat Belajar Alternatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RoFAkczkVaI/AAAAAAAAAHI/jBDK2EXXNPc/s1600-h/gs01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RoFAkczkVaI/AAAAAAAAAHI/jBDK2EXXNPc/s320/gs01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080412849602581922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(suasana kumpul baca di sebuah perpustakaan anak - Serpong) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Papinto Badut Mendongeng Di Perpustakaan Anak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah menunggu kesempatan tampil selama 2 minggu, akhirnya aku bisa bertemu dengan komunitas pembaca perpustakaan anak di &lt;a href="http://www.perpusjatim.go.id/"&gt;Perpustakaan PEMPROV JATIM&lt;/a&gt;, Jl. Menur Pumpungan - Surabaya. Aku dikerubutin melingkar kl 40 anak2 usia SD dan TK yang hanyut oleh tinkah polahku dalam menyampaikan dongeng &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kisah Raja Sulaiman - Singa Yang Rakus&lt;/span&gt; kl selama 30 menit. Disini aku mentasbihkan diriku sebagai Fabelis (pendongeng dunia binatang) yang tokoh2nya kupinjam untuk menyampaikan pesan moral dan tak takut untuk terjebak sebagai "aksi menggurui". Kisah Raja Sulaiman ini menarik sebab konon sang raja dapat berbicara dengan binatang dan asset/ gejala alam (angin, air, petir dll). Setelah mendongeng ada sesi door prize berupa buku cerita yang bikin ramai riuh rendah. Mendongeng di tempat resmi seperti ini aku bersikap sangat hati2, syukur semuanya berjalan lancar. Terima kasih buat seluruh staf perpustakaan anak PEMPROV JATIM.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc3333;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;               Perpustakaan Masa Depan Berpotensi Menjadi Tempat Belajar Alternatif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Jakarta, 9 Agustus 2005 – Image perpustakaan yang sekedar sepi, dan membosankan terhapus dari benak mahasiswa dari 12-universitas se-DKI yang mengunjungi Perpustakaan Umum Jakarta Selatan (PUJS) di Jakarta Selatan dan Perpustakaan Mangkal Yayasan Pustaka Kelana Rawamangun Jakarta kemarin yang diterima langsung oleh pimpinan masing-masing perpustakaan, Bapak Abdullah HM dan Ibu Nasti M.Reksodiputro.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" src="http://coke-indonesia/data/general_image/1124771582pic.jpg" align="bottom" border="0" hspace="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Kedua perpustakaan tersebut sudah dikembangkan menjadi Pusat Pembelajaran dimana para anggotanya tidak sekedar meminjam buku akan tetapi juga bisa bertukar informasi dan mengembangkan jaringan sesama anggota serta menjadi tempat mengembangkan bakat kerajinan tangan yang bisa menghidupi perpustakaan itu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Titie Sadarini, Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dalam sambutan peringatan HUT ke-5 CCFI mengatakan: ”Ini adalah sebuah contoh perpustakaan yang apabila dibimbing dengan baik, maka akan menjadi perpustakaan masa depan yang tidak sekedar menjadi tempat simpan pinjam tapi bisa menjadi pusat belajar yang menarik dan efektif”. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Pendidikan  yang merupakan kebutuhan setiap anak masih menghadapi banyak masalah di Indonesia, mulai dari kendala biaya hingga tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Coca-Cola Foundation Indonesia, sejak berdirinya tanggal 8 Agustus 2005, terus berikhtiar untuk melakukan program yang mendukung pendidikan, antara lain  melalui program pengembangan perpustakaan sebagai Rumah Belajar atau juga dikenal dengan Learning Center (LC).&lt;br /&gt;24 Perpustakaan umum di 14 propinsi telah ikut dalam program Rumah Belajar CCFI dimana mereka dibina untuk menjadi lebih kreatif, mampu meningkatkan layanananya dengan menjalankan program berbasis pada kebutuhan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan kaget bila Yayasan Pustaka Kelana, salah satu perpustakaan yang menerima bantuan CCFI, menyimpan banyak tanaman di perpustakaan. Itu adalah hasil karya anak-anak yang belajar tentang alam dan lingkungan hidup di perpustakaan ini” jelas Nasti M. Reksodiputro – Ketua perpustakaan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Dalam menyambut kedatangan mahasiswa tsb Kepala Perpustakaan PUJS, K.H Abdullah HS mengatakan: ”Kunjungan para mahasiswa ini meyakinkan saya bahwa mahasiswa juga peduli dengan pendidikan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai bagian dari aktivitasnya”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;”Diharapkan agar para mahasiswa yang berkunjung ini bisa melihat sendiri potensi perpustakaan sebagai rumah belajar alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, apakah itu pelajar ataupun anggota masyarakat lain yang ingin menggali pengetahuan, mencari informasi ataupun menggali kemampuan kreatifitasnya”, lanjut Abdullah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Konsep pembinaan perpustakaan sebagai rumah belajar yang dikembangkan CCFI ini melalui tiga tahapan, yaitu; Tahap I memfokuskan kepada pembenahan internal termasuk peningkatan kemampuan dan ketrampilan para staff dan perbaikan fasilitas , Tahap II merancang berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya berdasarkan ’need assessment’ (pengkajian atas kebutuhan masyarakat), Tahap III, merancang strategi kebelanjutan (sustainability) agar rumah belajar dapat secara konsisten mempertahankan kualitas layanannya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Selain melakukan kunjungan ke perpustakaan-perpustakaan para mahasiswa tersebut juga akan mengikuti acara Debat Wacana Tentang Perpustakaan Masa Depan yang diselenggarakan oleh Coca-Cola Foundation Indonesia bersama Departemen Pendidikan Nasional dalam rangka memperingati 5 tahun kiprah Coca-Cola Foundation Indonesia. Acara itu akan dilaksanakan pada hari Rabu 11 Agustus 2005 di gedung Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sekilas tentang CCFI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;Coca-Cola Fondation Indonesia (CCFI), berdiri sejak tahun 2000, merupakan sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh PT Coca-Cola Indonesia dan PT Coca-Cola Bottling Indonesia. Sejak didirikan hingga saat ini, CCFI memfokuskan kegiatannya pada aktivitas pendidikan guna untuk meningkatkan pendidikan dan kualitas sumber daya masyarakat Indonesia. Program-programnya antara lain adalah program pengembangan Rumah Belajar (Learning Center), program pendidikan tentang lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati, program pengembangan bahan bacaan anak serta program pendidikan kesehatan.&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Sumber : www.coca-colabottling.co.id&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(153, 51, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-3885083276094933523?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/3885083276094933523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=3885083276094933523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/3885083276094933523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/3885083276094933523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/06/perpustakaan-tempat-menimba-ilmu.html' title='Perpustakaan, Tempat Belajar Alternatif'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RoFAkczkVaI/AAAAAAAAAHI/jBDK2EXXNPc/s72-c/gs01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-2400078796602273021</id><published>2007-06-21T12:57:00.000-07:00</published><updated>2007-06-21T13:25:42.249-07:00</updated><title type='text'>UNAS, Persiapan Medan Tempur Buat  Persaingan Global</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnreTczkVYI/AAAAAAAAAG4/IUEXXUHeALs/s1600-h/UAS-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 390px; height: 253px;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnreTczkVYI/AAAAAAAAAG4/IUEXXUHeALs/s320/UAS-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078615955545019778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Papinto Setuju UNAS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gegap gempita medan tempur UNAS (Ujian Nasional) usai sudah. UNAS ini dimaksudkan untuk memperbaiki kwalitas mutu pendidikan secara menyeluruh baik di tingkat pusat maupun daerah, dengan kadar kesulitan materi soal ujian yang layak disejajarkan dengan tingkat kesulitan soal ujian dari negara2 ASEAN (Singapura dan Malaysia). Saat ini Indonesia mematok nilai minimal 5 baru lulus, sedangkan Singapura sudah setingkat nilai 7. Jadi nilai patokan kita relatif lebih rendah. Untuk pelaksanaan ujian kedepan Indonesia akan terus meningkatkan grade-nya minimal setara Singapura. Untuk apa? agar kelak anak didik mampu bersaing di tingkat global dalam perebutan "kue pekerjaan" di era kesejagadan.  Lantas kok masih ada ya pihak2 yang menolak UNAS, alasannya bahwa hanya guru sekolah yang bersangkutan yang mampu menilai anak didik lulus atau tidak? saya kira mereka keliru besar, sebab  bila kelulusa n ditentukan oleh para guru sekolah yang bersangkutan dimungkinkan nanti nilai itu dapat bersifat NILAI EMOSIONAL, maksudnya?  ya bisa saja yang kaya atau yang cantik akan dapat mempengaruhi obyektifitas pak guru hanya dengan "satu kerlingan mata", tahukan maksudnya? Bila dikaji secara fair, nilai UNAS inikan  merupakan NILAI RIIL yang dihitung scorenya dengan MESIN, sedang NILAI SEKOLAH bisa jadi merupakan NILAI EMOSIONAL karena yang menghitung adalah TANGAN PAK GURU. Bagaimana pendapat anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"&gt;Pemerintah Wajib Memfasilitasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Keputusan pemerintah mengadakan ujian kesetaraan sebagai pilihan bagi siswa yang tidak lulus unas diibaratkan sebagai sekoci bagi penumpang kapal. Berikut petikan wawancara Jawa Pos dengan anggota Komisi X dari Fraksi PAN Munawar Sholeh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana Anda melihat adanya ujian kesetaraan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Ujian kesetaraan itu hanya sekoci. Bisa dimanfaatkan, bisa juga tidak. Itu menjadi hak siswa untuk menentukan, apakah akan menggunakannya atau tidak. Tapi, satu hal yang pasti, karena ini kewajiban, pemerintah wajib memfasilitasi dan menyediakan anggarannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalu, bagaimana soal ijazah kesetaraan yang diterima, padahal dia menuntut ilmu dalam pendidikan formal?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Ya, itu risikonya. Sekoci kan kecil. Jadi. peluang untuk basah juga besar. Ini konsekuensi pilihan. Meski begitu, fungsinya kan tetap sama. Bisa digunakan untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi jenjangnya atau untuk melamar pekerjaan. Tidak berkurang esensi ijazahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah tidak ada mekanisme lain?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kami (DPR, Red) sebenarnya pernah mengusulkan pada pemerintah agar ada ujian ulangan jika salah satu di antara tiga mata pelajaran yang diujikan bernilai jelek. Dengan mark-up misalnya. Namun pemerintah tetap pada keputusannya untuk tidak ada (ujian ulang). Maka, peserta didik diberi kelonggaran dengan adanya ujian kesetaraan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haruskah menunggu satu tahun untuk mengulang unas?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kalau untuk unas formal, memang tetap satu tahun sekali. Sebab, jika diadakan setengah tahun sekali, terlalu cepat evaluasinya. Tetapi, kalau kesetaraan kan tidak. Bahkan, ujiannya tiga bulan sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada efek positifnya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tentu saja. Dalam raker dengan Mendiknas beberapa waktu lalu juga dipaparkan bahwa saat ini, ada beberapa perguruan tinggi yang membuka penerimaan mahasiswa baru tidak hanya pada semester ganjil. Artinya apa? Siswa yang mengikuti ujian kesetaraan pun bisa langsung melanjutkan ke perguruan tinggi tanpa menunggu tahun akademik baru atau menunggu semester ganjil. (fal)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"&gt;Mencermati Pelaksanaan Ujian Kesetaraan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pintu Keluar bagi Yang Gagal Unas Pilihan mengikuti ujian kesetaraan yang diberikan pemerintah kepada siswa yang tidak lulus ujian nasional (unas) ternyata tidak terlalu memuaskan siswa. Padahal, pemerintah menjamin, siswa yang lulus ujian kesetaraan tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Mei lalu mungkin menjadi hari yang cukup membahagiakan bagi Melati Murti Pertiwi. Bagaimana tidak? Bersama dengan Sophia Latjuba, Happy Salma, Olga Lydia, Roy Jeconiah, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, Gerakan Siswa Bersatu, Suara Hati Pelajar, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, Federasi Guru Independen Indonesia, LBH Pendidikan, dan LBH Jakarta memenangkan gugatan terhadap pemerintah terkait kebijakannya dalam penyelenggaraan unas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dalam putusannya, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan bahwa pemerintah sebagai tergugat telah lalai memenuhi hak pendidikan warga negara. Para tergugat yang terdiri atas presiden, wakil presiden, menteri pendidikan nasional, dan ketua Badan Standardisasi Pendidikan Nasional dinilai lalai memenuhi perlindungan HAM terhadap warga negara. Terutama hak-hak pendidikan yang tidak didapatkan siswa yang gagal menempuh unas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Para tergugat itu juga dinyatakan telah merugikan hak subjektif para siswa yang tidak lulus unas. Mereka juga digugat telah menyebabkan siswa mengalami kerugian materiil dan imateriil berupa hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Namun, keputusan itu tidak serta merta membahagiakan Melati sepenuhnya. Meski dinyatakan lulus setelah mengikuti ujian kesetaraan paket C (setara SMA), ada kebanggaan yang hilang meski telah mengantongi ijazah. Ujian kesetaraan itulah penyebabnya. "Kami kan belajar tiga tahun di sekolah negeri. Masak lulus dengan ijazah pendidikan paket C," katanya ketika itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Meski kini sudah duduk di bangku kuliah seperti halnya teman-temannya yang lulus unas, Melati mengatakan masih merasakan perbedaan atas ketidaklulusannya dalam unas. "Sama teman-teman kuliah menjadi kurang dekat. Kemungkinan karena dianggap gagal ujian," ujar mahasiswi semester II Jurusan Psikologi Universitas Atmajaya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Hilangnya kebanggaan atas almamater yang selama tiga tahun menjadi tempat menuntut ilmu itu mungkin tidak hanya dialami Melati seorang. Namun, pilihan yang tidak terlalu menguntungkan, menjadikannya merelakan sirnanya kebanggaan itu. Ya, pilihan bagi siswa yang tidak lulus unas hanya dua. Pertama, mengikuti ujian paket (kesetaraan). Kedua, menunggu hingga tahun depan untuk mengikuti unas. Tentu yang pertama menjadi pilihan paling banyak bagi mereka yang tidak ingin mengorbankan masa satu tahun untuk menunggu unas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Jakarta Utomo Dananjaya mengatakan, sejak awal dirinya keberatan jika unas dianggap sebagai faktor penentu kelulusan. Sebab, pelaksanaan unas mengabaikan kepentingan anak dan lebih bersifat politis. "Pendapat saya, ini sama dengan yang diputuskan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Seharusnya nasib anak-anak menjadi tanggung jawab pemerintah," katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Demikian juga ujian kesetaraan, menurut dia, jika unas dijadikan penentu kelulusan seharusnya disertai dengan mekanisme ujian ulang. "Logikanya kan seperti sarjana atau master yang ujian ulang dan tidak perlu menunggu setahun," ungkapnya. Kesempatan mengulang itu bisa dilakukan sampai tiga kali atau setidaknya sebelum Agustus, waktu masuk ke perguruan tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Meski ada tantangan dari berbagai pihak soal unas dan ujian kesetaraan, tahun ini pemerintah kembali mengadakan ujian kesetaraan. Ujian kesetaraan paket C berakhir hari ini setelah berlangsung sejak Selasa (19/6) lalu. Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo bahkan mengimbau secara langsung kepada para siswa SMA/MA/SMK yang tidak lulus ujian nasional (UN) agar mengikuti ujian kesetaraan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pemerintah juga menjamin, siswa yang mengikuti ujian kesetaraan dan dinyatakan lulus, memiliki hak eligibilitas atau hak memperoleh hasil dan kesempatan belajar yang sama atau setara dengan pendidikan formal. "Termasuk hak untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi," tegas Bambang Sudibyo, yang guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tidak hanya status kelulusan yang dijamin akan setara dengan lulusan pendidikan formal. Bahkan, untuk kualitas ujian, pemerintah juga menyamakan. Direktur Pendidikan Kesetaraan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas Ella Yulaelawati, mengatakan, kualitas soal ujian kesetaraan memiliki standar yang sama dengan unas pada pendidikan formal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;"Demikian pula, nilai dan persyaratan kelulusan ujian kesetaraan tidak jauh berbeda dengan pendidikan formal," ujar Ella.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;"Unas paket C atau setara SMA juga tidak dipungut biaya. Dengan demikian, siswa dari pendidikan formal bisa mendaftar langsung ke Dinas Pendidikan di daerahnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dia menjelaskan, kelulusannya terdapat dua alternatif. Pertama, siswa harus meraih nilai rata-rata 5,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah 4,25. Alternatif kedua, siswa memiliki nilai rata-rata minimal 5,33 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, apabila salah satu mata pelajaran yang diujikan bernilai 4,00 dan tidak ada mata pelajaran yang bernilai di bawah 4,00.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Adapun mata pelajaran yang diujikan dalam paket C untuk IPS, yakni kewarganegaraan, tata negara, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Paket C untuk IPA, yaitu kimia, fisika, geologi, dan matematika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Ella mengungkapkan, pelaksanaan ujian kesetaraan memang agak berbeda dengan ujian nasional pada pendidikan formal. Di antaranya adalah pelaksanaannya yang dilakukan dua kali dalam satu tahun. Hal itu dimaksudkan sebagai langkah akomodatif bagi peserta yang berlatar belakang heterogen, baik dari sisi usia maupun pekerjaan. (naufal widi a.r)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"&gt;Masih Jadi Prioritas Pilihan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Siswa yang tidak lulus unas mendapatkan dua pilihan. Pertama, siswa tersebut mengulang mengikuti ujian nasional tahun depan. Itu diikuti hanya pada mata pelajaran yang gagal. Dengan catatan, siswa yang bersangkutan tidak memiliki permasalahan dengan proses pembelajaran yang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kedua, siswa yang tidak lulus bisa dinyatakan lulus dengan mengikuti ujian kesetaraan atau dikenal dengan ujian paket. Ujian tersebut diadakan untuk tiga jenjang yang berbeda, yaitu paket A setara SD, paket B setara SMP, dan C untuk SMA. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dengan dua opsi tersebut, pilihan kedua, yaitu mengikuti ujian paket, lebih diminati siswa. Hal itu diakui Suharsono, sekretaris Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). "Pelaksanaan ujian paket C yang lalu juga banyak peminatnya," kata Suharsono.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Salah satu alasannya adalah biaya yang relatif lebih murah. Bahkan, siswa dari pendidikan formal SMA bisa dengan gratis mengikuti ujian kesetaraan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Yang memilih mengulang tahun depan, kata dia, menganggap bahwa ijazah hasil unas lebih bergengsi dibandingkan ujian kesetaraan. "Ada yang menganggap ijazah unas lebih bergengsi daripada ijazah kesetaraan," lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Padahal, jelaskan dia, perbedaan ijazah tidak menjadi soal. Misalnya, ijazah paket A bisa untuk mendaftar ke SMP, ijazah paket B untuk mendaftar SMA, dan paket C untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Bahkan, jika ingin langsung bekerja, ijazah paket C juga diterima perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pernyataan Suharsono terbukti. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Depdiknas yang juga penyelenggara ujian kesetaraan, Burhanuddin Tolla, mengatakan, jumlah peserta ujian kesetaraan dari jalur nonformal yang terdaftar mencapai 364.984 orang. Jumlah ujian kesetaraan itu meliputi paket A 38.209 orang, paket B 156.169, dan paket C 170.609. (fal)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : www.jawapos.co.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-2400078796602273021?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/2400078796602273021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=2400078796602273021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/2400078796602273021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/2400078796602273021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/06/unas-persiapan-medan-tempur-buat.html' title='UNAS, Persiapan Medan Tempur Buat  Persaingan Global'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnreTczkVYI/AAAAAAAAAG4/IUEXXUHeALs/s72-c/UAS-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-8055286758751903004</id><published>2007-06-15T10:49:00.001-07:00</published><updated>2007-06-19T21:41:12.746-07:00</updated><title type='text'>Si Unyil Hidup Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnLciczkVWI/AAAAAAAAAGo/3aZSLCQSHJ4/s1600-h/bonekaunyil1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 349px; height: 208px;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnLciczkVWI/AAAAAAAAAGo/3aZSLCQSHJ4/s320/bonekaunyil1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076362214406116706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Papinto Badut dikunjungi "Laptop Si Unyil" dari TV Trans-7 JAKARTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Papinto mendapat email dari mas Ivan - Trans-7  Jakarta, yang isinya mas akau mau mengambil gambar bisnis mas tentang kerajinan tangan itu. Wah...tak kirain mau nyoting Papinto. Emang disamping mendongeng aku juga berbisnis kerajinan tangan/handycraft yang sudah kutekuni selama 9 tahun. Gembira juga karyaku masuk TV, suatu saat nanti aku berharap Papinto bisa dikenal oleh anak-anak di negeri ini. Setelah sepakat jadwal shoting Mas Ivan langsung datang kerumah dan ambil gambar, beruntung aku bisa lihat cara bikin acara TV. Kusertakan anak2 sebagai pendamping Bu Rika sang instruktur dalam menerangkan bagaimana cara membuat kerajinan membuat box hantaran berbahan limbah daur ulang klobot jagung dengan merk &lt;a href="http://rikascraft.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rikascraft&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; itu. Setelah pengambilan gambar kl 3 jam, maka mas Ivan pamit balik lagi ke Jakarta untuk meng-edit hasil shootingan itu untuk tayangan selama 30 menit dalam acara LAPTOP SI UNYIL dan akan ditayangkan 2 minggu lagi. Tentang si Unyil yang dihidupkan TV Trans-7 membuat suasana penampilan Si Unyil nampak berbeda dari tayangan  6 tahun yang lalu.  Kini dengan dibarengi cerita yang berupa informasi ilmu pengetahuan yang mendidik anak-anak Si Unyil ditonton lagi bukan oleh anak2 saja, tapi oleh orang dewasa juga. Hidup Trans-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 153);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             KARAKTER DAN EKSPRESI VISUAL FILM BONEKA SI UNYIL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Film boneka Si Unyil adalah film serial yang diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) yang hadir di layar TVRI pads setiap hari Minggu pagi, telah berhasil memeerikan hiburan kepada seluruh pemirsa di seluruh Indonesia, khususnya perhatian dari anak-anak. Dihadirkannya film boneka Si Unyil karena film-film yang disiarkan oleh TVRI saat itu didominasi oleh film produksi dari luar negeri, sedangkan anak-anak Indonesia memerlukan film-film pendidikan sekaligus hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik memainkan boneka diilhami oleh cara memainkan Wayang Potehi, sebuah kesenian yang berasal dari leluhumya masyarakat Tionghoa. Latar belakang yang menjadi pertimbangan pembuatan film dalam bentuk boneka adalah tidak memerlukan biaya yang besar dan proses pembuatan boneka-boneka caranya sederhana dan mudah dilaksanakan bila dibandingkan dengan cara pembuatan film animasi. Boneka Si Unyil termasuk katagori hand puppet. Cara memegang dan memainkan boneka adalah dengan menggunakan tangan dan jarijari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film boneka Si Unyil dalam tayangannya dapat betahan lebih dari sepuluh tahun lamanya, hal ini menunjukan bahwa film boneka Si Unyil memiliki daya tank tersendiri dan memiliki pengaruh yang kuat saat disiarkan oleh TVRI. Salah satu daya tank dan kekuatan dari film boneka Si Unyil adalah pads kekuatan ekspresi visual yang didukung oleh kekuatan ceritera yang mengandung unsur-unsur ketegangan, kelucuan, kesedihan, kejenakaan. Cerita yang dimunculkan adalah peristiwa-peristiwa yang sudah akrab dengan kehidupan anak-anak sehari-hari. Tema-tema yang disuguhkan sebagian besar selalu dikaitkan dengan nisi pemerintah di jaman Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ekspresi boneka memakai kajian wanda. Istilah "wanda" digunakan untuk kupasan boneka saat boneka tersebut dimainkan oleh dalang atau saat tampil dilayar televisi. Wanda mengandung arti menyeluruh, yang menunjukkan suasana hati, keadaan fisik, dan lingkungan tokoh boneka. Wanda adalah raut tertentu dalam wayang berdasarkan permintaan dalang untuk mempertunjukkan tokoh tertentu dalam cerita tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran ekspresi peran dan wanda pada beberapa tokoh tertentu merupakan representasi dari kondisi manusia Indonesia. Ciri-ciri manusia Indonesia yang diperankan dalam film boneka Si Unyil adalah sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam menganalisa tampilan visual tokoh-tokoh dalam film boneka Si Unyil adalah dari tokohtokoh boneka yang paling sering tampil di layar televisi dan memiliki peran yang cukup menonjol pada setiap episodenya. Tulisan ini berisi tentang latar belakang kelahiran dan pembuatan film boneka Si Unyil, dokumentasi, rangkuman dan perjalanan film boneka Si Unyil selama periode tahun 1981 hingga tahunl992.&lt;br /&gt;Sumber : http://digilib.art.itb.ac.id&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 153);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-8055286758751903004?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/8055286758751903004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=8055286758751903004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/8055286758751903004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/8055286758751903004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/06/si-unyil-hidup-lagi.html' title='Si Unyil Hidup Lagi'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnLciczkVWI/AAAAAAAAAGo/3aZSLCQSHJ4/s72-c/bonekaunyil1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-3701087556079183933</id><published>2007-06-06T01:43:00.000-07:00</published><updated>2007-06-23T15:55:15.374-07:00</updated><title type='text'>KISAH HARIMAU BERSUARA KAMBING</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RmZ2pszkVVI/AAAAAAAAAGg/zW42ESy4oN4/s1600-h/harimau1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 140px; height: 142px;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RmZ2pszkVVI/AAAAAAAAAGg/zW42ESy4oN4/s320/harimau1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072872489053607250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RmZ1vMzkVUI/AAAAAAAAAGY/psVrR8lvhRw/s1600-h/landak.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 143px; height: 142px;" src="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RmZ1vMzkVUI/AAAAAAAAAGY/psVrR8lvhRw/s320/landak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072871484031259970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h1 style="color: rgb(51, 0, 153); font-weight: bold; text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(STOP PRESS!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 style="color: rgb(51, 0, 153); font-weight: bold; text-align: justify;" class="western"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dongeng Papinto Badut: “Kisah Harimau Bersuara Kambing”&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pada jaman dahulu kala hiduplah 13 ekor harimau di hutan &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Alastlogo&lt;/span&gt;, yang merupakan wilayah kerajaan Sulaiman. Sudah menjadi kebiasaan penghuni hutan untuk selalu kalang kabut berlarian serta mengalami  kebisingan bila sekawanan Harimau itu berburu mengejar para rusa yang hendak mereka mangsa bila lapar. Ya, kawanan Harimau itu selalu berburu rusa, binatang yang paling disukainya.  Keadaan ini amat tidak menguntungkan karena populasi rusa terus menyusut dan bila tidak segera dicegah lama kelamaan populasi rusa akan habis. Hal ini akan merusak keseimbangan alam di hutan Alastlogo, disamping itu suara auman Harimau  yang membikin gaduh ketika lapar akan menyebarkan kebisingan dan kecemasan  terutama bagi binatang yang sedang menyusui anaknya atau yang lagi beristirahat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya dicapai kesepakatan antar penghuni hutan, bahwa untuk menghindari keributan dan kecemasan akibat ulah berburu kawanan  harimau serta menjaga penghuni hutan dari gangguan kawanan srigala yang suka mencari mangsa di malam hari maka para binatang mempercayakan keamanan penghuni hutan pada 13 harimau yang hidup bersama mereka dengan syarat para penghuni hutan akan menyediakan makanan yang cukup bagi kawanan harimau tersebut. Pada mulanya, kawanan harimau itu menolak untuk mengemban tugas itu, sebab sebagai binatang pemangsa mereka dikaruniai naluri membunuh serta berhak memburu dan memangsa binatang kesukaannya yaitu rusa, tetapi karena upaya si Burung Tikukur ketua majelis para binatang penghuni Alastlogo berhasil menyampaikan usulannya  pada Raja Sulaiman, bahwa untuk menjaga ketentraman, kelestarian dan keseimbangan penghuni hutan, maka sebaiknya akan dipersembahkan binatang2 tua untuk dimangsa oleh ke 13 harimau itu dengan syarat kehidupan mereka dilindungi dari kawanan srigala. Usulan ini diterima oleh Raja Sulaiman, maka dipanggilah ke 13 Harimau itu untuk menghadap kepadanya di istana keesokan harinya. Setelah kawanan Harimau itu menghadap, maka Raja Sulaiman menawarkan risalahnya agar mereka tidak usah berburu mangsa lagi bila lapar, untuk mencukupi kebutuhan makannya para penghuni hutan akan menyediakan makanan secukupnya saat kapanpun mereka lapar asal mereka bersedia mengemban tugas sebagai pelindung para penghuni hutan. Kawanan Harimau itu menyatakan pikir pikir dulu, sebab hal ini akan membunuh nalurinya untuk berburu. Tetapi karena merasa segan dan takut pada Raja Sulaiman, kawanan Harimau itu menyatakan setuju. “&lt;i&gt;Hai harimau aku ucapkan terima kasih atas kesediaanmu, mulai sekarang bila engkau lapar, tunjuklah binatang mana yang paling kamu suk&lt;/i&gt;a &lt;i&gt;untuk dimangsa, tetapi ingat jangan memangsa binatang yang masih anak-anak, sebab bila engkau memangsanya juga engkau akan menerima kutukanku, suaramu akan berubah mengembik&lt;/i&gt; &lt;i&gt;seperti seekor kambing, sedangkan cakar dan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;kedua taringmu akan hilang selama 100 tahun&lt;/i&gt;.  Mendengar kutukan Raja Sulaiman Kawanan  harimau merasa ketakutan dan berjanji akan mematuhi peringatan itu. Kini, sudah 30 tahun lamanya tugas sebagai pelindung para binatang dijalani oleh kelompok harimau, selama itu pula mereka tidak usah capek capek lagi berburu mengejar mangsa untuk dimakan sampai suatu ketika datanglah seekor ular yang datang menghasut. “&lt;i&gt;Hai harimau, tidakkah engkau bosan dengan menu makanan binatang yang sudah tua? Apakah engkau tidak tahu bahwa sesungguhnya Raja Sulaiman berbohong padamu? Sesungguhnya bila engkau makan binatang yang muda dan segar apalagi yang masih anak-anak, engkau justru akan mendapatkan kasiat panjang umur dan tidak akan bisa mati.&lt;/i&gt;Pada mulanya Harimau tidak menghiraukan hasutan tersebut, tetapi karena hasutan ular selalu diberikan terus menerus setiap kali ada kesempatan, maka timbul juga pikiran liar sang pimpinan Harimau. “&lt;i&gt;Hai ular, benar juga katamu bahwa daging binatang tua amat membosankan, tetapi bagaimana bila kutukan Raja Sulaiman menjadi kenyataan, aku akan kehilangan taring dan cakar serta akan bersuara mirip seekor kambing bila makan daging binatang yang masih anak-anak, tentu hal ini akan memalukan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;kelompok kami&lt;/i&gt;” kata pimpinan Harimau. “&lt;i&gt;O, jangan kuatir, agar kutukan itu tidak lagi bertuah, sebaiknya engkau makan anak Landak, peliharaan Raja Sulaiman, dan harus enkau makan saat bulan purnama. Engkau bisa menyuruh Srigala untuk mencurinya di diperkebunan &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Lekok&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;” bujuk Ular. “&lt;i&gt;Hai Ular, bukankah Landak itu memiliki bulu duri yang amat keras dan kuat, aku tak sanggup memakannya aku takut tertusuk&lt;/i&gt;” kata Harimau. “&lt;i&gt;Memang benar hai Harimau bila Landak itu dewasa bulu durinya akan membahayakan, tapi bila masih bayi atau anak-anak duri itu amat lunak, jadi tidak akan membahayakan kamu bila kamu makan&lt;/i&gt;” jelas Si Ular. Rupanya hasutan Si Ular berhasil, sebab Harimau bersedia saja berunding dengan Srigala, binatang yang seharusnya ia musuhi demi keinginannya untuk menikmati daging binatang muda dan ingin hidup terus serta bebas dari kematian. Akhirnya dicapai kesepakatan untuk mencuri anak Landak, binatang peliharaan Raja Sulaiman itu di perkebunan ubi kayu Lekok pada malam hari, sedangkan pada siang harinya kawanan Harimau itu pura pura berpatroli keliling kebun menjaga keamanan sambil membawa serta Srigala untuk dilepas bersembunyi di kebun menunggu senja tiba.&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Warga perkampungan Landak di kebun Lekok tak menaruh curiga pada patroli Harimau siang itu. Seperti biasanya bila berpapasan, warga Landak selalu tersenyum penuh rasa hormat sebagai tanda segan pada kawanan Harimau yang melindungi mereka. Setelah kawanan Harimau melepaskan Srigala di ujung kebun untuk bersembunyi, maka kawanan Harimau segera pulang dan berjanji ketemu keesokan harinya dengan Srigala ditepi sungai &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Grati&lt;/span&gt; pada saat bulan purnama. Akhirnya senjapun tiba, matahari pada gilirannya tenggelam untuk mematikan cahayanya, para binatangpun segera berangkat tidur tidak terkecuali para Landak di perkebunan Lekok. Dengan mengendap endap Srigala keluar dari persembunyiannya dan dengan segala daya upaya mulai mencari akal untuk mencuri anak Landak di perkampungan itu. Tanpa mengalami kesulitan Srigala berhasil membawa lari seekor anak Landak yang  akan diserahkan pada pimpinan Harimau untuk disantap. Tibalah saatnya bulan purnama,  kawanan Harimau segera bergegas pergi menuju ke tepi sungai Grati, mereka tak sabar untuk segera ingin menikmati daging anak Landak agar terbebas dari kutukan Raja Sulaiman. Tak lama kemudian Srigala datang membawa anak Landak dalam kondisi terikat kehadapan pimpinan Harimau. “&lt;i&gt;Bagaimana Srigala, bolehkah aku memakannya sekarang&lt;/i&gt;? tanya pimpinan Harimau tak sabar. “&lt;i&gt;Tunggu dulu kita perlu mendapat aba aba dari Si Ular, ia yang&lt;/i&gt; &lt;i&gt;akan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;memimpin upacara ini&lt;/i&gt;” kata Srigala. Tak lama kemudian air tiba2 beriak lalu muncullah si Ular dari dalam air. Segera Si Ular mendekati Srigala dan membisikkan sesuatu, Srigala mengangguk angguk tanda mengerti. “&lt;i&gt;Hai Harimau, kami akan berenang menyeberang  sungai, bila nanti kami sampai di seberang, maka saat itulah kau harus menyantap anak Landak ini&lt;/i&gt;” kata Srigala. Dengan hati berdebar Harimau mulai mendekati calon mangsanya, anak Landak. Bau aroma daging anak Landak itu telah meneteskan air liurnya, sudah lama ia ingin menikmati kelezatan daging muda dan segera terbebas dari kutukan Raja Sulaiman. Akhirnya Srigala dan Ular telah sampai di seberang sungai, segera mereka berteriak pada Harimau. “&lt;i&gt;Baiklah Harimau , sekaranglah saatnya kau santap anak Landak&lt;/i&gt; &lt;i&gt;itu!&lt;/i&gt; teriak Srigala. Tanpa pikir panjang secepat kilat diterkamnya anak Landak itu. Kedua taringnya dihunjamkan sekuat tenaga menembus dada anak Landak itu, jerit kesakitan melengking membelah kesunyian malam bulan purnama di tepi sungai itu, sesaat kemudian anak Landak itupun mati. Bersamaan dengan hilangnya lengkingan kesakitan anak Landak itu, Harimau merasakan keanehan pada giginya, daging anak Landak itu tak mau melekat pada giginya, terasa gigi taringnya hilang kemudian dirasakan juga kuku cakarnya tak mau keluar walaupun ia berusaha mencengkeram mengeluarkannya. Segera ia berlari menuju tepi sungai dan bercermin pada permukaan air dibawahnya. Ia meringis membuka mulutnya untuk melihat  barisan giginya. Betul, disana tak ada lagi taring yang dibanggakannya selama ini. Taring itu hilang. Ia mulai sadar dan teringat pada kutukan Raja Sulaiman agar tidak memangsa anak-anak binatang. Harimau merasa tertipu oleh hasutan Si Ular. Harimau itu histeris dan mengaum keras sekali, tapi kembali terjadi keanehan dirasakannya suara auman yang dibanggakannya juga hilang berubah menjadi suara mengembik bagaikan seekor Kambing. Harimaupun menangis menyesali perbuatannya, tapi sudah terlambat kutukan Raja Sulaiman sudah jatuh. Peritiwa ini terjadi juga pada ke-12 Harimau lainnya. Sementara itu di seberang sungai, Ular dan Srigala tertawa tawa terbahak bahak  menyaksikan peristiwa itu. Rupanya mereka puas dapat memperdaya Harimau yang amat ditakuti itu. Kini di hutan Alastlogo, ke 13 harimau itu tak lagi disegani, karena mereka mulai makan rumput dan mengembik seperti layaknya seekor Kambing. Hal ini akan berlangsung selama 100 tahun sebagai hukuman atas pelanggran terhadap larangan Raja Sulaiman.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selesai.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;h1 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Riwayat Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Hans Christian Andersen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 111px; height: 156px;" src="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnMOKMzkVXI/AAAAAAAAAGw/J8UK-5Iifo8/s320/180px-Hans_Christian_Andersen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076416773375677810" border="0" /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;a style="color: rgb(153, 0, 0);" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RnMOKMzkVXI/AAAAAAAAAGw/J8UK-5Iifo8/s1600-h/180px-Hans_Christian_Andersen.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Hans Christian Andersen&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2_April" title="2 April"&gt;2 April&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1805" title="1805"&gt;1805&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/4_Agustus" title="4 Agustus"&gt;4 Agustus&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1875" title="1875"&gt;1875&lt;/a&gt;) adalah seorang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penulis" title="Penulis"&gt;penulis&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penyair" title="Penyair"&gt;penyair&lt;/a&gt; berkebangsaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Denmark" title="Denmark"&gt;Denmark&lt;/a&gt; yang paling terkenal berkat karya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dongeng" title="Dongeng"&gt;dongengnya&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Kehidupan_masa_kecilnya"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kehidupan masa kecilnya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Andersen lahir di kawasan kumuh kota &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Odense" title="Odense"&gt;Odense&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Denmark" title="Denmark"&gt;Denmark&lt;/a&gt; bagian selatan, pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2_April" title="2 April"&gt;2 April&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1805" title="1805"&gt;1805&lt;/a&gt;. Ayahnya, Hans Andersen adalah seorang pembuat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sepatu" title="Sepatu"&gt;sepatu&lt;/a&gt; yang miskin dan buta huruf yang merasa dirinya masih keturunan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bangsawan&amp;action=edit" title="Bangsawan"&gt;bangsawan&lt;/a&gt;. Sedangkan ibunya Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Walau besar dalam lingkungan yang miskin, sejak kecil Hans Christian Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng. Ia juga akrab dengan pertunjukkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sandiwara" title="Sandiwara"&gt;sandiwara&lt;/a&gt;. Kendati tak mengenal bangku sekolah dan percaya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Takhayul&amp;action=edit" title="Takhayul"&gt;takhayul&lt;/a&gt;, sang ibunya yang membuat H.C Andersen berkenalan dengan certa-cerita Rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Di kemudian hari, H.C. Andersen sempat melukiskan sosok sang Ibu dalam berbagai novelnya, misalnya dari cerita yang berjudul &lt;i&gt;Hun Duede Ikke&lt;/i&gt;. Sayang Ibunya belakangan terjebak menjadi seorang pemabuk berat sebelum wafat pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1833" title="1833"&gt;1833&lt;/a&gt; di sebuah panti jompo.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ayahnya seorang pencinta &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra" title="Sastra"&gt;sastra&lt;/a&gt;. Lelaki itu kerap mengajak Hans menonton pertunjukkan sandiwara. Dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Otobiografi&amp;action=edit" title="Otobiografi"&gt;otobiografinya&lt;/a&gt;, &lt;i&gt;The True Story of My Life&lt;/i&gt; yang terbit pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1846" title="1846"&gt;1846&lt;/a&gt;, H.C. Andersen menulis, "Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng. hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu". Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1816" title="1816"&gt;1816&lt;/a&gt; ayah H.C Andersen meninggal.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sikap dan pengalaman dari orang tua itulah yang membuah H.C. Andersen tertarik dengan dunia mainan, cerita, sandiwara termasuk karya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/William_Shakespeare" title="William Shakespeare"&gt;William Shakespeare&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Masa-masa_sulit"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:130%;"&gt;Masa-masa sulit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Setelah ayahnya meninggal. H.C. Andersen yang belum lama mengenyam pendidikan formal akhirnya bekerja serabutan di antaranya pernah bekerja di sebuah pabrik &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rokok" title="Rokok"&gt;rokok&lt;/a&gt;, magang di sebuah penjahit dan bekerja sebagai penenun. Ia terpaksa memburuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1819" title="1819"&gt;1819&lt;/a&gt;, ia pindah menuju ibu &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Denmark&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kopenhagen" title="Kopenhagen"&gt;Kopenhagen&lt;/a&gt;. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ia berharap untuk menjadi seorang aktor, penyanyi atau penari. Tiga tahun di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu, ia menjalani kehidupan yang sulit.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Awalnya, Andersen sempat berhasil bergabung dengan Royal Theater. Tetapi ketika suaranya berubah karena masa pubertas, ia terpaksa meninggalkan panggung sandiwara. Andersen kemudian meninggalkan peran sebagai aktor dan penyanyi. Ia merasa lebih tepat dittunjuk sebagai penyair. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Anderson&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mecoba menjadi seorang penulis sandiwara. tetapi sayang, semua karyanya ditolak dimana-mana.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Bertemu_dengan_Raja_Denmark"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bertemu dengan Raja Denmark&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada masa-masa sulit itulah dia bertemu dengan Raja &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Denmark&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Frederik_VI_dari_Denmark&amp;action=edit" title="Frederik VI dari Denmark"&gt;Frederik VI&lt;/a&gt;, yang tertarik dengan penampilan Hans muda. Raja &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Frederick&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kemudian mengirimkan Andersen untuk bersekolah. Berkat kebaikan raja, Andersen berkesempatan mengenyam pendidikan di sebuah sekolah bahasa di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Slagelse&amp;amp;action=edit" title="Slagelse"&gt;Slagelse&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Elsinore" title="Elsinore"&gt;Elsinore&lt;/a&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1927" title="1927"&gt;1927&lt;/a&gt;. Sebelum sekolah, ia sempat hingga  menerbitkan jilid pertama karyanya yang berjudul &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Gost_at_Palnatoke%27s_Grave&amp;action=edit" title="The Gost at Palnatoke's Grave"&gt;The Gost at Palnatoke's Grave&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1822" title="1822"&gt;1822&lt;/a&gt;).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Di bangku sekolah, Andersen termasuk siswa tertinggal, lagipula dia menjalaninya dengan setengah hati. Menurutnya, kurun masa sekolah adalah masa-masa gelap dan menyakitkan dalam hidupnya. Dia merasa sangat tidak nyaman berada ditengah para siswa yang berusia enam tahun lebih muda dari dirinya. Kepala sekolahnya yang bernama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Meilsing&amp;action=edit" title="Meilsing"&gt;Meilsing&lt;/a&gt;, yang rumahnya sempat ditempati Andersen, menyebut karakter pemuda ini sangat sensitf dan sukar ditenggang.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Beruntung, setamat dari sekolah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa" title="Bahasa"&gt;bahasa&lt;/a&gt;, Andersen melanjutkan studi ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Universitas_Kopenhagen&amp;action=edit" title="Universitas Kopenhagen"&gt;Universitas Kopenhagen&lt;/a&gt;. Salah seorang direktur Royal Theater, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jonas_Collin&amp;amp;action=edit" title="Jonas Collin"&gt;Jonas Collin&lt;/a&gt;, mendesak dia untuk menjalani pendidikan sampai tamat dan dia pula yang membiayai. Sambil kuliah, pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1828" title="1828"&gt;1828&lt;/a&gt; Hans Christian menulis kisah perjalanan yang berjudul &lt;i&gt;Fodreise fra Holmens Kanal Til Ostpynten af Amager&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;Berjalan kaki dari Kanal Holmen ke Titik Timur Amager&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kisah ini mendapat sambutan yang luar biasa. Andersen menggarap ceritanya dengan meminjam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; penulisan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=E.T.A_Hoffmann&amp;action=edit" title="E.T.A Hoffmann"&gt;E.T.A Hoffmann&lt;/a&gt; seorang pengarang roman asal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman" title="Jerman"&gt;Jerman&lt;/a&gt;. Sejak itu, puisinya yang berjudul "&lt;i&gt;The Dying Child&lt;/i&gt;" diterbitkan oleh sebuah jurnal sastra di Kopenhagen. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1829" title="1829"&gt;1829&lt;/a&gt;, Royal Theater juga mementaskan drama musik karya Andersen.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Andersen juga menuangkan kisah pribadinya dalam kumpulan puisi berjudul "&lt;i&gt;Phantasier og Skisser&lt;/i&gt;" pada saat jatuh cinta pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Riborg_Voigt&amp;action=edit" title="Riborg Voigt"&gt;Riborg Voigt&lt;/a&gt;. Sayang, cintanya tidak bersambut, karena perempuan itu menikah dengan lelaki lain pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1831" title="1831"&gt;1831&lt;/a&gt;. "Aku benar-benar ingin mati saja", ujarnya kepada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Edvard&amp;amp;action=edit" title="Edvard"&gt;Edvard&lt;/a&gt;, anak laki-laki Jonas Collin. Saat itu secara tidak sadar ia menggemakan melankoli ala &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Goethe" title="Goethe"&gt;Goethe&lt;/a&gt; dalam "&lt;i&gt;The Sorrows of young Werther&lt;/i&gt;". Meskipun ia tidak pernah bertemu Goethe, penyair &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman" title="Jerman"&gt;Jerman&lt;/a&gt; sekalipun Goethe masih hidup ketika Hans berkelana ke Jerman.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Berkelana"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:100%;"&gt;Berkelana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hans Christian Andersen pergi berkelana ke luar negeri selain Jerman. Hingga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1833" title="1833"&gt;1833&lt;/a&gt;, Raja Frederick VI bersedia membiayai seluruh perjalanan Andersen ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perancis" title="Perancis"&gt;Perancis&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Swedia" title="Swedia"&gt;Swedia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spanyol" title="Spanyol"&gt;Spanyol&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugal" title="Portugal"&gt;Portugal&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Italia" title="Italia"&gt;Italia&lt;/a&gt; bahkan hingga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah" title="Timur Tengah"&gt;Timur Tengah&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Berbagai kunjungan itu melahirkan setumpuk kisah perjalanan. Ketika melawat ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paris" title="Paris"&gt;Paris&lt;/a&gt;, Andersen bertemu dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Victor_Hugo" title="Victor Hugo"&gt;Victor Hugo&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alexandre_Dumas" title="Alexandre Dumas"&gt;Alexandre Dumas&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Heinrich_Heine&amp;action=edit" title="Heinrich Heine"&gt;Heinrich Heine&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Balzac&amp;amp;action=edit" title="Balzac"&gt;Balzac&lt;/a&gt;. Di tengah perjalanan panjang ini pula, ia sempat menyelesaikan penulisan "&lt;i&gt;Agnette and the Merman&lt;/i&gt;".&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pada awal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1835" title="1835"&gt;1835&lt;/a&gt;, novel pertama Andersen terbit dan meraih sukses besar. Sebagai novelis, ia membuat terobosan lewat &lt;i&gt;The Imrpvisator&lt;/i&gt;, karya yang ditulisnya pada tahun yang sama. Cerita yang mengambil setting &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Italia" title="Italia"&gt;Italia&lt;/a&gt; inimencerminkan kisah hidupnya sendiri; &lt;i&gt;melukiskan upaya seorang bocah miskin masuk ke dalam lingkungan pergaulan masyarakat&lt;/i&gt;. Malah sampai akhir hayatnya, buku &lt;i&gt;The Improvisatore&lt;/i&gt; inilah yang paling banyak dibaca orang banyak dibandingkan dengan karya karya Andersen yang lain. Sejak buku ini terbit, masa masa sulit Andersen mulai berubah. Sepanjang 1835, ia meluncurkan tujuh cerita dongeng yang disusun jauh hari sebelumnya.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name="Novel_dan_karya-karyanya"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:100%;"&gt;Novel dan karya-karyanya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Untuk menggenapkan karyanya, Andersen melahirkan karya-karya novel baru pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1836" title="1836"&gt;1836&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1837" title="1837"&gt;1837&lt;/a&gt;. Disamping puluhan cerita dongeng yang terbit dalam kurun waktu tersebut, novel kedua, &lt;i&gt;O.T&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Only A Fiddler&lt;/i&gt;. Ia juga berpolemik dengan filusuf &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Denmark&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; terkemuka, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Soren_Aabye_Kierkegaard&amp;action=edit" title="Soren Aabye Kierkegaard"&gt;Soren Aabye Kierkegaard&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Lewat buku berjudul &lt;i&gt;Af En Endnu Levendes papirer&lt;/i&gt; yang terbit pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1838" title="1838"&gt;1838&lt;/a&gt;, filsuf &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Denmark&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tersebut mengkritik habis novel-novel Andersen. "Pergulatan hidup tak menyenangkan yang dialami Andersen kini terulang lewat karya-karyanya," tulis kierkegaard.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kritik itu segera dijawab Andersen lewat karyanya yang terbit pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1840" title="1840"&gt;1840&lt;/a&gt; yang berjudul &lt;i&gt;En Comedie I det Gronne&lt;/i&gt;. Ia menyerang Kierkegaard dengan cerita yang menggambarkan betapa tidak praktisnya pemikiran sang filsuf tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kendati novel-novelnya mendapat sambutan besar, nama Hans Christian Andersen di dunia justru menjulang sebagai penulis dongeng anak-anak. Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1835" title="1835"&gt;1835&lt;/a&gt;, ia meluncurkan cerita anak-anak &lt;i&gt;Tales for Children&lt;/i&gt; dalam bentuk buku saku berharga murah. Lalu kumpulan cerita bertajuk &lt;i&gt;Fairy Tales and Story&lt;/i&gt; digarapnya dalam kurun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1836" title="1836"&gt;1836&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1872" title="1872"&gt;1872&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Serial anak-anaknya yang kebanyakan terbit pada hari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Natal&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu tidak hanya kisah kisah yang dibuat olehnya. Andersen juga mengungkap kembali dongeng anak-anak yang kerap didengarnya semasa kecil. Sepanjang hayatnya ia menulis 156 cerita. Dari jumlah itu, 12 dongeng ditulisnya berdasarkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cerita_rakyat&amp;action=edit" title="Cerita rakyat"&gt;cerita rakyat&lt;/a&gt; &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Denmark&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Selebihnya merupakan cerita khayali yang lahir dari buah pikirannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dua dari cerita dongengnya yang amat kesohor, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Little_Mermaid&amp;action=edit" title="The Little Mermaid"&gt;The Little Mermaid&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Emperor%27s_New_Clothes&amp;amp;action=edit" title="The Emperor's New Clothes"&gt;The Emperor's New Clothes&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, diterbitkan dalam kumpulan cerita pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1837" title="1837"&gt;1837&lt;/a&gt;. Tujuh dongengnya yang lain: &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Little_Ugly_Duckling&amp;action=edit" title="Little Ugly Duckling"&gt;Little Ugly Duckling&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Tinderbox&amp;amp;action=edit" title="The Tinderbox"&gt;The Tinderbox&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Little_Claus_and_Big_Claus&amp;action=edit" title="Little Claus and Big Claus"&gt;Little Claus and Big Claus&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Princess_and_the_Pea&amp;amp;action=edit" title="Princess and the Pea"&gt;Princess and the Pea&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Snow_Queen&amp;action=edit" title="The Snow Queen"&gt;The Snow Queen&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Nightingale&amp;amp;action=edit" title="The Nightingale"&gt;The Nightingale&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Steadfast_Tim_Soldier&amp;action=edit" title="The Steadfast Tim Soldier"&gt;The Steadfast Tim Soldier&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, juga dikenal di berbagai belahan dunia sebagai cerita yang kerap didongengkan pada anak-anak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Lewat berbagai karyanya, Andersen dinilai menerobos pagar-pagar &lt;st1:city st="on"&gt;baku&lt;/st1:city&gt; yang dianut pengarang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Denmark&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada masa itu. Baik &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; penceritaan maupun isi ceritanya berhasil memasukkan idiom-idiom dan bahasa lisan yang merupakan hal baru dalam dunia 'kepengarangan' negeri itu. Ia memasukkan pesan dan nilai moral dalam ceritanya tanpa menggurui sama sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bisa dilihat dari kisah dongeng &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Emperor%27s_new_Clothes&amp;action=edit" title="The Emperor's new Clothes"&gt;The Emperor's new Clothes&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Pesan bahwa keserakahan itu tidak baik disampaikan Andersen lewat parodi raja lalim yang cukup menggelikan itu. Salah satu ciri lain yang menonjol dalam cerita dongeng Andersen adalah hadirnya kaum papa dan mereka yang tidak beruntung dalam hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dalam sebagian besar karyanya pun tampak optimismenya bahwa yang baik akan selalu menang dan meraih akhir yang bahagia. Kecuali kisah &lt;i&gt;The little Mermaid&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Little_Match_Girl&amp;action=edit" title="The Little Match Girl"&gt;The Little Match Girl&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; yang berakhir dengan kesedihan. Dalam &lt;i&gt;The Little Mermaid&lt;/i&gt; misalnya, Andersen berusaha mengungkapkan bahwa betapa keinginan meraih hal yang diimpikan ternyata berbuah nestapa.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Pengaruh_karyanya_di_dunia_kisah_anak-an"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:100%;"&gt;Pengaruh karyanya di dunia kisah anak-anak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tak bisa disangkal, cerita-cerita dongeng Andersen memang berisi pesan-pesan moral universal. Maka tidaklah mengherankan bila karya-karyanya itu kemudian diterjemahkan tak kurang ke dalam 147 &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa" title="Bahasa"&gt;bahasa&lt;/a&gt; di dunia. Buah tangannya pun tudak sebatas "pelajaran" untuk anak-anak melainkan dibaca oleh orang dewasa di seluruh dunia. Meski terjemahan karyanya baru muncul pertama kali dalam edisi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris" title="Bahasa Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt; pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1846" title="1846"&gt;1846&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bukan itu saja, H.C. Andersen disebut-sebut menanamkan banyak pengaruh kepada para penulis cerita lainnya di Eropa. Sebut saja &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Dickens" title="Charles Dickens"&gt;Charles Dickens&lt;/a&gt;, pengarang Inggris yang terkenal dengan karya karya seperti &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=A_Christmas_Carol_in_Prose&amp;action=edit" title="A Christmas Carol in Prose"&gt;A Christmas Carol in Prose&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Chimes&amp;amp;action=edit" title="The Chimes"&gt;The Chimes&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Cricket_on_the_Hearth&amp;action=edit" title="The Cricket on the Hearth"&gt;The Cricket on the Hearth&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Haunted_Man_and_the_Ghost%27s_Bargain&amp;amp;action=edit" title="The Haunted Man and the Ghost's Bargain"&gt;The Haunted Man and the Ghost's Bargain&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Juga pada pengarang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa" title="Eropa"&gt;Eropa&lt;/a&gt; lainnya seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=William_Thackeray&amp;action=edit" title="William Thackeray"&gt;William Thackeray&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oscar_Wilde" title="Oscar Wilde"&gt;Oscar Wilde&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=C.S_Lewis&amp;amp;action=edit" title="C.S Lewis"&gt;C.S Lewis&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dalam kurun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1840" title="1840"&gt;1840&lt;/a&gt; hingga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1857" title="1857"&gt;1857&lt;/a&gt;, Andersen kembali melawat ke sejumlah egara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa" title="Eropa"&gt;Eropa&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Turki" title="Turki"&gt;Turki&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika" title="Afrika"&gt;Afrika&lt;/a&gt; dan menuliskan kesan dalam buku-buku yang menuliskan kisah perjalanannya. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1855" title="1855"&gt;1855&lt;/a&gt;, Andersen menulis ulang memoarnya yang berjudul &lt;i&gt;The Fairy Tale of My Life&lt;/i&gt;. Kisah hidup edisi ulang itulah yang hingga kini dinilai sebagai buku standar riwayat pendongeng legendaris ini.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Akhir_hidup"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:130%;"&gt;Akhir hidup&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Setelah berkelana lagi di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paris" title="Paris"&gt;Paris&lt;/a&gt;, Andersen jatuh sakit pada musim semi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1872" title="1872"&gt;1872&lt;/a&gt;. beberapa penyakit menggerogoti lelaki kurus ini. Selama tiga tahun terbaring tanpa daya di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rolighed&amp;action=edit" title="Rolighed"&gt;Rolighed&lt;/a&gt; dekat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kopenhagen" title="Kopenhagen"&gt;Kopenhagen&lt;/a&gt;, pengarang legendaris ini wafat pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/4_Agustus" title="4 Agustus"&gt;4 Agustus&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1874" title="1874"&gt;1874&lt;/a&gt;. Ia dimakamkan dpemakaman khusus Kopenhagen.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sepanjang hayatnya, H.C Andersen tidak pernah menikah. Patah hati mendalam rupanya dialami pengarang besar ini setelah cinta matinya kepada penyanyi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Opera" title="Opera"&gt;opera&lt;/a&gt; berdarah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Swedia" title="Swedia"&gt;Swedia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jenny_Lind&amp;action=edit" title="Jenny Lind"&gt;Jenny Lind&lt;/a&gt;, ternyata bertepuk sebelah tangan. Di peristirahatannya yang terakhir, H.C. Andersen hanya ditemani oleh guru sekaligus sahabatnya, Jonas Collin, yang dimakamkan bersebelahan dengannya.&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;a name="Tamu_yang_tak_tahu_malu"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"  style="font-size:130%;"&gt;Tamu yang tak tahu malu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sepanjang hidupnya, Hans Christian Andersen ternyata tak pernah memiliki &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah" title="Rumah"&gt;rumah&lt;/a&gt;. Sejak kecil hingga akhir hayatnya, ia selalu hidup di rumah para &lt;i&gt;patron&lt;/i&gt; (tokoh masyarakat) yang kaya raya. Jika tidak, ia tinggal di kamar sewaan dengan perabot yang minim atau di hotel. Tetapi jika tidak sedang dalam perjalanan, ia pasti tinggal lama di rumah orang-orang yang cukup baik hati mengundangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tapi tidak semua tuan rumah bahagia dengan kunjungan Andersen. Pengarang ternama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Dickens" title="Charles Dickens"&gt;Charles Dickens&lt;/a&gt; misalnya, akhirnya merasa terganggu oleh kehadiran Andersen di rumahnya. Andersen pertama kali berjumpa dengan Dickens ketika ia berkunjung ke Inggris pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1847" title="1847"&gt;1847&lt;/a&gt;. Keduanya saling mengagumi. Andersen menggambarkan, betapa bahagia dirinya ketika Dickens berkunjung ke penginapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sebenarnya tak jelas, seberapa dekat hubungan Dickens dengan Andersen ini. Tapi sebagian pengamat menyebut karakter &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Uriah_Heep&amp;action=edit" title="Uriah Heep"&gt;Uriah Heep&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dalam &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=David_Coperfield&amp;amp;action=edit" title="David Coperfield"&gt;David Coperfield&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, salah satu karya Dickens yang terbit empat tahun setelah pertemuan mereka berdua, ditulis Dickens berdasarkan karakter Andersen.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ketika Andersen berkunjung ke Inggris, satu dasawarsa kemudian, Dickens tak sekedar menyambangi, ia malah mengundang Andersen tinggal di rumahnya. Menurut biografi Andersen yang ditulis &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jackie_Wullschlager&amp;action=edit" title="Jackie Wullschlager"&gt;Jackie Wullschlager&lt;/a&gt;, kunjungan di rumah Dickens ini jauh dari sukses.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kala itu, Dickens dengan istrinya sedang dalam krisis perkawinan yang sungguh parah. Komunikasi mereka dengan Andersen pun tak terjalin baik. Maklum, suami-istri Dickens sama sekali tidak mengerti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Denmark" title="Bahasa Denmark"&gt;bahasa Denmark&lt;/a&gt; sedangkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris" title="Bahasa Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt; Andersen jauh dari memadai. Hasilnya, keluarga Dickens segera menginginkan Andersen pergi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tapi, bukannya pergi, Andersen justru memperlama masa tinggalnya menjadi dua kali waktu yang diundang Dickens. "Kami benar-benar menderita karena Andersen," tulis Dickens dalam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kepada salah satu sahabatnya. Ketika Andersen akhirnya pergi, Dickens menancapkan catatan di pintu kamar yang didiami Andersen. Di situ tertulis "Hans Andersen tidur di kamar ini selama &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; minggu. Tapi bagi kami rasanya berabad-abad."&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber : http://id.wikipedia.org/&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-3701087556079183933?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/3701087556079183933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=3701087556079183933' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/3701087556079183933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/3701087556079183933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/06/kisah-harimau-bersuara-kambing.html' title='KISAH HARIMAU BERSUARA KAMBING'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RmZ2pszkVVI/AAAAAAAAAGg/zW42ESy4oN4/s72-c/harimau1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-5099949485342056864</id><published>2007-05-29T11:32:00.000-07:00</published><updated>2007-06-19T21:43:13.065-07:00</updated><title type='text'>Yatim Piatu, Anak Tak Beruntung.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rlx5v_cZYrI/AAAAAAAAAGQ/xznPntWc1as/s1600-h/Adolf_Hitler_by_koenta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rlx5v_cZYrI/AAAAAAAAAGQ/xznPntWc1as/s400/Adolf_Hitler_by_koenta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070061145903686322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Papinto Badut mendongeng didepan umum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peresmian ketua ranting baru Muhammadiyah cabang Karangpilang Surabaya memberiku kesempatan bermain teater dongeng monoplay. Aku all out, baik persiapan kostum, dongengan bahkan gerak gesture yang amat tetrikal. Bagaimana tidak, tampil didepan anak2 yatim piatu yang rata2 usia diatas 10 tahun serta masyarakat umum membuatku harus berani tampil beda dari para pendongeng biasa. Berdiri beraksi di panggung dengan mik podium permanen membuatku harus beraksi mengelilingi benda itu kalau tidak mau akan kehilangan efek suara.&lt;br /&gt;Cerita yang kubawakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Legenda Kota Surabaya&lt;/span&gt; dengan cerita asli  yang mengerikan itu karena bulan Mei masih dalam suasana ultah Surabaya. Dongengan kedua cerita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Si Simin yang cerdik&lt;/span&gt;, kisah tentang yatim piatu yang mampu mengalahkan dua raksasa karena kecerdikannya. Wah fren ini cerita sudah amat basi pada umur 8 tahun aku memperolehnya dari kakekku. Alhasil aku beruntung audiensku tak beranjak, tepuk tangan menggema aku bahagia. Suatu saat aku yakin akan muncul ke permukaan show tingkat nasional, aku mungkin lebih hebat dari Si Butet yang sering tampil monopaly yang dari Jogja itu. Kapankah ada kesempatan? mengingat budaya mendengarkan dongengan di Indonesia belum bangkit (kecuali dongeng kisah pewayangan). Oya bagaiman rasanya hidup dimasa kecil yang mengalami ketidak beruntungan? tak ada orangtua, tak ada kasih sayang. Mari santuni dan berbagi kebahagiaan dengan anak yatim piatu agar kelak ia dapat memiliki perkembangan emotional intelligent yang positip.  Anak2 yang tak berunyung ini akan berkembang kelak menuju puncak jati dirinya untuk menjadi Muhammad atau Hitler.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REVIEW&lt;br /&gt;HITLER: THE RISE OF EVIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing." Melihat film-film tentang holocaust salah satunya "The Schindler's list", tidaklah lengkap sebelum menonton film tentang kehidupan Hitler. JEW KILLED BY JEW, memang itulah kenyataan sejarah. Dalam Film mini-seri "HITLER: THE RISE OF EVIL", kita bisa mempelajari Hitler "in person" juga dikupas tuntas apa yang menjadi dasar Hitler membenci bangsanya sendiri. Film ini ditayangkan lagi di Cinemax sekitar 2 bulan lalu. Tapi juga bisa didapat dari DVD yang baru saja release. Tokoh Hitler diperankan dengan sempurna oleh Robert Carlyle (The Full Monty, James Bond The world is not enough, Angela Ashes, The Beach) . Hasil jerih-payah Carlyle yang telah melakukan riset sendiri dan training ketat untuk dapat memerankan tokoh "antagonis" sepanjang sejarah manusia, ini membuahkan banyak penghargaan dan pujian. Aksen Inggrisnya yang ok, membuat film ini semakin dramatis, Bravo! Keseluruhan film ini digarap dengan sempurna oleh sutradara Christian Duguay, dengan ekstra hati-hati, dan hasil sebuah riset yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sedang mengagung-agungkan Hitler, tetapi tidak selayaknya mencerca seseorang secara membabi buta tanpa melihat latar belakang dirinya. Seburuk-buruknya seseorang di mata siapapun juga, pasti ada sisi baik yang dapat kita ambil hikmahnya yang kadang luput dari sorotan khalayak ramai. Pendek kata, Hitler adalah seorang jenius. Seringkali, tabiat, perilaku dan pendirian seseorang adalah hasil dari pengalaman masa lalunya. Semasa kecil Hitler adalah seorang anak yang tertolak, ayahnya sangat membencinya dan menganggap perilakunya yang "antisosial" itu adalah sebuah kutukan kerena Alois Hitler (Ayah Hitler) mengawini keponakannya sendiri (Klara). Adi (nama kecil Adolf Hitler) dilahirkan pada tanggal 20 April 1889 di sebuah kota kecil di Austria dekat perbatasan Jerman. Ayahnya adalah seorang yang keras dalam mendidik anak sedang ibunya sangat baik kepadanya. Klara adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar disayangi oleh Adolf. Klara sangat percaya bahwa anaknya adalah seorang jenius, dan selalu menganggap anaknya normal, walaupun sejak kecil sudah menunjukkan gejala destruktif dan antisosial.&lt;br /&gt;Umur 18 tahun, Adolf sudah menjadi seorang yatim piatu setelah ibunya meninggal dunia sedangkan ayahnya sudah meninggal terlebih dulu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil yang diliputi dengan kebencian dan abusement dari ayahnya ini memberikan andil besar dalam mental dan kejiwaan Hitler dewasa. Ada hal yang harus kita pahami bahwa, jangan pernah meremehkan "dendam masa kecil". Contoh lain juga bisa kita dapati dari kisah Mao Tse Tung. Mao kecil pernah bersekolah di sekolah yang didirikan oleh para missionaris dari Eropa, oleh sebab suatu hal Mao dimaki oleh salah satu Pastor dengan makian yang bersifat rasialis "anjing kuning!" dan mulai saat itu Mao tidak pernah kembali ke sekolah itu. Membenci kaum agamawan. Kemudian menjadi pemimpim komunis terbesar di China, juga menjadi pembunuh massal, jutaan kaum terpelajar dan seniman tewas dibunuh dan dihukum kerja paksa dalam Revolusi Kebudayaan 1965. Nggak kalah sadis dengan Hitler :) Sebuah dendam masa kecil; inilah bahayanya jika itu dialami oleh seorang pemimpin! Hitler awalnya bercita-cita menjadi seorang seniman (bukan menjadi tentara/politikus). Sebagai pecinta seni, maka dia mencoba mendaftar ke sebuah fakultas seni di Wina, Austria, tetapi ditolak. Penolakan ini memiliki dampak besar bagi dirinya. Frustasi, yatim-piatu, tidak ada uang/ bokek, sehingga dia selama kira-kira setahun menjadi gelandangan, hidup dari belas kasihan orang lain di jalanan. Selama itu, dia juga mulai benci terhadap orang Yahudi, kaum imigran yang hidup lebih mewah, dan ini dikuatkan dengan pendengaran dari ceramah yang sifatnya "Antisemit" oleh Walikota Vienna Karl Lueger. Teori Lueger yang menyalahkan kekacauan ekonomi dan politik kepada kaum Yahudi, mengispirasinya menjadi pembenci kaum Yahudi sepanjang hidupnya. Ini pula yang membangun ideologinya dan menganggap bangsa Arya adalah ras tertinggi. Banyak orang berkata, seandainya saja dia diterima di sekolah seni tersebut, mungkin Hitler hanya akan menjadi seniman seperti Picasso misalnya, mungkin sejarah juga akan lain ceritanya. Disinilah salah satu letak pentingnya Hitler, dia mengubah sejarah (meskipun ke jalan yang dianggap salah). Garis hidupnya bagaikan takdir yang tidak bisa diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1914, Jerman ikut serta dalam Perang Dunia 1 dan Hitler masuk militer. Sewaktu perang di garis depan, dia terluka, dipulangkan dan mendapatkan medali untuk keberaniannya. Selama perang, Hitler berangsur-angsur menjadi seorang patriot untuk Jerman meskipun dia sendiri bukan warga negara Jerman (dia lahir di Austria). Maka dari itu, sewaktu Jerman kalah perang, dia tidak bisa menerima kenyataan, karena bagi Hitler, Jerman adalah yang terkuat. Dia lalu menyalahkan para "pengkhianat" sipil, terutama orang Yahudi sebagai penyebab Jerman kalah perang. Jerman setelah kalah perang porak poranda. Keadaannya sangat mengenaskan dengan kota-kota yang hancur, harga barang tinggi ditambah lagi dengan datangnya gerakan-gerakan revolusi komunis. Hitler sendiri tetap berdiam di militer. Hitler membenci orang-orang dari berbagai ideologi, termasuk komunis (Karl Marx adalah seorang Yahudi), sosialis kapitalis dan liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya karir militer Hitler hanya sampai Kopral, bisa dibayangkan betapa hebatnya orang ini, dia menjadi Army Commander yang ditakuti seluruh dunia pada Perang Dunia 2. Tahun 1919 Hitler lalu bergabung dengan sebuah partai kecil bernama Partai Pekerja Jerman dan meninggalkan karir militernya. Saat berhasil menjadi pemimpinnya dan akhirnya mengubah namanya menjadi partai NAZI. Tahun 1920, Hitler menterbitkan simbol Swastika dan Tahun 1921 Partai ini semakin solid dengan didukung oleh kelompok milisia SA. Disinilah kita bisa melihat salah satu kejeniusan Hitler, berorganisasi dan berpidato. Terus terang, secara pribadi, saya tidak pernah melihat orang berpidato sehebat Hitler. Saya sendiri, begitu melihat film dokumenter tentang Hitler ini, biarpun tidak mengerti bahasanya tapi ikut tergugah dan bersemangat dengan cara yang sulit digambarkan. Ketika pengikutnya berteriak sambil mengangkat tangan "HAIL HITLER!" benar-benar luar biasa! Apapun yang Hitler katakan adalah seperti sebuah "Religion's order" yang membuat pengikutnya menjadi super fanatik dan mengikuti apapun yang diucapkannya. Kesuksesannya tidak lepas dari peran Ernst Hanfstaengl, adalah seorang kaya yang menjadi supporter sekaligus fund raiser untuk karir politik Hitler. Hanfstaengl terpana pada pandangan pertama kepada Hitler saat mendengar pidatonya, dan meyakini Hitler akan menjadi orang besar. Dia memandang Hitler sebagai berlian yang belum diasah, dan dialah yang membuat Hitler mempunyai penampilan "antik" dengan kumis kecilnya itu. Hanfstaengl mempunyai istri cantik dan pintar bernama Helene. Hitler mencintai perempuan ini tapi tidak mungkin memilikinya. Helene juga mempunyai peran besar dalam karir Hitler. Belakangan juga diketahui bahwa Ernst Hanfstaengl adalah juga seorang keturunan Yahudi! Wow! Sampai-sampai saya berpikir, mungkin saja apabila saya ada di situasi seperti Hanfstaengl, saya juga bakal kesetanan "kesemsem" sama Hitler atas kharismanya yang luar biasa ini. Dukungan dari kelompok milisia SA yang dipimpin oleh Ernst Röhm yang dikenal dengan "The Brown Shirts" membuat Nazi menjadi kelompok elite dan ditakuti. SA ini adalah cikal-bakalnya tentara SS yang kemudian menjadi pasukan keamanan resmi pada pemerintahan Hitler. Kita melihat disini bahwa Hitler adalah orang yang "well prepared" jauh sebelum mendapat kekuasaan resmi di Jerman. Ini menjadi inspirasi banyak pemimpin politik bahwa harus ada dana dan military back up untuk suksesnya sebuah karir politik. Seperti juga Mao Tse Tung yang mempunyai tentara rakyat dan berfalsafah "Kekuasaan ada di moncong senjata".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini juga mengangkat kiprah seorang jurnalis Fritz Gerlich, yang jauh sebelumnya sudah bisa memprediksi bahwa Hitler akan menjadi "the most evil man" dan selalu menyerangnya dengan artikel-artikelnya. Namun semakin diserang justru Hitler mendapatkan popularitas. Sampai pada suatu rencana Perdana Menteri Gustav Von Kahr yang juga sahabat Gerlich ini untuk menjebak Hitler untuk menghancurkan karir politiknya dengan seolah-olah mendukung Hitler melakukan kudeta. Dan tentu saja rencana ini gagal dan membawa Hitler ke penjara. Dalam kudeta gagal yang dipimpinnya ini, Hitler terluka dan mencoba bunuh diri, namun Helene bisa menahan maksudnya ini. Andai saja Hitler berhasil bunuh diri, munkin tidak akan ada PD2. Kemudian Hitler ditangkap dan dipenjara atas tuduhan subversif, rupanya untuk menjadi seorang Hitler-pun mengalami masa-masa susah sebelum menjadi orang besar, ada harga yang harus dibayar. Lagi-lagi Helene menjadi penyelamat Hitler menggagalkan aksi mogok makan-nya saat di penjara, dan malah menjadi inspirasinya dalam menulis sebuah buku dan kiprah karir politik selanjutnya. Di penjara dia menulis bukunya yang terkenal, "Mein Kampf" (My Battle) 1924. Ernst Hanfstaengl menjadi salah satu penerbit buku yang super laris dan menghasilkan income yang banyak. Buku ini bisa digambarkan sebagai sebuah buku otobiografi, pikiran politik/ filsafatnya, sejarah serta buku hariannya. Dalam tulisannya ini Hitler yakin bahwa bangsa Arya adalah ras teringgi, penemu seni, ilmu dan teknology. Selanjutnya Hitler ingin menciptakan sebuah "ras arya" yang "genuine" yang nantinya akan meleading kebudayaan, keindahan, martabat dari semua jenis ras manusia. Buku ini kemudian menjadi seperti "The Bible" bagi pengikutnya. Setelah mendekam di penjara kurang lebih 9 bulan, Hitler mendapat amnesti, tetapi partai Nazi miliknya sudah amburadul saat dia keluar penjara. Disini kita bisa melihat salah satu talenta besarnya dalam berorganisasi. Hitler berhasil membangun kembali partainya dari partai kacau balau sampai menjadi salah satu partai terbesar di Jerman. Sekeluar dari penjara, Hitler langsung mengunjungi Helene pada malam natal 24 dec 1924 dan mengungkapkan bagaimana ia mengagumi &amp; mencintai Helene. Hitler memandangnya seperti "ibu" yang dia kagumi. Memang sangat terlihat sebagai orang yang melankolis, sosok Hitler ini butuh seorang perempuan yang "dewasa dan matang" yang sungguh mengasihinya dan memenuhi kebutuhan jiwanya, namun sayang ini tidak pernah dia dapatkan. Saya berpikir; andai saja Hitler dapat memilikinya mungkin perangai Hitler bisa lebih sabar, namun nasib berkata lain. Hitler tumbuh menjadi manusia "pembenci", yang dasarnya adalah "he was just a simply un-happy man". Cinta yang tak sampai dan tidak bisa memiliki, membawa Hitler menjadi posesif terhadap kemenakannya yang cantik "Geli Raubal" kasus ini seperti pengulangan kisah ayahnya sendiri. Akhirnya Geli pun tidak bisa dimiliki Hitler karena Geli bunuh diri (tahun 1931 menjadi tahun success &amp; suicide bagi Hitler). Dengan tewasnya Geli, Hitler saat itu sudah tidak lagi memiliki "any jew relationship". Semua perempuan yang dicintainya tidak dapat ia miliki, ibu yang dipujanya meninggal, Geli tewas, dan Helene adalah istri orang yang mendukung karir politiknya, tidaklah mungkin dia miliki. Hadirnya Eva Braun yang mirip Geli juga tidak bisa melepas rasa dukanya terhadap kematiannya. Maka keberingasan dan kejahatannyapun yang dipicu oleh kebencian terhadap Yahudi semakin menjadi-jadi. Di Pemilu tahun 1931 partai Nazi resmi menjadi partai dan nantinya akan menjadi partai terbesar Jerman. Walaupun mengepalai sebuah partai besar dan menjadi tokoh politik yang diperhitungkan, Hitler belum resmi menjadi warga negara Jerman. Gila enggak orang ini? :) sehingga walaupun partainya besar Hitler tidak bisa mencalonkan diri menjadi presiden. Hitler baru resmi menjadi warga negara Jerman tahun 1932. Tahun 1933 Hitler diangkat menjadi Kanselir Jerman, dan tentu saja membuat manuver-manuver politik yang brilliant sekaligus kotor. Menciptakan penipuan seperti pembakaran gedung Reichstag dengan meng-kambing-hitam-kan pihak Komunis. Kekacauan jadi-jadian ini adalah bertujuan untuk meng-gol-kan macam-macam dekrit termasuk hak-hak pemerintah untuk menguasai pers, sarana komunikasi, seluruh sentra ekonomi, politik secara mutlak, memberangus semua kebebasan, sekaligus akan memulai terjadinya Perang Dunia ke-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1934 dengan kematian presiden Hindenburg membawa Hitler memiliki kuasa penuh dan akhirnya menjadi seorang diktator dengan kekuasaan tanpa batas. Bisa dilihat disini, orang yang mampu mengangkat dirinya dari seorang gelandangan yang tidak pernah lulus sekolah, dengan karir militer hanya sampai kopral, kemudian menjadi pemimpin mutlak Jerman bukanlah orang sembarangan! Setelah mengambil alih kekuasaan di Jerman, Hitler lalu terus menggunakan kemampuan berpidatonya yang luar biasa untuk membakar kembali semangat rakyat Jerman. Perlu diketahui, dengan adanya perjanjian Versailles setelah PD1 berakhir, Jerman sebagai pihak yang kalah kehilangan banyak wilayahnya dan harus membayar biaya perang dan sebagainya. Hitler yang menganggap perjanjian ini sebagai sampah mampu membuat jutaan rakyat Jerman berdiri di belakangnya untuk menolak isi perjanjian ini dan merebut kembali apa yang menjadi "hak milik" rakyat Jerman. Apa yang terjadi selanjutnya bisa dibaca di berbagai buku sejarah, tetapi yang ingin ditekankan disini adalah kehebatan taktik berperang Hitler. Polandia, Denmark, Norwegia, Belanda, Belgia, Luxembourg, Perancis, Yugoslavia, Yunani dan Mesir semua jatuh dibawah kekuasaannya dalam waktu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai tahun 1934 Hitler berhasil membawa Jerman yang seluruhnya porak poranda karena kalah perang kembali menjadi kekuatan besar Eropa. Banyak peninggalannya yang masih bisa kita lihat sekarang, misalnya autobahn atau sistem jalan tol terbaik di dunia (yang tidak memiliki batasan kecepatan) adalah hasil karya rezim Hitler. Mobil volkswagen juga merupakan salah satu hasil rezim Hitler. Kekejaman dan teror yang dia tebar di muka bumi mungkin tidak bisa dimaafkan, tetapi tidak bisa disangkal bahwa Hitler adalah salah satu jenius dunia. Josef Goebbels adalah seorang genius dan sangat setia yang menjadi bagian penting dari "the rise and fall" nya The Führer. Posisinya sebagai Menteri informasi (Propaganda Minister). Dan membuahkan proyek film propaganda "Triumph of the Will" 1936 yang dikemas bagus oleh sutradara perempuan Leni Riefenstahl yang baru berumur 31tahun, terbukti dapat membius seluruh Eropa menjadikan Hitler seorang selebriti paling dikenal masa itu. Film dokumenter ini khusus menyoroti Hitler, pidato-pidatonya yang menggugah. Saya sungguh tertegun melihat Hitler berjalan didepan 160 ribu orang yang berdiri berbaris rapi dan dalam keheningan memandang Hitler dengan penuh penghormatan. Hmmm... seperti seorang nabi saja. Goebbels "the little man" yang agak pincang ini seolah-olah reinkarnasi dari anjing Hitler yang juga pincang yang pernah menyelamatkan nyawa tuannya dari ancaman bom pada PD1. Akhir hidupnya pun untuk The Führer dengan menelan pil sianida bersama istri dan 6 orang anaknya yang masih kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga tokoh-tokoh besar NAZI termasuk Hermann Göering dan terakhir Rudolf Hess yang menjadi "inner circle" Hitler satu-persatu bunuh diri, dan menunjukkan kesetiaannya kepada The Führer. Selama masa kekuasaan Hitler (1933-1945), membuktikan bahwa Jerman yang kolaps akibat kalah perang di PD1, yang dipandang kecil oleh negara-negara Eropa kala itu, menjadi kekuatan baru yang dasyat. Kebangkitan Hitler ini membuat banyak negara terkecoh dan hal ini sempat membuat pertikaian antara Chamberlain dan Winston Churchill yang kemudian terbukti bahwa Churcill yang bener tentang bahayanya sosok Hitler ini. Kegagalan awal yang berarti hanyalah serangan Rusia (di Leningrad) yang akhirnya menelan banyak korban dari pihak Jerman dan berandil terhadap jatuhnya Hitler (reff. Film Enemy at the gates). Kita bisa melihat kesamaan antara Hitler dan Napoleon, keduanya jatuh akibat menyerang Rusia. Kegagalan Hitler juga berlanjut dari serangan-serangan sekutu yang nantinya menyebabkan terbelahnya Jerman Barat dan Jerman Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun 1945, Jerman mengalami kekalahan bertubi-tubi dari 2 pihak ; Rusia/Soviet &amp; Sekutu, anehnya Hitler sepertinya tidak memusingkan hal itu; dan justru lebih memfokuskan pada "Final solution" membantai Yahudi sebanyak-banyaknya sebagai misi sucinya; sehingga dalam PD2 ini ada perang yang lain yaitu antara "SS Soldier lawan Yahudi" (Reff. Film The Last Day/ Steven Spielberg). Pembunuhan masal tetap aktif di Auschwitz sampai benar-benar pemerintahan Hitler runtuh. Holocaust atau pembunuhan masal orang Yahudi tidak akan pernah terlupakan. Suatu tragedi terbesar mengerikan yang pernah terjadi di sejarah umat manusia dan Hitler adalah aktor antagonis utamanya. Tetapi patut dimengerti bahwa Hitler sendiri adalah seorang bertalenta besar. Seorang yang pandai berpidato (the best I've ever seen to be honest!), pandai berorganisasi, pandai berperang dan ambisius. Adolf Hitler dan rezim-nya bertanggung jawab atas tewasnya 6 juta European Jews, tewasnya 3juta Soviet POW (Prisoners of war), 3juta Polish Catholics, 700ribu Serbians, 2ribu kaum Gipsy Roma, , 80 ribu politisi Jerman, 70 ribu orang cacat di Jerman, 12 ribu homosexuals, 2 ribu Jehovah's Witnesses. Dan selanjutnya menjadi tokoh utama dalam PD2 yang menewaskan total kurang-lebih 50juta jiwa penduduk dunia. Pribadi yang menakutkan ini ternyata penyebab dasarnya adalah "he was just a simply un-happy man". Pribadi yang tertolak sejak masa kecilnya mempengaruhi seluruh kehidupannya. Tokoh ini sepertinya menggenapi sumpah Imam Kayafas dan orang-orang Yahudi yang menginginkan Yesus disalib dengan bersumpah "biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami" Matius 27:25. Tapi benarkah demikian?. Atau memang Hitler ini diposisikan seperti Yudas?. Yang akhir hidupnya juga bunuh diri (30 April 1945) ?. Seorang Yahudi yang membunuh Yahudi (herannya mengapa tidak ada LSM kala itu yang membuka tabir bahwa Hitler adalah Yahudi :) ). Kehadirannya pun tepat sebelum pohon ara itu bertunas, lahirnya negara Israel tahun 1947 yang sampai sekarang ini masih berdarah-darah dan bunuh-bunuhan. Adolf Hitler disebut "the most evil man in all of history". Kejahatannya jangan dilupakan sekaligus jangan terulang; "human against humanity".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Mar 2004&lt;br /&gt;Blessings,&lt;br /&gt;Bagus&lt;br /&gt;Save Our Children&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="border: 1pt solid windowtext; padding: 1pt;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:180%;"  &gt;save our children !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-5099949485342056864?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/5099949485342056864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=5099949485342056864' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/5099949485342056864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/5099949485342056864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/05/yatim-piatu-anak-tak-beruntung.html' title='Yatim Piatu, Anak Tak Beruntung.'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rlx5v_cZYrI/AAAAAAAAAGQ/xznPntWc1as/s72-c/Adolf_Hitler_by_koenta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-1495432766623022092</id><published>2007-05-18T15:15:00.000-07:00</published><updated>2007-06-19T21:45:56.257-07:00</updated><title type='text'>Rencana Anggaran 20% APBN Untuk PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rk4shvcZYqI/AAAAAAAAAGI/pyVK1wOoK4k/s1600-h/Icarus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5066035589021262498" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rk4shvcZYqI/AAAAAAAAAGI/pyVK1wOoK4k/s320/Icarus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Papinto Badut berpose 100 kali dengan anak2 TK, capek deehhh...!&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tumben dapat undangan mendongeng 4 x berturut turut serta berpose untuk photo kenangan bersama Badut Papinto dengan seluruh siswa TK pada satu sekolah TK/SD Alma'arif -Bebekan Sepanjang Sidoarjo yang telah berdiri sejak tahun 1939. Dengan bangunan sekolah yang tua dan fasilitas yang sederhana Yayasan Pendidikan milik NU ini masih mampu menjaring murid. Oya anggaran APBN untuk pendidikan yang 20% itu apa juga akan mampir disekolah ini? semoga saja, sebab anak2 berhak memperoleh pendidikan yang layak. Aku harus siapkan dongengan yang pas buat mereka, terutama yang kelas 5 SD. Wah kelas 5 apa mau dengar dongengan? ternyata mau lho dan mereka antusias, maklum dongengan yang aku suguhkan ceritanya tentang &lt;em&gt;Icarus Si Penerbang&lt;/em&gt; dengan menggambarkan juga bagaimana cara kerja pesawat terbang di papan tulis, sedangkan untuk anak TK aku dongengin cerita &lt;em&gt;Asal Mula Buah Tomat&lt;/em&gt; yang aku karang sendiri. Eh tahu gak aku bawa buah tomat beneran dan pohonnya sekalian di kelas...ya mendongeng sambil peragaan. Sebelum acara dimulai aku juga gabung dengan mereka untuk senam pagi yang penuh canda dan di akhir sesi mendongeng pak wali kelas membagikan doorprize coklat dan roti kering sebagai hadiah pemenag kuis seputar isi dongengan. Acara yang tidak lazim di kelas ini ternyata menyegarkan suasana belajar mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Konvensi Hak-Hak Anak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ahli Bahasa: Susi Septaviana&lt;br /&gt;Diadopsi dari Dewan Umum PBB pada tanggal 20 November 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONVENSI HAK-HAK ANAK&lt;br /&gt;Teks&lt;br /&gt;Mukadimah&lt;br /&gt;Pihak Negara kepada Konvensi&lt;br /&gt;Menimbang bahwa sehubungan dengan prinsip-prinsip yang diproklamirkan dalam piagam PBB, pengakuan terhadap martabat yang melekat serta persamaan dan hak-hak yang dapat dicabut dari seluruh anggota keluarga umat manusia merupakan fondasi kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia,&lt;br /&gt;Mengingat bahwa masyarakat yang dimiliki PBB, dalam piagam, menegaskan kesetiaannya pada hak-hak asasi fundamental serta dalam martabat dan kebajikan manusia, dan telah menentukan untuk meningkatkan kemajuan sosial dan standar kehidupan yang lebih baik dalam kebebasan yang lebih luas.&lt;br /&gt;Mengakui bahwa PBB, dalam deklarasi universal hak-hak asasi dan dalam pembuatan konvensi internasional, memproklamirkan dan setuju bahwa setiap orang diberikan semua hak dan kebebasan yang dimuat didalamnya, tanpa membedakan apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, pribumi sosial atau nasional, hak milik, kelahiran atau status lain,&lt;br /&gt;Mengingat bahwa, dalam deklarasi universal tentang hak asasi manusia, PBB telah memproklamirkan bahwa anak-anak harus mendapat pelayanan dan perawatan khusus.&lt;br /&gt;Menegaskan bahwa keluarga, sebagai kelompok masyarakat yang fundamental dan lingkungan alami bagi pertumbuhan dan kesejahteraan dari seluruh anggota dan khususnya anak, harus diberikan perlindungan dan pelayanan yang diperlukan sehingga bisa memikul tanggungjawab sepenuhnya dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Mengakui bahwa anak, demi perkembangan kepribadiannya yang harmonis dan penuh, harus tumbuh dalam suatu lingkungan keluarga, dalam suatu suasana bahagia, cinta dan pengertian.&lt;br /&gt;Menimbang bahwa anak harus dipersiapkan untuk hidup dalam suatu kehidupan individu dalam masyarakat, serta tumbuh dalam semangat cita-cita yang dicetuskan dalam piagam PBB, sertakhususnya dalam semangat perdamaian, martabat, toleransi, kebebasan, persamaan dan solidaritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan tidak resmi dari ketetapan utama&lt;br /&gt;Mukadimah&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pembukaannya menarik kembali prinsip-prinsip dasar PBB dan ketetapan khusus dari perjanjian dan proklamasi hak asasi manusia yang relevan. Ini menegaskan kembali fakta bahwa anak-anak karena kerapuhannya, memerlukan asuhan dan perlindungan khusus, dan menempatkan penekanan khusus pada tanggung jawab keluarga atas pengasuhan dan perlindungan utama. Ini juga menegaskan kembali kebutuhan akan perlindungan legal dan perlindungan lainnya terhadap anak sebelum dan setelah lahir, pentingnya penghargaan atas nilai-nilai budaya dari komunitas anak dan peran penting kerja sama intermasional dalam menjamin hak-hak anak.&lt;br /&gt;Diadopsi dari Dewan Umum PBB pada tanggal 20 November 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Mengingat bahwa kebutuhan untuk memperluas kepedulian tertentu terhadap anak telah dinyatakan dalam deklarasi Jenewa tentang hak-hak anak tahun 1924 dan deklarasi hak-hak anak yang dikutip oleh dewan umum pada tanggal 20 November 1959 dan diakui dalam deklarasi universal tentang hak-hak asasi manusia, dalam perjanjian internasional tentang hak-hak perdata dan politik (khususnya dalam artikel 23 dan 24), dalam perjanjian internasional tentang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (khususnya dalam artikel 10) serta undang-undang serta instrumen yang relevan dari agen-agen khusus dan organisasi internasional yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.&lt;br /&gt;Mengingat bahwa, seperti yang ditunjukan dalam deklarasi hak anak, “anak, karena disebabkan oleh belum dewasa secara fisik dan mental, memerlukan pengawalan dan perlindungan khusus, termasuk perlindungan legal yang layak, sebelum dan sesudah lahir”,&lt;br /&gt;Mengingat tersusun dalam ketetapan deklarasi tentang prinsip-prinsip legal yang berhubungan dengan perlindungan dan kesejahteraan anak, dengan referensi khusus untuk membantu penempatan dan adopsi secara nasional dan internasional; Peraturan-peraturan minimum standar PBB untuk Administrasi keadilan remaja (Peraturan Beijing); dan deklarasi tentang perlindungan terhadap wanita dan anak dalam konflik emergensi dan senjata&lt;br /&gt;Mengakui bahwa, di seluruh Negara di dunia, ada anak yang tinggal pada kondisi yang sangat sulit, dan anak-anak tersebut memerlukan pertimbangan atau pemikiran khusus&lt;br /&gt;Menimbang pentingnya tradisi dan nilai-nilai budaya dari tiap orang untuk perlindungan dan perkembangan harmonis anak. Mengakui pentingnya kerjasama internasional untuk meningkatkan kondisi anak tiap Negara, khususnya di Negara-Negara berkembang, Menyetujui sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian I&lt;br /&gt;Artikel 1&lt;br /&gt;Untuk tujuan konvensi sekarang, seorang anak berarti setiap manusia dibawah usia 18 tahun kecuali jika, dibawah undang-undang yang berlaku bagi anak, mayoritas diperoleh lebih awal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi seorang anak&lt;br /&gt;Seorang anak dihargai sebagai seseorang di bawah usia 18 kecuali hukum nasional mengaku mayoritas lebih dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 2&lt;br /&gt;1. Pihak Negara harus menghormati dan menjamin hak-hak yang diajukan dalam konvensi sekarang pada tiap anak dalam hukum tanpa diskriminasi apapun, tanpa membedakan ras anak atau orang tua atau wali sah, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau yang lainnya, kesukuan atau asal muasal sosial, hak milik, kecacatan, kelahiran atau status lain.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara harus selayaknya mengambil langkah untuk menjamin bahwa anak dilindungi dari segala bentuk diskriminasi atau hukuman terhadap dasar status, aktivitas, pendapat yang dikeluarkan, atau kepercayaan orangtua anak, perwalian legal atau sah, atau anggota keluarga.&lt;br /&gt;Artikel 3.&lt;br /&gt;1. Dalam semua tindakan yang berhubungan dengan anak, apakah itu dilakukan oleh masyarakat atau institusi kesejahteraan sosial, pengadilan hukum, otoritas administrative yang berwenang atau badan-badan legislatif, kepentingan anak yang paling baik harus dipertimbangkan dahulu.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara menjamin anak perlindungan dan perawatan tertentu yang diperlukan bagi kesejahteraan, dan mempertimbangkan hak-hak dan tugas-tugas orangtuanya, perwalian sah, atau individu lain yang sah bertanggung jawab atas anak, dan, pada akhirnya harus mengambil seluruh langkah-langkah administratif dan legislatif yang semestinya.&lt;br /&gt;3. Pihak Negara harus menjamin bahwa institusi, pelayanan dan fasilitas yang bertanggung jawab bagi pemeliharaan atau perlindungan anak harus sesuai dengan standar yang dikembangkan oleh otoritas kompeten, khususnya dalam segi keamanan, kesehatan, dalam jumlah serta keselarasan stafnya, juga pengawasan yang kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Non-diskriminasi&lt;br /&gt;Semua hak-hak berlaku bagi semua anak tanpa pengecualian. Ini merupakan kewajiban Negara untuk melindungi anak dari bentuk diskriminasi apapun dan untuk mengambil tindakan positif untuk mendukung hak-hak mereka.&lt;br /&gt;Kepentingan terbaik anak&lt;br /&gt;Semua tindakan yang berhubungan dengan anak akan dilakukan atas pertimbangan kepentingan terbaik anak. Negara harus menyediakan asuhan yang cukup bagi anak ketika orang tua atau orang lain yang diberikan tanggung jawab tidak dapat melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Artikel 4&lt;br /&gt;Pihak Negara harus menjalankan seluruh undang undang yang pantas, administrasi, dan langkah-langlah lain yang sesuai untuk implementasi hak-hak yang diakui dalam konvensi sekarang. Sehubungan dengan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, Pihak Negara harus menjalankan langkah-langkah tertentu semaksimal mungkin dengan sumber-sumber yang tersedia dan, dimana dibutuhkan, dalam kerangka kerja kerjasama internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 5&lt;br /&gt;Pihak Negara harus menghargai tanggungjawab, hak-hak dan tugas-tugas orangtua atau, dimana dapat diterapkan, anggota-anggota keluarga besar atau masyarakat seperti yang disediakan untuk adat istiadat lokal, perwalian sah atau orang lain yang sah bertanggungjawab untuk anak, untuk menyediakan arahan dan perlindungan yang sesuai pada pelaksanaannya dengan hak-hak anak yang diakui dalam konvensi sekarang dengan mempertimbangkan perkembangan kapasitas anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 6&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui bahwa setiap anak memiliki hak yang melekat untuk hidup.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara harus menjamin perluasan cakupan perkembangan dan kelangsungan hidup anak secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 7&lt;br /&gt;1. Anak harus didaftarkan segera setelah kelahiran dan harus mempunyai hak untuk sebuah nama sejak lahir, hak untuk memperoleh kebagsaan dan, sejauh mungkin, hak untuk mengetahui dan dirawat oleh orangtuanya.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara harus menjamin implementasi hak-hak ini sehubungan dengan hukum nasional dan kewajibannya dibawah pengawasan alat-alat internasional yang relevan pada bidang ini, khususnya dimana anak di lain pihak tidak memiliki Kewarga Negaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pelaksanaan hak-hak&lt;br /&gt;Negara harus melakukan semua hal yang dapat dilakukan untuk melaksanakan hak-hak yang terkandung dalam Konvensi tersebut.&lt;br /&gt;Bimbingan orang tua dan kapasitas berkembang anak&lt;br /&gt;Negara harus menghargai hak-hak dan kewajiban-kewajiban orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk memberikan bimbingan bagi anak yang sesuai baginya atau bagi kapasitas perkembangannya.&lt;br /&gt;Kelangsungan hidup dan perkembangan&lt;br /&gt;Setiap anak mempunyai hak yang melekat untuk hidup dan Negara mempunyai kewajiban untuk menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak.&lt;br /&gt;Nama dan Kewarga Negaraan&lt;br /&gt;Setiap anak mempunyai hak atas sebuah nama pada saat lahir. Anak tersebut juga mempunyai hak untuk memperoleh kewargaNegaraan dan, sejauh mungkin, untuk mengenal orang tuanya dan dirawat oleh mereka.&lt;br /&gt;Pemeliharaan identitas&lt;br /&gt;Negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan jika perlu, membangun kembali aspek dasar identitas anak. Ini termasuk nama, warga Negara dan ikatan keluarga.&lt;br /&gt;Perpisahan dari orang tua&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak untuk hidup bersama orang tuanya kecuali jika dianggap bertentangan dengan kepentingan terbaik anak. Anak juga mempunyai hak untuk menjaga kontak atau hubungan dengan kedua orang tua jika terpisah dari salah satu orang tua atau keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Artikel 8&lt;br /&gt;1. Pihak Negara harus menghormati hak anak untuk memelihara identitasnya, termasuk kebangsaan, nama dan hubungan keluarga seperti yang diakui undang-undang tanpa campur tangan yang melanggar hukum.&lt;br /&gt;2. Dimana seorang anak dihilangkan secara legal beberapa atau semua unsur-unsur dari identitasnya, Pihak Negara harus menyediakan perlindungan dan pelayanan yang layak, dengan tujuan membangun kembali identitasnya dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 9&lt;br /&gt;1. Pihak Negara harus menjamin bahwa seorang anak tidak boleh dipisahkan dari orangtuanya yang bertentangan dengan keinginan mereka, kecuali apabila otoritas kompeten yang tunduk pada hokum menentukannya bahwa pemisahan perlu bagi kepentingan anak yang paling baik, menurut prosedur dan hukum yang berlaku. Ketetapan tertentu mungkin diperlukan dalam kasus tertentu seperti seseorang yang terlibat penyiksaan anak oleh orangtua, atau dimana orangtua tinggal terpisah dan suatu keputusan harus dibuat seperti tempat tinggal si anak.&lt;br /&gt;2. Menurut pendahuluan pada paragraf 1 artikel ini, seluruh Pihak yang terkait harus diberi kesempatan untuk ikut serta dalam pengerjaannya dan membuat gagasannya diketahui.&lt;br /&gt;3. Pihak Negara harus menghormati hak anak yang terpisah dari salah satu orangtua untuk memelihara hubungan pribadi dan hubungan langsung dengan kedua orangtuanya setiap harinya, kecuali jika berlawanan dengan kepentingan terbaik anak.&lt;br /&gt;4. Jika hasil pemisahan disebabkan oleh suatu tindakan yang diawali oleh Pihak Negara, seperti penahanan, penjara, pengasingan, deportasi atau kematian (termasuk kematian yang timbul dari berbagai sebab ketika orang tersebut sedang dalam penahanan Negara) dari salahsatu atau kedua orangtua atau anak, bahwa Pihak Negara harus, berdasarkan permohonan orangtua, anak atau, jika ada, anggota keluarga lain dengan informasi penting yang menyangkut keberadaan anggota keluarga yang hilang kecuali jika informasi tersebut akan merusak kesejahteraan anak. Pihak Negara harus lebih jauh menjamin bahwa pelaksanaan permohonan tersebut dengan tidak sendirinya membawa konsekwensi merugikan bagi orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Artikel 10&lt;br /&gt;1. Menurut kewajiban Pihak Negara dalam artikel 9, paragrap 1, penerapan oleh anak atau orangtuanya untuk memasuki atau meninggalkan suatu Pihak Negara untuk tujuan penyatuan kembali keluarga harus ditangani oleh Pihak Negara secara positif, manusiwi dan cara terbaik. Pihak Negara lebih jauh menjamin bahwa pelaksanaan permohonan tersebut harus tidak menimbulkan konsekwensi merugikan untuk para pelaku dan anggota keluargannya.&lt;br /&gt;2. Seorang anak yang orangtuanya tinggal di Negara lain harus mempunyai hak memelihara hubungan pribadi dan kontak langsung dengan orangtuanya, setiap harinya, dalam keadaan-keadaan khusus. Pada bagian akhir dan menurut kewajiban Pihak Negara dibawah artikel 9, paragrap 1, Pihak Negara harus menghormati hak anak dan orangtuanya untuk meninggalkan suatu Negara, termasuk Negaranya, dan memasuki Negaranya. Hak meninggalkan suatu Negara harus ditujukan saja pada batasan tertentu seperti yang dijelaskan oleh hukum dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan Negara, tatanan masyarakat (orde public), kesehatan masyarakat atau moral atau hak-hak serta kebebasan lain dan konsisten dengan hak-hak lain yang diakui dalam konvensi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 11&lt;br /&gt;1. Pihak Negara harus mengambil langkah-langkah untuk memberantas pengiriman anak ke luar negri dan tidak dikembalikan secara tidak sah.&lt;br /&gt;2. Pada akhirnya, Pihak Negara harus meningkatkan kesimpulan perjanjian bilateral dan multilateral atau pencapaian perjanjian yang ada.&lt;br /&gt;Artikel 12&lt;br /&gt;1. Pihak Negara harus menjamin anak yang mampu membentuk pandangannya sendiri hak untuk mengekspresikan pandangan-pandangan tersebut secara bebas dalam segala hal yang mempengaruhi anak, pandangan anak diberi batasan bobot sesuai usia dan kedewasaan anak.&lt;br /&gt;2. Untuk tujuan ini, anak secara khusus harus diberi kesempatan untuk didengar dalam hukum dan jalannya administrasi yang mempengaruhi anak, baik secara langsung, atau melalui suatu perwakilan atau badan yang layak, secara konsisten dengan aturan-aturan prosedur hukum Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penyatuan keluarga kembali&lt;br /&gt;Anak-anak dan orang tuanya mempunyai hak untuk meninggalkan suatu Negara dan untuk masuk ke Negaranya sendiri untuk tujuan reuni atau pemeliharaan hubungan anak dengan orang tua.&lt;br /&gt;Pemindahan atau transfer gelap dan tidak-pulang kembali&lt;br /&gt;Negara mempunyai kewajiban untuk mencegah dan menanggulangi penculikan atau penyimpanan anak-anak di luar negeri oleh orang tua atau pihak ketiga.&lt;br /&gt;Pendapat anak&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas dan untuk pendapatnya tersebut dipertimbangkan dalam hal-hal atau prosedur yang mempengaruhi anak.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Artikel 13&lt;br /&gt;1. Anak harus mempunyai hak kebebasan berekspresi; hak tersebut harus mencakup kebebasan mencari, menerima dan memberi informasi dan gagasan apapun, tanpa menghiraukan batasan, baik secara lisan, tulisan atau cetakan, dalam bentuk seni, atau melalui media lain yang menjadi pilihan anak.&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan hak bisa dikenai dengan batasan tertentu, tapi hal ini hanya akan diterapkan oleh hukum dan ini perlu:&lt;br /&gt;a. Untuk penghargaan hak atau reputasi orang lain atau,&lt;br /&gt;b. Untuk perlindungan keamanan nasional atau tatanan, atau kesehatan atau moral masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 14&lt;br /&gt;1. Pihak Negara akan menghargai hak anak atas kebebasan berfikir, suara hati dan agama.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara akan menghormati hak dan tugas orangtua serta, apabila dapat diterapkan, perwalian resmi, untuk memberi arahan pada anak dalam menjalankan haknya dengan secara konsisten mempertimbangkan kapasitas perkembangan anak.&lt;br /&gt;3. Kebebasan memanifestasikan agama atau kepercayaan seseorang hanya dikenakan dengan batasan-batasan tertentu seperti dijelaskan oleh hukum dan diperlukan untuk melindungi keselamatan, tatanan, kesehatan dan moral, atau hak fundamental dan kebebasan masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 15&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak-hak anak terhadap kebebasan asosiasi dan kebebasan mengadakan pertemuan perdamaian.&lt;br /&gt;2. Tidak ada batasan yang bisa diletakkan dalam menjalankan–hak tersebut selain daripada hak-hak yang ditentukan dalam keselarasan dengan hokum dan yang penting dalam masyarakat demokratis menurut kepentingan keamanan nasional atau keselamatan masyarakat, tatanan masyarakat (ordre public), perlindungan kesehatan atau moral atau perlindungan dan kebebasan hak dan kebebasan publik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kebebasan berekspresi&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak untuk mengungkapkan pandangannya, memperoleh informasi, membuat ide-ide atau informasi yang diketahui tanpa batasan&lt;br /&gt;Kebebasan pemikiran, nurani dan agama&lt;br /&gt;Negara menghargai hak anak atas kebebasan pemikiran, nurani dan agama, sehubungan dengan bimbingan orang tua yang tepat.&lt;br /&gt;Kebebasan berkumpul&lt;br /&gt;Anak-anak mempunyai sebuah hak untuk bertemu dengan orang lain, dan untuk bergabung atau membentuk perkumpulan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Artikel 16&lt;br /&gt;1. Tidak ada anak yang akan dikenai kesewenang-wenangan atau campur tangan diluar hokum terhadap hal pribadi, keluarga, rumah atau korespondensinya, tidak juga ancaman terhadap kehormatan dan reputasinya.&lt;br /&gt;2. Anak mempunyai hak atas perlindungan hokum terhadap campur tangan atau ancaman seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 17&lt;br /&gt;Pihak Negara mengakui fungsi penting yang dilakukan media masa dan harus menjamin bahwa anak mempunyai akses terhadap informasi dan materi dari beragam sumber internasional dan nasional, terutama bagi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan sosial, moral dan spiritual dan kesehatan mental dan fisik. Pada akhirnya, Pihak Negara harus :&lt;br /&gt;a) Memacu media masa untuk menyebarkan informasi dan bahan yang bermanfaat sosial dan budaya terhadap anak menurut semangat artikel 29;&lt;br /&gt;b) Memacu kerjasama internasional dalam produksi, pertukaran dan penyebaran informasi tertentu dan materi dari beragam sumber internasional, nasional dan budaya;&lt;br /&gt;c) Memacu produksi dan penyebaran buku anak-anak.&lt;br /&gt;d) Memacu media masa untuk mempunyai perhatian khusus terhadap kebutuhan kebahasaan anak yang termasuk dalam kelompok minoritas atau pribumi;&lt;br /&gt;e) Memacu perkembangan garis-garis pedoman bagi perlindungan anak dari bahan dan informasi yang membahayakan bagi kesejahteraan, ingatlah ketetapan artikel 13 dan 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 18&lt;br /&gt;1. Pihak Negara akan menggunakan upaya-upaya terbaik untuk menjamin pengakuan prinsip bahwa kedua orangtua mempunyai tanggungjawab umum untuk pendidikan dan perkembangan anak. Orangtua atau, seperti dalam kasus perwalian sah, memiliki tanggung jawab utama bagi pendidikan dan perkembangan anak. Kepentingan anak yang paling baik akan menjadi perhatian utamanya.&lt;br /&gt;2. Untuk tujuan menjamin dan meningkatkan hak-hak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perlindungan keleluasaan pribadi&lt;br /&gt;Anak-anak mempunyai hak atas perlindungan dari campur tangan terhadap keleluasaan pribadi atau privacy, keluarga, rumah dan korespondensi dan dari pencemaran nama atau fitnah.&lt;br /&gt;Akses terhadap informasi yang sesuai atau tepat&lt;br /&gt;Negara menjamin aksesibilitas terhadap informasi dan material dari beragam sumber-sumber bagi anak dan hal tersebut akan mendorong media masa untuk menyebarluaskan informasi yang mempunyai manfaat budaya dan sosial bagi anak dan mengambil langkah untuk melindunginya dari material yang berbahaya.&lt;br /&gt;Tanggung jawab orang tua&lt;br /&gt;Orang tua mempunyai tanggung jawab bersama yang utama untuk membesarkan anak, dan Negara mendukungnya dalam hal ini. Negara menyediakan bantuan yang sesuai untuk orang tua dalam membesarkan anak.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;yang disusun dalam konvensi sekarang, Pihak Negara harus menyumbangkan bantuan layak pada orangtua dan perwalian sah dalam menjalankan tanggungjawab membesarkan anak mereka dan harus menjamin perkembangan institusi, fasilitas dan layanan bagi pemeliharaan anak.&lt;br /&gt;3. Pihak Negara harus mengambil semua langkah-langkah tepat untuk menjamin bahwa anak dari orangtua yang bekerja memiliki hak untuk menggunakan jasa layanan pemeliharaan anak dan fasilitas yang memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 19&lt;br /&gt;1. Pihak Negara harus semua mengambil langkah- langkah pendidikan dan sosial, administratif, dan legislatif yang tepat untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan mental atau fisik, bahaya atau penyiksaan, perlakuan penyia-nyiaan, penganiayaan atau eksploitasi, termasuk penyiksaan seksual, selama dalam perawatan orangtua, perwalian sah atau orang lain yang merawat anak.&lt;br /&gt;2. Langkah-langkah perlindungan tertentu harus, dengan tepat, mencakup prosedur efektif bagi pengembangan program sosial untuk memberi dukungan penting bagi anak dan bagi mereka yang memelihara anak, juga untuk bentuk-bentuk perlindungan lainnya dan untuk pengidentifikasian, pemberitahuan, penyerahan, penyelidikan, perlakuan dan tindak lanjut masalah-masalah penganiayaan anak yang dijelaskan di sini sebelumnya, dan, selayaknya, bagi keterlibatan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 20&lt;br /&gt;1. Seorang anak yang dilepaskan dari lingkungan keluarga secara temporer atau permanen, atau demi kepentingan sendiri yang tidak bias diijinkan untuk tinggal dalam lingkungan tersebut, harus diberi perlindungan dan bantuan khusus yang diberikan oleh Negara.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara yang sesuai dengan hukum nasional harus menjamin pemeliharaan alternatif bagi anak tersebut.&lt;br /&gt;3. Pemeliharaan tersebut bisa berupa, inter alia, rumah panti asuhan, kafalah dari hukum islam, adopsi atau jika perlu penempatan pada institusi yang tepat bagi pemeliharaan anal. Dalam mempertimbangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perlindungan dari penyiksaan dan pengabaian&lt;br /&gt;Negara melindungi anak dari penganiayaan dalam bentuk apapun oleh orang tua atau orang lain yang bertanggung jawab untuk merawat anak dan membangun program sosial yang tepat untuk pencegahan penyiksaan dan untuk perawatan korban.&lt;br /&gt;Perlindungan anak tanpa keluarga&lt;br /&gt;Negara berkewajiban untuk menyediakan perlindungan khusus untuk anak yang kehilangan lingkungan keluarga dan untuk menjamin bahwa asuhan keluarga alternatif yang tepat atau penempatan di institusi yang ada dalam kasus-kasus tersebut. Upaya-upaya untuk memenuhi kewajiban ini akan memberikan hak-hak yang berhubungan dengan latar belakang kebudayaan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;solusinya, perhatian harus diberi pada kepentingan kelangsungan pendidikan anak dan pada kesukuan, agama, latar belakang bahasa dan budaya anak.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Artikel 21&lt;br /&gt;Pihak Negara yang mengakui dan/atau mengijinkan sistem adopsi akan menjamin bahwa kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan yang utama dan mereka akan:&lt;br /&gt;a) Menjamin bahwa adopsi anak hanya dikuasakan oleh oleh otoritas kompeten yang menentukan bahwa adopsi diijinkan mengingat status anak yang dikaitkan dengan orangtua, kerabat dan perwalian legal dan bahwa, jika dibutuhkan, orang yang memberi perhatian terhadap adopsi atas dasar bimbingan yang mungkin diperlukan, sesuai hokum dan prosedur yang berlaku dan berdasarkan informasi yang berhubungan dan dapat dipercaya.&lt;br /&gt;b) Mengakui bahwa adopsi antar Negara harus dipertimbangkan sebagai suatu alat alternatif dari perawatan anak, jika anak tidak dapat ditempatkan dalam suatu keluarga angkat atau adopsi atau tidak bisa dirawat di Negara asal anak dengan cara tepat apapun.&lt;br /&gt;c) Menjamin bahwa anak yang mengalami adopsi antar Negara menikmati perlindungan dan standar yang sama dengan yang ada dalam kasus adopsi nasional.&lt;br /&gt;d) Mengambil semua langkah-langkah tepat untuk menjamin bahwa, dalam adopsi antar Negara, penempatan tidak akan mengakibatkan pendapatan&lt;br /&gt;keuangan yang tidak layak bagi mereka yang terlibat di dalamnya.&lt;br /&gt;e) Apabila sesuai, meningkatkan tujuan-tujuan artikel yang ada sekarang dengan menyimpulkan susunan atau perjanjian bilateral atau multilateral, dalam kerangka kerja, serta usaha untuk menjamin penempatan anak di Negara lain dilakukan oleh badan atau badan kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 22&lt;br /&gt;1.Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah untuk menjamin bahwa seorang anak yang mencari status pengungsi atau dianggap sebagai pengungsi menurut hukum serta prosedur domestik atau internasional yang dapat diterapkan, baik itu ditemani atau tidak ditemani oleh orangtuanya atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Adopsi&lt;br /&gt;Di Negara-Negara dimana adopsi diakui dan/atau diizinkan, hal tersebut hanya dilakukan atas kepentingan terbaik anak, dan kemudian hanya pengawasan otoritas yang kompeten dan perlindungan keamanan bagi anak.&lt;br /&gt;Anak-anak pengungsi&lt;br /&gt;Pelindungan khusus akan diberikan kepada anak pengungsi atau kepada anak yang mencari status pengungsi. Ini merupakan kewajiban Negara untuk bekerja sama dengan organisasi yang kompeten yang menyediakan perlindungan dan bantuan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;orang lain, menerima perlindungan dan bantuan kemanusiaan yang sesuai dalam menikmati&lt;br /&gt;pelaksanaan hak-hak yang dimuat dalam konvensi sekarang dan dalam hak-hak asasi manusia internasional lain atau alat-alat kemanusiaan dimana Negara-Negara yang disebut adalah Pihak.&lt;br /&gt;2. Untuk tujuan ini, Pihak Negara akan memberikan kerjasama dalam usaha-usaha apapun oleh PBB dan organisasi antar pemerintah yang kompeten atau organisasi non pemerintah bekerjasama dengan PBB untuk melindungi dan membantu anak tersebut untuk mencari orangtua atau anggota keluarganya agar memperoleh informasi penting untuk kumpul kembali dengan keluarganya. Jika orangtua dan anggota keluarga lain tidak dapat ditemukan, anak akan diberikan perlindungan sama seperti anak lain secara permanen atau temporer yang hilang dari lingkungan keluarganya karena suatu alasan, seperti yang termuat dalam konvensi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artkel 23&lt;br /&gt;1.Pihak Negara mengakui bahwa anak cacat secara mental dan fisik seharusnya menikmati kehidupan layak dan lengkap, dalam kondisi yang menjamin martabat, meningkatkan kepercayaan diri serta memberi kesempatan pada anak untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara mengakui hak anak cacat terhadap pemeliharaan khusus dan memacu serta menjamin perluasan bantuan, dimana permohonan tersebut dibuat, bagi anak yang memenuhi syarat dan bagi mereka yang bertanggungjawab atas pemeliharaanya yang disesuaikan dengan sumber-sumber yang tersedia dan yang sesuai dengan kondisi anak serta keadaan orangtua atau orang lain yang memelihara anak.&lt;br /&gt;3. Mengakui kebutuhan khusus anak cacat, bantuan yang diperluas menurut paragrap 2 dari artikel ini akan diberikan cuma-cuma, jika memungkinkan, dengan mempertimbangkan sumber-sumber keuangan orangtua atau orang lain yang memelihara anak, dan akan dirancang untuk menjamin bahwa anak cacat mempunyai akses yang efektif untuk menerima pendidikan, training, pelayanan perawatan kesehatan, layanan rehabilitasi, persiapan untuk pekerjaan dan kesempatan rekreasi secara kondusif demi pencapaian anak terhadap integrasi sosial dan pengembangan individu semaksimal tersebut, mungkin, termasuk perkembangan spiritual dan budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anak yang cacat&lt;br /&gt;Seorang anak cacat mempunyai hak atas asuhan, pendidikan dan pelatihan khusus untuk membantunya menikmati kehidupan yang penuh dan layak dengan martabat dan memperoleh tingkat terbesar atas kepercayaan diri dan kemungkinan integrasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;4. Dengan semangat kerjasama internasional Pihak Negara akan meningkatkan, pertukaran informasi yang layak dalam bidang perawatan kesehatan dan pengobatan, psikologis serta perlakuan fungsional terhadap anak-anak cacat termasuk penyebaran dan akses terhadap informasi yang berkaitan dengan metode-metode rehabilitasi, pendidikan serta layanan vokasional, dengan tujuan agar Pihak Negara meningkatkan kemampuan dan keahliannya serta memperlebar pengalamannya dalam bidang-bidang ini. Dalam hal ini pertimbangan khusus harus diambil mengenai kebutuhan Negara-Negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 24&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak anak untuk menikmati standar kesehatan tertinggi yang bisa didapat dan fasilitas pengobatan penyakit serta rehabilitasi kesehatan. Pihak Negara akan berusaha menjamin bahwa tidak ada anak yang kehilangan akses terhadap pelayanan pemeliharaan kesehatan.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara akan segera melakukan implementasi penuh hak ini dan khususnya akan mengambil langkah-langkah tepat:&lt;br /&gt;a) Mengurangi angka kematian bayi dan anak;&lt;br /&gt;b) Menjamin pemberian bantuan medis dan pemeliharaan kesehatan yang diperlukan bagi semua anak dengan menekankan pada perkembangan pemeliharaan kesehatan yang utama;&lt;br /&gt;c) Untuk memerangi penyakit dan kurang gizi, termasuk dalam kerangka kerja pemeliharaan kesehatan yang utama, melalui, inter alia, penerapan teknologi yang tersedia dan melalui pemberian makanan bergizi yang layak serta air minum yang bersih, dengan mempertimbangkan bahaya dan resiko polusi lingkungan;&lt;br /&gt;d) Menjamin perawatan kesehatan ibu sebelum dan sesudah melahirkan;&lt;br /&gt;e) Menjamin bahwa semua lapisan masyarakat, khususnya orangtua dan anak, diinformasikan, mempunyai akses terhadap pendidikan dan didukung dalam menggunakan pengetahuan dasar tentang kesehatan dan gizi anak, keuntungan menyusui, kebersihan serta sanitasi lingkungan dan pencegahan terhadap kecelakaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kesehatan dan layanan kesehatan&lt;br /&gt;Anak mempunyai suatu hak atas perawatan medis dan kesehatan sampai standar tertinggi yang dapat dicapai. Negara menempatkan penekanan khusus pada penyediaan perawatan kesehatan primer dan pencegahan, pendidikan kesehatan umum, dan pengurangan kematian bayi. Mereka akan mendorong kerja sama internasional dalam hal ini dan bekerja keras untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang kehilangan akses terhadap layanan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;f) Untuk mengembangkan pemeliharaan kesehatan secara preventif, bimbingan serta pelayanan bagi orangtua dan pendidikan keluarga berencana.&lt;br /&gt;g) Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah yang efektif dan tepat dengan tujuan untuk menghilangkan hukum praktek-praktek tradisional terhadap kesehatan anak.&lt;br /&gt;h) Pihak Negara akan meningkatkan dan memacu kerjasama internasional dengan bertujuan&lt;br /&gt;memperoleh realisasi penuh hak yang diakui secara progresif dalam artikel ini. Dalam hal ini,&lt;br /&gt;pertimbangan khusus harus diambil terhadap kebutuhan Negara-Negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 25&lt;br /&gt;Pihak Negara mengakui hak anak yang telah ditempatkan oleh otoritas kompeten dengan tujuan pemeliharaan, perlindungan atau pengobatan kesehatan fisik dan mentalnya, sampai ke tinjauan pengobatan periodik yang diberikan kepada anak dan semua keadaan lain yang relevan pada penempatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 26&lt;br /&gt;1. Pihak Negara akan mengakui atas hak setiap anak untuk mendapatkan manfaat dari keamanan sosial, termasuk jaminan sosial, serta akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh realisasi penuh atas hak ini menurut hokum nasionalnya.&lt;br /&gt;2. Jika tepat manfaat-manfaat tersebut harus diberikan dengan mempertimbangkan sumber-sumber dan keadaan anak serta orang yang mempunyai tanggungjawab untuk memelihara anak, juga pertimbangan lain yang berhubungan dengan sebuah permohonan demi keuntungan yang dibuat oleh atau atas nama anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 27&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak setiap anak terhadap standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spirit, moral, serta sosial anak.&lt;br /&gt;2. Orangtua atau pihak lain yang bertanggung jawab atas anak mempunyai tanggungjawab utama untuk mengamankan kondisi-kondisi hidup yang diperlukan bagi perkembangan anak, menurut kemampuan dan kapasitas keuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tinjauan penempatan periodik&lt;br /&gt;Seorang anak yang ditempatkan oleh Negara untuk alasan perawatan, perlindungan atau pengobatan berhak untuk mendapatkan evaluasi atas penempatan tersebut secara teratur.&lt;br /&gt;Jaminan sosial&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak untuk mengambil manfaat dari jaminan sosial termasuk asuransi sosial.&lt;br /&gt;Standar hidup&lt;br /&gt;Setiap anak mempunyai hak atas standar hidup yang memadai untuk perkembangan sosial, moral, spiritual, mental dan fisiknya. Orang tua mempunyai tanggung jawab utama untuk menjamin bahwa anak mempunyai standar hidup yang memadai. Tugas Negara adalah untuk menjamin bahwa tanggung jawab ini dipenuhi dan tanggung jawab Negara dapat meliputi bantuan materi kepada orang tua dan anaknya.&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak atas pendidikan dan tugas Negara adalah untuk menjamin bahwa pendidikan dasar adalah bebas biaya dan wajib, untuk mendorong bentuk-bentuk berbeda dari pendidikan menengah yang aksesibel bagi setiap anak dan untuk memberikan pendidikan tinggi untuk semua menurut dasar kapasitasnya. Mata pelajaran sekolah harus konsisten dengan hak-hak dan martabat anak. Negara mengikutsertakan kerja sama internasional untuk melaksanakan hak ini&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;3. Pihak Negara, menurut kondisi nasional dan dalam sarananya, akan mengambil langkah-langkah tepat untuk membantu orangtua dan pihak lain yang bertanggung jawab atas anak untuk mengimplementasikan hak ini dan jika diperlukan akan memberi bantuan materi dan program-program dukungan, khususnya yang berhubungan dengan makanan bergizi, pakaian serta perumahan.&lt;br /&gt;4. Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah tepat untuk melindungi penyembuhan pemeliharaan anak dari orangtua atau pihak lain yang mempunyai tanggung jawab keuangan bagi anak, baik itu dalam Pihak Negara dan dari luar Negara. Pada khususnya, dimana seseorang mempunyai tanggung jawab keuangan atas anak tinggal di suatu Negara yang berbeda dari Negara anak itu sendiri, Pihak Negara akan meningkatkan pencapaian persetujuan internasional atau rangkuman dari suatu perjanjian, juga membuat perjanjian tepat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 28&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak anak terhadap pendidikan, dan dengan tujuan untuk mencapai hak ini secara progresif dan berdasarkan kesempatan yang sama, secara khusus mereka akan:&lt;br /&gt;a) Mewajibkan pendidikan dasar dan tersedia secara cuma-cuma bagi semua;&lt;br /&gt;b) Memacu perkembangan berbagai pendidikan umum, termasuk pendidikan kejuruan dan&lt;br /&gt;umum, menyediakan dan memudahkannya bagi setiap anak, dan mengambil langkah-langkah tepat seperti pengenalan pendidikan bebas bea dan menawarkan bantuan keuangan jika dibutuhkan;&lt;br /&gt;c) Menyediakan kemudahan untuk pendidikan tinggi bagi semua berdasarkan kapasitas dasar dengan setiap sarana yang tepat;&lt;br /&gt;d) Membuat informasi kejuruan dan pendidikan serta bimbingan tersedia dan mudah bagi semua anak;&lt;br /&gt;e) Mengambil langkah-langkah untuk memacu kehadiran secara teratur di sekolah dan&lt;br /&gt;penurunan angka drop-out.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah tepat untuuk menjamin bahwa disipiln sekolah disusun secara konsisten dengan martabat anak manusia serta selaras dengan konvensi sekarang.&lt;br /&gt;3. Pihak Negara akan meningkatkan dan memacu kerjasama internasional dalam hubungannya dengan pendidikan, khususnya bertujuan memberi kontribusi terhadap penghapusan kebodohan dan buta huruf di seluruh dunia dan memberi kemudahan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan pengetahuan teknis serta metode-metode pengajaran modern. Dalam hal ini, pertimbangan khusus mengenai kebutuhan Negara-Negara berkembang akan diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 29&lt;br /&gt;1. Pihak Negara menyetujui bahwa pendidikan anak akan diarahkan pada:&lt;br /&gt;a) Perkembangan kepribadian, bakat dan kemampuan fisik serta mental anak sepenuhnya dengan segala potensinya;&lt;br /&gt;b) Perkembangan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan fundamental, serta bagi prinsip-prinsip yang diabadikan dalam piagam PBB;&lt;br /&gt;c) Perkembangan penghargaan terhadap orangtua anak, identitas budaya, bahasa, serta nilai-nilainya, bagi nilai-nilai nasional di Negara dimana anak itu tinggal, Negara dari mana anak itu berasal, serta dari berbagai peradaban yang berbeda daripadanya;&lt;br /&gt;d) Persiapan anak untuk menghadapi kehidupan yang bertanggung jawab dalam lingkungan masyarakat dengan bebas, dengan semangat pengertian, perdamaian, toleransi, persamaan jenis kelamin, persahabatan diantara manusia, kesukuan, kelompok agama dan nasional serta orang-orang pribumi;&lt;br /&gt;e) Pengembangan penghargaan bagi lingkungan alami.&lt;br /&gt;2. Tidak ada bagian dari artikel ini atau artikel 28 akan ditafsirkan untuk mencampuri kebebasan individu dan badan-badan untuk membangun dan mengarahkan institusi pendidikan, selalu dikaitkan dengan ketaatan prinsip-prinsip yang dimaktub dalam paragraf 1 dari artikel ini dan terhadap persyaratan-persyaratan bahwa pendidikan yang diberikan dalam suatu institusi tertentu akan selaras dengan standar minimum tersebut seperti yang mungkin ditetapkan oleh Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tujuan-tujuan pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan pribadi, bakat dan kemampuan mental dan fisik anak seoptimal mungkin. Pendidikan menyiapkan anak untuk kehidupan orang dewasa yang aktif dalam masyarakat yang bebas dan mengangkat penghargaan bagi orang tua anak, identitas budayanya sendiri, bahasa dan nilai-nilainya dan untuk latar belakang budaya dan nilai-nilai orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Artikel 30&lt;br /&gt;Di Negara-Negara dimana kesukuan, agama atau bahasa minoritas atau orang pribumi berada, seorang anak yang berasal dari minoritas tertentu atau pribumi tidak akan dilanggar haknya, dalam komunitas dengan anggota-anggota lain dalam kelompoknya, untuk menikmati kebudayaannya sendiri, untuk menganut dan mempraktekan agamanya sendiri, atau menggunakan bahasanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 31&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak anak untuk beristirahat dan berlibur, untuk melakukan aktivitas rekreasi dan bermain yang tepat sesuai denga usia anak dan untuk berpartisipasi dengan bebas dalam kehidupan budaya dan seni.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara akan menghargai dan menjungjung hak anak untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan seni dan budaya serta akan memacu pemberian kesempatan yang sama dan sesuai untuk budaya, seni, aktivitas hiburan dan rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 32&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak anak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan dari melakukan suatu pekerjaan yang bisa berbahaya atau mengganggu pendidikannya, atau berbahaya bagi kesehatan anak atau perkembangan fisik, mental, spirit, moral atau sosial.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah legislatif, administrasi, sosial dan pendidikan untuk menjamin implementasi artikel ini. Akhirnya, dan yang berhubungan dengan penyediaan alat-alat internasional yang relevan, Pihak Negara secara khusus akan ;&lt;br /&gt;a) Memberi usia minimum untuk diperbolehkan bekerja;&lt;br /&gt;b) Memberikan peraturan kondisi dan jam kerja yang sesuai;&lt;br /&gt;c) Memberikan hukuman atau sangsi yang tepat untuk menjamin pelaksanaan artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anak-anak minoritas atau penduduk asli Anak-anak dari masyarakat minoritas dan&lt;br /&gt;penduduk asli mempunyai hak untuk menikmati kebudayaan mereka dan untuk menjalankan agama dan bahasanya sendiri.&lt;br /&gt;Waktu luang, rekreasi dan kegiatan-kegiatan budaya&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak atas waktu luang, bermain dan ikut serta dalam kegiatan artistik dan kebudayaan&lt;br /&gt;Pekerja anak&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak untuk dilindungi dari pekerjaan yang mengancam kesehatan,&lt;br /&gt;pendidikan atau perkembangan mereka. Negara menetapkan usia minimum untuk&lt;br /&gt;bekerja dan mengatur persyaratan atau ketentuan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Artikel 33&lt;br /&gt;Pihak Negara akan melaksanakan semua langkah tepat, termasuk langkah-langkah legislatif, administrasi, social dan pendidikan, untuk melindungi anak dari penggunaan narkotik dan bahan-bahan psychotropic secara tidak sah seperti yang dijelaskan dalam perjanjian internasional yang relevan, serta mencegah penggunaan anak dalam produksi dan penjualan zat-zat tertentu yang tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 34&lt;br /&gt;Pihak Negara akan melindungi anak dari segala bentuk eksploitasi seksual dan penganiayaan seksual. Untuk tujuan ini, Pihak Negara khususnya akan mengambil langkah-langkah nasional, bilateral dan multilateral yang tepat untuk mencegah;&lt;br /&gt;a) Paksaan atau bujukan terhadap anak untuk melakukan suatu aktifitas sexual yang&lt;br /&gt;melanggar hukum;&lt;br /&gt;b) Eksploitasi penggunaan anak dalam prostitusi atau prakte-praktek seksual yang melanggar hukum lainnya;&lt;br /&gt;c) Eksploitasi penggunaan anak dalam pertunjukan dan bahan-bahan pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 35&lt;br /&gt;Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah tepat secara nasional, bilateral dan multilateral untuk mencegah penculikan, penjualan atau perdagangan anak untuk tujuan apapun atau dalam bentuk apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 36&lt;br /&gt;Pihak Negara akan melindungi anak dari bentuk-bentuk eksploitasi lainnya yang merugikan terhadap aspek-aspek kesejahteraan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 37&lt;br /&gt;Pihak Negara akan menjamin bahwa:&lt;br /&gt;a)       Tidak ada anak yang akan dikenakan penyiksaan atau kekejaman lainnya, ketidakmanusiawian atau penghinaan atau hukuman. Baik itu hukuman Negara ataupun penjara seumur hidup tanpa kemungkinan bebas tidak akan dijatuhkan bagi pelanggaran yang dilakukan oleh orang dibawah usia 18 tahun;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penyalahgunaan obat-obatan&lt;br /&gt;Anak-anak mempunyai hak atas perlindungan dari penggunaan narkotik dan obat psikotropik dan dari keterlibatan dalam produksi atau distribusinya.&lt;br /&gt;Eksploitasi seksual&lt;br /&gt;Negara melindungi anak-anak dari eksploitasi dan penganiayaan seksual termasuk pelacuran dan keterlibatan dalam pornografi.&lt;br /&gt;Penjualan, perdagangan dan penculikan&lt;br /&gt;Ini merupakan kewajiban Negara untuk melakukan setiap upaya untuk mencegah penjualan, perdagangan dan penculikan anak.&lt;br /&gt;Bentuk eksploitasi lainnya&lt;br /&gt;Anak mempunyai hak atas perlindungan dari semua bentuk eksploitasi yang&lt;br /&gt;merugikan aspek kesejahteraan anak manapun yang tidak dicakup dalam artikel&lt;br /&gt;32, 33, 34 dan 35.&lt;br /&gt;Penyiksaan dan pencabutan kebebasan&lt;br /&gt;Tidak ada anak yang diperkenankan menjalani penyiksaan, perlakuan kejam atau&lt;br /&gt;hukuman, penangkapan di luar hukum atau pencabutan kebebasan. Baik hukuman mati dan penjara seumur hidup tanpa kemungkinan untuk dibebaskan, dilarang bagi pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang di bawah 18 tahun. Anak yang dicabut kebebasannya harus dipisahkan dariorang dewasa kecuali dianggap dalam kepentingan terbaik anak untuk tidak dilakukan. Seorang anak yang ditahan akan mempunyai pendamping legal atau lainnya juga kontak dengan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;b) Tidak ada anak yang akan dihilangkan kebebasannya secara tidak sah atau sewenang-wenang. Penangkapan, penahanan, atau memenjarakan seorang anak akan disesuaikan dengan hukum dan hanya akan digunakan sebagai suatu ukuran sumber bantuan terakhir dan untuk jangka waktu yang paling pendek ;&lt;br /&gt;c) Setiap anak yang hilang kebebasannya akan diperlakukan secara kemanusiaan serta menghargai martabat seorang manusia yang melekat, dan dengan mempertimbangkan kebutuhan orang sesuai dengan usianya. Pada khususnya, setiap anak yang hilang kebebasannya akan dipisahkan dari orang dewasa kecuali jika dianggap menurut kebutuhan terbaik anak tidak melakukan hal demikian dan akan mempunyai hak untuk tetap berhubungan dengan keluarganya melalui korespondensi dan kunjungan, aman berada dalam keadaan pengecualian;&lt;br /&gt;d) Setiap anak yang hilang kebebasannya akan mempunyai hak untuk mendapatkan bantuan legal dan tepat, juga hak untuk menentang sahnya pencabutan kebebasannya didepan pengadilan atau otoritas kompeten, independen, dan netral lain, dan untuk mengambil keputusan dari tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 38&lt;br /&gt;1. Pihak Negara berusaha menghormati dan menjamin penghargaan terhadap peraturan-peraturan hokum kemanusiaan internasional yang dapat diterapkan padanya dalam konflik senjata yang relevan dengan anak.&lt;br /&gt;2. Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah nyata bahwa orang yang belum mencapai usia 15 tahun tidak boleh berpartisipasi langsung dengan peperangan.&lt;br /&gt;3. Pihak Negara akan menahan diri untuk merekrut orang yang belum mencapai usia 15 tahun ke dalam angkatan bersenjata. Dalam merekrut orang-orang tersebut yang telah mencapai usia 15 tahun tapi belum mencapai usia 18 tahun, Pihak Negara akan berusaha memberikan prioritas bagi mereka yang paling tua.&lt;br /&gt;4. Sesuai dengan kewajibannya dalam hukumkemanusiaan internasional untuk melindungi masyarakat sipil dalam konflik bersenjata, Pihak Negara akan mengambil semua langkah-langkah nyata untuk menjamin perlindungan dan pemlihran anak-anak yang terlibat dalam konflik senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Konflik bersenjata&lt;br /&gt;Pihak Negara harus mengambil semua tindakan yang memungkinkan untuk menjamin bahwa anak-anak di bawah umur 15 tahun tidak ikut serta secara langsung dalam perang. Tidak ada anak di bawah umur 15 tahun yang direkrut ke dalam angkatan bersenjata. Negara juga menjamin perlindungan dan pengasuhan anak-anak yang menderita akibat konflik bersenjata seperti yang dijelaskan dalam hokum internasional yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Artikel 39&lt;br /&gt;Pihak Negara akan mengambil langkah-langkah tepat untuk meningkatkan penyembuhan psychologis dan fisik serta reintegrasi sosial seorang anak yang merupakan korban dari; segala bentuk kesewenang-wenangan, eksploitasi, atau penyiksaan; penganiayaan atau bentuk kekejaman lainnya, perlakuan tidak manusiawi atau penghinaan atau penghukuman; atau konflik senjata. Penyembuhan dan reintegrasi tersebut harus berlangsung dalam suatu lingkungan yang mendukung kesehatan, penghargaan diri dan martabat anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 40&lt;br /&gt;1. Pihak Negara mengakui hak setiap anak yang telah dinyatakan, dituduh, atau diakui telah melanggar hukum pidana diperlakukan secara konsisten dengan peningkatan martabat dan kebaikan anak, yang memperkuat kepentingan anak bagi hak-hak asasi manusia dan kebebasan fundamental orang lainnya dan dengan mempertimbangkan usia anak serta keinginan meningkatkan reintegrasi anak dan anggapan anak terhadap peranannya yang berguna dalam masyarakat.&lt;br /&gt;2. Pada akhirnya, sehubungan dengan ketetapan relevan dari instrumen internasional, Pihak Negara secara khusus akan menjamin bahwa :&lt;br /&gt;a) Tidak ada anak yang dinyatakan , dituduh, atau diakui telah melanggar hukum pidana dengan alasan tindakan atau kelalaian yang dilarang oleh hukum internasional atau nasional pada saat mereka terlibat;&lt;br /&gt;b) Setiap anak yang dinyatakan atau dituduh telah melanggar hukum pidana paling tidak mempunyai jaminan berikut :&lt;br /&gt;i. Dianggap tidak berdosa sampai terbukti bersalah menurut hukum;&lt;br /&gt;ii. Diberitahu dengan cepat dan langsung tentang tuduhan-tuduhan terhadapnya, dan, bila memungkinkan, melalui orangtuanya atau perwalian legal, dan mendapat bantuan tepat dan legal dalam mempersiapkan dan mengajukan pembelaan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rawatan atau Pengasuhan rehabilitatif&lt;br /&gt;Negara mempunyai sebuah kewajiban untuk menjamin bahwa anak korban konflik bersenjata, penyiksaan, pengabaian, penganiayaan atau eksploitasi menerima pengobatan yang tepat untuk kesembuhannya dan re-integrasi sosial.&lt;br /&gt;Administrasi peradilan anak muda&lt;br /&gt;Seorang anak yang bermasalah dengan hukum mempunyai hak atas perlakuan yang meningkatkan martabat dan harga diri anak, mempertimbangkan usia anak dan mentargetkan untuk mengintegrasikannya kembali ke masyarakat. Anak berhak atas jaminan dasar juga pendamping legal atau lainnya untuk pembelaannya. Pengadilan dan penempatan institusional/penjara akan dihindarkan jika memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;iii. Agar masalah tersebut diselesaikan tanpa penundaan oleh otoritas kompeten, independen, netral atau badan hokum dalam sidang yang adil sesuai dengan hukum, dengan keberadaan bantuan legal dan yang lainnya dan, kecuali jika dianggap bukan merupakan kepentingan terbaik anak, khususnya dengan mempertimbangkan situasi atau usia, orangtuanya atau wali sah;&lt;br /&gt;iv. Tidak dipaksa untuk memberi kesaksian atau mengakui kesalahan; untuk menguji atau diuji kesaksian yang berlawanan dan untuk memperoleh keikutsertaan dan pengujian saksi-saksi mengatasnamakannya berdasarkan kondisi persamaan;&lt;br /&gt;v. Jika dianggap melanggar hukum pidana, untuk mengambil keputusan ini dan langkah-langkah lain yang mempunyai konsekuensinya maka harus dipertimbangkan oleh otoritas kompeten, independen, dan netral atau badan hokum menurut hukum;&lt;br /&gt;vi. Memperoleh bantuan cuma-cuma dari seorang alih bahasa jika seorang anak tidak bisa memahami atau berbicara bahasa yang digunakan;&lt;br /&gt;vii. Memperoleh perlindungan sepenuhnya terhadap rahasia pribadinya dalam setiap tahap proses pelaporan.&lt;br /&gt;3. Pihak Negara akan terus meningkatkan pelaksanaan hukum, prosedur, otoritas-otoritas dan institusi terutama yang dapat diterapkan pada anak yang dinyatakan, dituduh, diakui telah melanggar hokum pidana, serta pada khususnya :&lt;br /&gt;a) Penetapan usia minimum dibawah dimana anak akan dianggap tidak memiliki kapasitas&lt;br /&gt;melanggar hukum pidana;&lt;br /&gt;b) Bila sesuai dan dikehendaki, langkah-langkah untuk menangani anak tersebut tanpa terpaksa melakukan proses hukum, dengan menimbang hak asasi manusia dan perlindungan legal sepenuhnya dijungjung tinggi.&lt;br /&gt;4. Suatu variasi penempatan, seperti pemeliharaan, perwalian dan tatanan pengawasan; bimbingan, masa percobaan; pengangkatan; pendidikan dan program-program training kejuruan dan alternatif lain terhadap pemeliharaan institusional harustersedia untuk menjamin bahwa anak ditangani secara tepat untuk kesejahteraannya serta seimbang baik menurut keadaan dan pelanggarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 41&lt;br /&gt;Tidak ada dalam konvensi ini yang akan mempengaruhi suatu ketetapan yang lebih kondusif terhadap realisasi hak-hak anak dan yang dapat termuat dalam:&lt;br /&gt;a) Hukum suatu Pihak Negara; atau&lt;br /&gt;b) Hukum internasional dalam angkatan bersenjata bagi Negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;Artikel 42&lt;br /&gt;Pihak Negara berusaha untuk membuat prinsip-prinsip dan ketetapan konvensi dari konvensi yang sudah dikenal luas, dengan cara tepat dan aktif, bagi orang dewasa dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 43&lt;br /&gt;1. Untuk tujuan menguji kemajuan yang dibuat oleh Pihak Negara dalam memperoleh realisasi tugas yang dijalankan dalam konvensi ini, harus ada sebuah komite yang dibuat untuk hak-hak anak, yang akan menjalankan fungsi yang diberikan selanjutnya.&lt;br /&gt;2. Komite tersebut akan terdiri dari 10 ahli bermoral tinggi dan berkemampuan yang diakui dalam bidangnya yang termasuk dalam konvensi ini.&lt;br /&gt;Anggota anggota komite ini akan dipilih oleh Pihak Negara diantara bangsa-bangsanya dan akan membantu kapasitas pribadinya, pertimbangan diberikan pada distribusi geograpis yang pantas, juga pada sistem legal yang utama.&lt;br /&gt;3. Anggota-anggota komite akan dipilih dengan suara rahasia berdasarkan daftar orang-orang yang dinominasikan oleh Pihak Negara. Setiap Pihak Negara boleh menominasikan seorang diantara bangsa-bangsa mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penghormatan atas standar yang lebih tinggi&lt;br /&gt;Bilamana ketetapan standar dalam hokum nasional dan internasional yang berlaku yang relevan dengan hak-hak anak lebih tinggi dari standar dalam Konvensi ini, standar yang lebih tinggi tersebut akan selalu berlaku.&lt;br /&gt;Artikel Pelaksanaan dan pemberlakuan&lt;br /&gt;Ketetapan dari artikel 42-54 khususnya menegaskan bahwa:&lt;br /&gt;(i) Kewajiban Negara untuk membuat hak-hak yang terkandung dalam Konvensi ini diketahui secara luas baik oleh orang dewasa maupun anak-anak.&lt;br /&gt;(ii) Pembentukan Komite untuk Hak-hak Anak terdiri dari sepuluh ahli, yang akan mempertimbangkan laporan yang harus diserahkan Pihak Negara dari Konvensi ini dua tahun setelah ratifikasi dan setiap lima tahun kemudian. Konvensi berlaku – dan oleh karena itu Komite akan dibentuk setelah 20 Negara telah meratifikasinya.&lt;br /&gt;(iii) Pihak Negara harus membuat laporannya tersedia secara luas bagi masyarakat umum.&lt;br /&gt;(iv) Komite dapat mengajukan bahwa penelitian khusus dilakukan atas masalah spesifik yang berhubungan dengan hak-hak anak, dan dapat menyebarkan evaluasinya agar diketahui setiap Pihak Negara yang berkaitan dan juga Dewan Jenderal PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;4. Pemilihan awal untuk komite akan dilangsungkan tidak lebih dari 6 bulan setelah tanggal masuknya kekuatan konvensi ini dan kemudian setiap tahun kedua. Paling sedikit 4 bulan sebelum tanggal tiap pemilihan, sekjen PBB akan mengirim surat pada Pihak Negara dan mengundangnya untuk menyerahkan nominasi-nominasinya dalam waktu 2 bulan. Kemudian sekjen PBB akan mempersiapkan daftar dalam susunan alfabet dari semua orang yang dinominasikan, menunjukan semua Pihak Negara yang telah menominasikan mereka, dan menyerahkannya ke Pihak Negara untuk konvensi ini.&lt;br /&gt;5. Pemilihan akan diselenggarakan pada sidang-sidang Pihak Negara yang dirapatkan oleh sekjen di markas besar PBB. Pada sidang-sidang tersebut, dimana 2/3 Pihak Negara akan mengangkat suatu quorum, orang yang dipilih untuk komite akan merupakan yang memperoleh jumlah suara terbesar dan mayoritas suara yang mutlak dari perwakilan-perwakilan Pihak Negara yang hadir dan memberi suara.&lt;br /&gt;6. Anggota-anggota komite akan dipilih untuk jangka waktu 4 tahun. Mereka harus memenuhi syarat untuk pemilihan kembali jika dinominasikan. Masa dari lima anggota yang dipilih pada pemilihan pertama akan habis pada akhir dua tahun; segera setelah pemilihan pertama, nama-nama dari kelima anggota tersebut akan dipilih secara terpisah oleh banyak pemimpin sidang.&lt;br /&gt;7. Jika ada seorang anggota komite meninggal atau mengundurkan diri atau menyatakan bahwa karena sebab-sebab lain dia tidak lagi bisa melakukan tugas-tugas komite, Pihak Negara yang menominasikan anggota tersebut akan menunjuk ahli lain dari sekian banyak bangsa untuk membantu dalam sisa masa tersebut, harus berdasarkan persetujuan komite.&lt;br /&gt;8. Komite akan menetapkan peraturan prosedurnya sendiri.&lt;br /&gt;9. Komite akan memilih staf-stafnya sendiri untuk jangka waktu dua tahun.&lt;br /&gt;10. Pertemuan-pertemuan komite biasanya akan diselenggarakan di markas besar PBB atau di tempat lain yang nyaman seperti yang ditentukan oleh komite. Komite biasanya akan bertemu setiap tahun. Lama waktu pertemuan komite tersebut akan ditentukan, dan ditinjau, jika perlu, oleh sebuah rapat Pihak Negara untuk konvensi ini, berdasarkan persetujuan dewan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(v) Untuk “mengangkat pelaksanaan efektif dari Konvensi tersebut dan untuk mendorong kerja sama internasional”, agensi khusus PBB (seperti ILO, WHO, dan UNESCO) dan UNICEF akan dapat menghadiri pertemuan Komite tersebut. Bersama dengan badan lain yang diakui “kompeten”, termasuk organisasi non pemerintah dengan status konsultatif dengan PBB dan badan PBB seperti UNHCR, mereka dapat menyerahkan informasi yang berkaitan kepada Komite dan diminta untuk memberikan saran tentang pelaksanaan Konvensi yang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;11. Sekjen PBB akan menyediakan fasilitas dan staf-staf yang diperlukan untuk pelaksanaan efektif fungsi-fungsi komite dibawah konvensi ini .&lt;br /&gt;12. Dengan persetujuan dewan umum, anggota komite yang ditetapkan dalam konvensi ini akan menerima pembayaran dari sumber-sumber PBB dengan syarat-syarat dan peraturan yang diputuskan dewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 44&lt;br /&gt;1. Pihak Negara menyerahkan laporan-laporan tentang langkah-langkah yang mereka telah ambil yang mempengaruhi hak-hak yang diakui didalamnya dan tentang kemajuan yang dibuat tentang penggunaan hak-hak tersebut, pada komite, melalui sekjen PBB:&lt;br /&gt;a) Dalam waktu dua tahun sejak berlakunya konvensi bagi Pihak Negara yang bersangkutan;&lt;br /&gt;b) Kemudian setiap lima tahun.&lt;br /&gt;2. Laporan-laporan yang dibuat berdasarkan artikel ini akan menunjukan faktor-faktor dan kesulitan-kesulitan, jika ada, mempengaruhi tingkat penyelesaian tugas berdasarkan konvensi ini. Laporan juga akan terdiri dari cukup informasi yang cukup untuk memberi komite pemahaman komprehensif terhadap implementasi konvensi di Negara yang bersangkutan.&lt;br /&gt;3. Suatu Pihak Negara yang telah menyerahkan laporan awal komprehensif pada komite tidak perlu, dalam laporan berikutnya yang diserahkan menurut paragraf 1 (b) dari artikel ini, mengulangi informasi dasar yang diberikan sebelumnya.&lt;br /&gt;4. Komite boleh meminta informasi lebih jauh yang relevan dengan implementasi konvensi dari Pihak Negara.&lt;br /&gt;5. Komite akan menyerahkan laporan-laporan tentang aktivitas-aktivitasnya pada dewan umum, melalui dewan sosial dan ekonomi, setiap dua tahun.&lt;br /&gt;6. Pihak Negara akan membuat laporan-laporannya tersedia secara luas bagi masyarakat di Negaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 45&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan implementasi efektif dari konvensi dan memacu kerjasama internasional dalam bidang yang tercakup dalam konvensi:&lt;br /&gt;a) Agen-agen khusus, dana anak-anak PBB, dan organ-organ PBB lainnya akan ditugaskan untuk diwakilkan pada pertimbangan pelaksanaan ketetapan-ketetapan tersebut pada konvensi ini yang berada dalam cakupan mandatnya. Komite boleh mengundang agen-agen khusus, dana anak-anak PBB dan otritas kompeten, dan organ-organ PBB lainnya jika dianggap tepat untuk memberikan saran kepada para ahli mengenai pelaksanaan konvensi dalam bidang-bidang yang berada dalam cakupan mandatnya. Komite bisa mengundang agen-agen khusus, dana anak-anak PBB dan organ PBB lainnya untuk menyerahkan laporan tentang implementasi konvensi di daerah yang dalam cakupan aktivitasnya;&lt;br /&gt;b) Jika dianggap tepat komite akan meneruskannya kepada agen-agen khusus, dana anak-anak PBB dan badan-badan kompeten, laporan-laporan dari Pihak Negara yang mencakup sebuah permohonan, atau menunjukan suatu kebutuhan, bagi bantuan dan saran teknis, bersamaan dengan saran-saran dan observasi komite, jika ada, dalam permohonan dan petunjuk-petunjuk ini;&lt;br /&gt;c) Komite itu bisa memberikan rujukan pada dewanumum untuk memohon sekjen untuk menjalankan penelitian-penelitian tentang masalah-masalah khusus yang berhubungan dengan hak-hak anak;&lt;br /&gt;d) Komite bisa membuat saran-saran dan rekomendasi umum berdasarkan informasi yang diterima menurut artikel 44 dan 45 dari konvensi ini. Saran-saran tersebut dan rekomendasi umum akan dikirim ke suatu Pihak Negara yang bersangkutan dan dilaporkan ke dewan umum, bersamaan dengan komentar dari Pihak Negara, jika ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian III&lt;br /&gt;Artikel 46&lt;br /&gt;Artikel ini akan dibuka bagi tandatangan oleh seluruh Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 47&lt;br /&gt;Konvensi ini ditujukan untuk pengesahan. Alat-alat pengesahan akan disimpan dengan sekjen PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 48&lt;br /&gt;Konvensi ini akan tetap terbuka bagi penyetujuan oleh suatu Negara. Alat-alat penyetujuan akan disimpan bersama dengan sekjen PBB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 49&lt;br /&gt;1. Konvensi ini akan mulai mempunyai kekuatan pada hari ke 30 sejak tanggal penyimpanan alat pengesahan atau penyetujuan ke 20.&lt;br /&gt;2. Karena tiap Negara mengesahkan atau menyetujui konvensi setelah penyimpanan alat pengesahan atau penyetujuan ke 20, konvensi akan mulai mempunyai kekuatan pada hari ke 30 setelah penyimpanan alat-alat pengesahan atau penyetujuanoleh Negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 50&lt;br /&gt;1. Suatu Pihak Negara boleh mengajukan amandemen dan merangkainya bersama dengan sekjen PBB. Sekjen kemudian akan membahas amandemen yang diajukan ke Pihak Negara, dengan permohonan bahwa mereka menunjukan apakah mereka menginginkan sebuah konferensi Pihak Negara untuk tujuan mempertimbangkan dan memberikan suara terhadap proposal tersebut. Kalau sekiranya, dalam waktu 4 bulan sejak tanggal pembahasan tersebut, paling sedikit 1/3 dari Pihak Negara yang menginginkan konferensi tersebut, sekjen akan mengadakan konferensi di bawah pimpinan PBB.&lt;br /&gt;Suatu amandemen yang diadaptasikan oleh mayoritas Pihak Negara yang hadir dan memberi suara pada konferensi akan diserahkan pada dewan umum untuk persetujuan.&lt;br /&gt;2. Suatu amandemen yang diadaptasikan menurut paragraf 1 dari artikel ini akan memiliki kekuatan jika sudah disetujui oleh dewan umum PBB dan diterima oleh 2/3 mayoritas Pihak Negara.&lt;br /&gt;3. Bila suatu amandemen memiliki kekuatan, amandemen tersebut akan mengikat Pihak Negara tersebut yang telah menerimanya, Pihak Negara lain masih terikat oleh ketetapan konvensi ini dan amandemen-amandemen yang lebih awal yang telah mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 51&lt;br /&gt;1. Sekjen PBB akan menerima dan mengedarkannya ke seluruh Negara teks syarat-syarat yang dibuat oleh Negara-Negara pada waktu pengesahan atau penyetujuan.&lt;br /&gt;2. Suatu persyaratan yang tidak sesuai dengan obyek dan maksud konvensi ini tidak akan diijinkan.&lt;br /&gt;3. Syarat-syarat tersebut dapat ditarik kapanpun dengan pemberitahuan mengenai hasilnya ke Sekjen PBB, yang kemudian akan memberitahukan ke seluruh Negara. Pemberitahuan tersebut akan berpengaruh pada tanggal diterimanya oleh Sekjen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 52&lt;br /&gt;Suatu Pihak Negara bisa menggugat konvensi ini dengan pemberitahuan tertulis ke Sekjen PBB. Pengaduan ini menjadi efektif satu tahun setelah tanggal diterimanya pemberitahuan oleh sekjen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 53&lt;br /&gt;Sekjen PBB dirancang sebagai tempat penyimpanan konvensi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel 54&lt;br /&gt;Konvensi yang asli, dimana seluruh teksnya dalam bahasa arab, cina, inggris, perancis, rusia dan spanyol sama aslinya, akan disimpan bersama sekjen PBB.&lt;br /&gt;Dengan kesaksian dari para perwakilan yang dikuasakan, yang diberikan kewenangan penuh oleh pemerintah masing-masing, telah menandatangani konvensi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======= ***=======&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5837106147568728518-1495432766623022092?l=papinto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://papinto.blogspot.com/feeds/1495432766623022092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5837106147568728518&amp;postID=1495432766623022092' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/1495432766623022092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5837106147568728518/posts/default/1495432766623022092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://papinto.blogspot.com/2007/05/rencana-anggaran-20-apbn-untuk.html' title='Rencana Anggaran 20% APBN Untuk PENDIDIKAN'/><author><name>papinto si badut pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12616397937793356256</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/Rk4shvcZYqI/AAAAAAAAAGI/pyVK1wOoK4k/s72-c/Icarus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5837106147568728518.post-5521735793257058564</id><published>2007-05-16T12:29:00.000-07:00</published><updated>2007-05-16T13:18:49.479-07:00</updated><title type='text'>Legenda Surabaya Yang mengerikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RktlovcZYpI/AAAAAAAAAGA/L777gQwLTvg/s1600-h/logo-sby.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 192px; height: 161px;" src="http://bp0.blogger.com/_ukNE0BHrWHc/RktlovcZYpI/AAAAAAAAAGA/L777gQwLTvg/s320/logo-sby.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5065253956512998034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Papinto mengucapkan Selamat ULTAH Kota Surabaya yang ke-704&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima panggilan mendongeng dari TK St. Aloysius di Jl. Jemur Andayani amat menyenangkan. Pagi itu aku disambut oleh Ibu kepala Sekolah dan diajak ngobrol seputar kreatifitas anak didik di TK itu, beliau menerangkan hampir 70% muridnya adalah dari kalangan Tionghoa yang tentu saja rata-rata memiliki kehidupan yang mapan. Oya selama ini aku selalu mendongeng di TK pribumi, jadi sekarang aku bisa membedakan tingkah, kreatifitas dan keberanian anak2 itu. Ceritanya kupilih Legenda Kota Surabaya yang berisi tentang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; perkelahian antara buaya dan ikan hiu, oleh karena tak ada yang kalah dan menang walaupun tubuh mereka sudah berdarah darah bahkan konon perkelahian itu telah menimbulkan warna merah darah di air kali&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Surabaya&lt;/span&gt;. Beranikah aku mendongengkan tentang kisah yang berisi kekerasan itu? ternyata aku tak berani sebab anak2 harus dilindungi dari "masukan" atau visi2 yang mengandung nilai2 kekerasan. Jangan sampai kengerian itu akan terekam dan mempengaruhi emosinya kelak. Aku berpendapat bahwa pikiran anak ibarat kaset kosong yang belum  mampu  memilah milah mana "masukan" yang pantas dan tidak untuk dikonsumsi. Ya, mereka belum memiliki "filter" yang pas untuk menyaring kebaikan dan keburukan. Agar acaranya penuh gelak tawa, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dongeng perkelahian&lt;/span&gt; itu kuubah menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kisah perlombaan&lt;/span&gt; siapa yang lebih dahulu menggigit ekor masing2 binatang, maka ia berhak jadi pemenang dan akan menguasai wilayah air kali Surabaya.Ternyata anak2 tertawa terpingkal pingkal ketika kuperagaan buaya menggigit ekor hiu dengan mulut ternganga demikian sebaliknya, sehingga kedua binatang itu hanya berputar putar saja kekiri dan kekanan. Cerita kedua kupilih dongeng binatang/fabel dengan cerita "akibat salah membuang kulit pisang" disertai peragaan boneka. Faktanya sepanjang pengalamanku ternyata anak2 yang lebih mapan kehidupannya itu lebih penurut pada Guru atau orang yang dituakan, tidak seperti anak2 pribumi menengah bawah yang rata2 lumayan bandel. Ayo lindungi anak2 kita dari visi2 keras yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya. Alhamdullilah, sukses pertunjukkanku!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="Section1"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Oleh:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Nomor: 23 TAHUN 2002 (23/2002)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tanggal: 22 OKTOBER 2002 (JAKARTA)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sumber: LN 2002/109; TLN NO 4235&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tentang: PERLINDUNGAN ANAK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Menimbang:&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;e. bahwa untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak diperlukan dukungan kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang dapat menjamin pelaksanaannya; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;f. bahwa berbagai undang-undang hanya mengatur hal-hal tertentu mengenai anak dan secara khusus belum mengatur keseluruhan aspek yang berkaitan dengan perlindungan anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;g. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a, b, c, d, e, dan f perlu ditetapkan Undang-undang tentang Perlindungan Anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Mengingat:&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1. Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, Pasal 28B ayat (2), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3143); &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on The Elimination of all Forms of Discrimination Against Women) (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3277); &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;4. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3668); &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;5. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670); &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;6. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention No. 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi ILO mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja) (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3835); &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;7. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886); &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;8. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning The Prohibition and Immediate Action for The Elimination of The Worst Forms of Child Labour (Konvensi ILO No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak) (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3941);&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dengan persetujuan bersama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;DAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;MEMUTUSKAN:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN ANAK.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB I &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KETENTUAN UMUM &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 1 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;3. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;4. Orang tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu angkat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;5. Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai orang tua terhadap anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;6. Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;7. Anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;8. Anak yang memiliki keunggulan adalah anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, atau memiliki potensi dan/atau bakat istimewa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;9. Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;10. Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;11. Kuasa asuh adalah kekuasaan orang tua untuk mengasuh, mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan kemampuan, bakat, serta minatnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;12. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;13. Masyarakat adalah perseorangan, keluarga, kelompok, dan organisasi sosial dan/atau organisasi kemasyarakatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;14. Pendamping adalah pekerja sosial yang mempunyai kompetensi profesional dalam bidangnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;15. Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;16. Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;17. Pemerintah adalah Pemerintah yang meliputi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB II &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ASAS DAN TUJUAN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 2 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. nondiskriminasi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. kepentingan yang terbaik bagi anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. penghargaan terhadap pendapat anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 3 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB III &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;HAK DAN KEWAJIBAN ANAK &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 4 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 5 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 6 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 7 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 8 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 9 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 10 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 11 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 12 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 13 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. diskriminasi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. penelantaran; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;e. ketidakadilan; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;f. perlakuan salah lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 14 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 15 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. pelibatan dalam sengketa bersenjata; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. pelibatan dalam kerusuhan sosial;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;e. pelibatan dalam peperangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 16 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 17 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 18 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 19 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap anak berkewajiban untuk: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. menghormati orang tua, wali, dan guru; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. mencintai tanah air, bangsa, dan negara; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;e. melaksanakan etika dan akhlak yang mulia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB IV &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kesatu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Umum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 20 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kedua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kewajiban dan Tanggung Jawab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara dan Pemerintah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 21 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 22 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 23 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Negara dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Negara dan pemerintah mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 24 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara dan pemerintah menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Ketiga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kewajiban dan Tanggung Jawab Masyarakat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 25 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kewajiban dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan anak dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Keempat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kewajiban dan Tanggung Jawab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Keluarga dan Orang Tua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 26 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB V &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KEDUDUKAN ANAK &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kesatu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Identitas Anak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 27 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada surat keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui, dan orang tuanya tidak diketahui keberadaannya, pembuatan akta kelahiran untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 28 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pembuatan akta kelahiran menjadi tanggung jawab pemerintah yang dalam pelaksanaannya diselenggarakan serendah-rendahnya pada tingkat kelurahan/desa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diajukannya permohonan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dikenai biaya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Ketentuan mengenai tata cara dan syarat-syarat pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dengan peraturan perundang-undangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kedua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anak yang Dilahirkan dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perkawinan Campuran &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 29 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Jika terjadi perkawinan campuran antara warga negara Republik Indonesia dan warga negara asing, anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut berhak memperoleh kewarganegaraan dari ayah atau ibunya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal terjadi perceraian dari perkawinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), anak berhak untuk memilih atau berdasarkan putusan pengadilan, berada dalam pengasuhan salah satu dari kedua orang tuanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Dalam hal terjadi perceraian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), sedangkan anak belum mampu menentukan pilihan dan ibunya berkewarganegaraan Republik Indonesia, demi kepentingan terbaik anak atau atas permohonan ibunya, pemerintah berkewajiban mengurus status kewarganegaraan Republik Indonesia bagi anak tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB VI &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KUASA ASUH &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 30 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Dalam hal orang tua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, melalaikan kewajibannya, terhadapnya dapat dilakukan tindakan pengawasan atau kuasa asuh orang tua dapat dicabut. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Tindakan pengawasan terhadap orang tua atau pencabutan kuasa asuh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui penetapan pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 31 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Salah satu orang tua, saudara kandung, atau keluarga sampai derajat ketiga, dapat mengajukan permohonan ke pengadilan untuk mendapatkan penetapan pengadilan tentang pencabutan kuasa asuh orang tua atau melakukan tindakan pengawasan apabila terdapat alasan yang kuat untuk itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Apabila salah satu orang tua, saudara kandung, atau keluarga sampai dengan derajat ketiga, tidak dapat melaksanakan fungsinya, maka pencabutan kuasa asuh orang tua sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat juga diajukan oleh pejabat yang berwenang atau lembaga lain yang mempunyai kewenangan untuk itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat menunjuk orang perseorangan atau lembaga pemerintah/masyarakat untuk menjadi wali bagi yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Perseorangan yang melaksanakan pengasuhan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus seagama dengan agama yang dianut anak yang akan diasuhnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 32 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) sekurang-kurangnya memuat ketentuan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. tidak memutuskan hubungan darah antara anak dan orang tua kandungnya; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. tidak menghilangkan kewajiban orang tuanya untuk membiayai hidup anaknya; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. batas waktu pencabutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB VII &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PERWALIAN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 33 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Dalam hal orang tua anak tidak cakap melakukan perbuatan hukum, atau tidak diketahui tempat tinggal atau keberadaannya, maka seseorang atau badan hukum yang memenuhi persyaratan dapat ditunjuk sebagai wali dari anak yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Untuk menjadi wali anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui penetapan pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Wali yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) agamanya harus sama dengan agama yang dianut anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Untuk kepentingan anak, wali sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib mengelola harta milik anak yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(5) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penunjukan wali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 34 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Wali yang ditunjuk berdasarkan penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, dapat mewakili anak untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 35 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Dalam hal anak belum mendapat penetapan pengadilan mengenai wali, maka harta kekayaan anak tersebut dapat diurus oleh Balai Harta Peninggalan atau lembaga lain yang mempunyai kewenangan untuk itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Balai Harta Peninggalan atau lembaga lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertindak sebagai wali pengawas untuk mewakili kepentingan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Pengurusan harta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) harus mendapat penetapan pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 36 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Dalam hal wali yang ditunjuk ternyata di kemudian hari tidak cakap melakukan perbuatan hukum atau menyalahgunakan kekuasaannya sebagai wali, maka status perwaliannya dicabut dan ditunjuk orang lain sebagai wali melalui penetapan pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal wali meninggal dunia, ditunjuk orang lain sebagai wali melalui penetapan pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB VIII &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PENGASUHAN DAN PENGANGKATAN ANAK &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kesatu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pengasuhan Anak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 37 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pengasuhan anak ditujukan kepada anak yang orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anaknya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pengasuhan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh perseorangan dan/atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Perseorangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) seyogyanya seagama dengan agama anak yang akan diasuh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Dalam hal lembaga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berlandaskan agama, anak yang diasuh harus seagama dengan agama yang menjadi landasan lembaga yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(5) Dalam hal pengasuhan anak dilakukan oleh lembaga yang tidak berlandaskan agama, maka pelaksanaan pengasuhan anak harus memperhatikan agama yang dianut anak yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(6) Pengasuhan anak oleh lembaga dapat dilakukan di dalam panti atau di luar panti sosial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 38 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pengasuhan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, dilaksanakan tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pengasuhan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diselenggarakan melalui kegiatan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, dan pendidikan secara berkesinambungan, serta dengan memberikan bantuan biaya dan/atau fasilitas lain, untuk menjamin tumbuh kembang anak secara optimal, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial, tanpa mempengaruhi agama yang dianut anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kedua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pengangkatan Anak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 39 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pengangkatan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Pengangkatan anak oleh warga negara asing hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(5) Dalam hal asal usul anak tidak diketahui, maka agama anak disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 40 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pemberitahuan asal usul dan orang tua kandungnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan kesiapan anak yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 41 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pemerintah dan masyarakat melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengangkatan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Ketentuan mengenai bimbingan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB IX &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kesatu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Agama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 42 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap anak mendapat perlindungan untuk beribadah menurut agamanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Sebelum anak dapat menentukan pilihannya, agama yang dipeluk anak mengikuti agama orang tuanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 43 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dan lembaga sosial menjamin perlindungan anak dalam memeluk agamanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Perlindungan anak dalam memeluk agamanya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama bagi anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kedua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kesehatan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 44 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Penyediaan fasilitas dan penyelenggaraan upaya kesehatan secara komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didukung oleh peran serta masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Upaya kesehatan yang komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, baik untuk pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Upaya kesehatan yang komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara cuma-cuma bagi keluarga yang tidak mampu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 45 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan anak dan merawat anak sejak dalam kandungan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal orang tua dan keluarga yang tidak mampu melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pemerintah wajib memenuhinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 46 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib mengusahakan agar anak yang lahir terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan hidup dan/atau menimbulkan kecacatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 47 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi anak dari upaya transplantasi organ tubuhnya untuk pihak lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib melindungi anak dari perbuatan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. pengambilan organ tubuh anak dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. jual beli organ dan/atau jaringan tubuh anak; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua dan tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Ketiga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pendidikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 48 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 49 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 50 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 diarahkan pada:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. pengembangan sikap dan kemampuan kepribadian anak, bakat, kemampuan mental dan fisik sampai mencapai potensi mereka yang optimal; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. pengembangan penghormatan atas hak asasi manusia dan kebebasan asasi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. pengembangan rasa hormat terhadap orang tua, identitas budaya, bahasa dan nilai-nilainya sendiri, nilai-nilai nasional di mana anak bertempat tinggal, dari mana anak berasal, dan peradaban-peradaban yang berbeda-beda dari peradaban sendiri; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. persiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab; dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;e. pengembangan rasa hormat dan cinta terhadap lingkungan hidup. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 51 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anak yang menyandang cacat fisik dan/atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 52 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 53 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pertanggungjawaban pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pula mendorong masyarakat untuk berperan aktif. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 54 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Keempat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sosial &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 55 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pemerintah wajib menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Penyelenggaraan pemeliharaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh lembaga masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat, sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), dapat mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Dalam hal penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), pengawasannya dilakukan oleh Menteri Sosial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 56 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Pemerintah dalam menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak dapat: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. berpartisipasi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;d. bebas berserikat dan berkumpul; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;e. bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;f. memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Upaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikembangkan dan disesuaikan dengan usia, tingkat kemampuan anak, dan lingkungannya agar tidak menghambat dan mengganggu perkembangan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 57 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dalam hal anak terlantar karena suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya, maka lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, keluarga, atau pejabat yang berwenang dapat mengajukan permohonan ke pengadilan untuk menetapkan anak sebagai anak terlantar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 58 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 sekaligus menetapkan tempat penampungan, pemeliharaan, dan perawatan anak terlantar yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pemerintah atau lembaga yang diberi wewenang wajib menyediakan tempat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bagian Kelima &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perlindungan Khusus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 59 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 60 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 terdiri atas: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. anak yang menjadi pengungsi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. anak korban kerusuhan; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. anak korban bencana alam; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. anak dalam situasi konflik bersenjata. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 61 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi pengungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum humaniter. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 62 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 huruf b, huruf c, dan huruf d, dilaksanakan melalui: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 63 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang dilarang merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer dan/atau lainnya dan membiarkan anak tanpa perlindungan jiwa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 64 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 meliputi anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak pidana, merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan melalui: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. penyediaan sarana dan prasarana khusus; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;d. penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;e. pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;f. pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;g. perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan melalui: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental, maupun sosial; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;d. pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 65 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak dari kelompok minoritas dan terisolasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dilakukan melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk dapat menikmati budayanya sendiri, mengakui dan melaksanakan ajaran agamanya sendiri, dan menggunakan bahasanya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang dilarang menghalang-halangi anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk menikmati budayanya sendiri, mengakui dan melaksanakan ajaran agamanya, dan menggunakan bahasanya sendiri tanpa mengabaikan akses pembangunan masyarakat dan budaya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 66 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Perlindungan khusus bagi anak yang dieksploitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau seksual. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 67 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, dan terlibat dalam produksi dan distribusinya, dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang dilarang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, produksi dan distribusi napza sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 68 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak korban penculikan, penjualan, dan perdagangan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dilakukan melalui upaya pengawasan, perlindungan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, atau perdagangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 69 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 meliputi kekerasan fisik, psikis, dan seksual dilakukan melalui upaya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 70 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak yang menyandang cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dilakukan melalui upaya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;a. perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;b. pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khusus; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;c. memperoleh perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk mencapai integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang dilarang memperlakukan anak dengan mengabaikan pandangan mereka secara diskriminatif, termasuk labelisasi dan penyetaraan dalam pendidikan bagi anak-anak yang menyandang cacat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 71 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Perlindungan khusus bagi anak korban perlakuan salah dan penelantaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dilakukan melalui pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah, dan penelantaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB X &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PERAN MASYARAKAT &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 72 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Masyarakat berhak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, badan usaha, dan media massa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 73 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Peran masyarakat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB XI &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 74 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dalam rangka meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak, dengan undang-undang ini dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang bersifat independen. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 75 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Keanggotaan Komisi Perlindungan Anak Indonesia terdiri dari 1 (satu) orang ketua, 2 (dua) orang wakil ketua, 1 (satu) orang sekretaris, dan 5 (lima) orang anggota. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari unsur pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, dan kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Keanggotaan Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun, dan dapat diangkat kembali 1 (satu) kali masa jabatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelengkapan organisasi, mekanisme kerja, dan pembiayaan ditetapkan dengan Keputusan Presiden. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 76 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Komisi Perlindungan Anak Indonesia bertugas: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. memberikan laporan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden dalam rangka perlindungan anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB XII &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KETENTUAN PIDANA &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 77 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya; atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan, baik fisik, mental, maupun sosial; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 78 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 79 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 80 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 81 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 82 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 83 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang memperdagangkan, menjual, atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 84 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh anak untuk pihak lain dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 85 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap orang yang melakukan jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan pengambilan organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak, atau penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua atau tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 86 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk memilih agama lain bukan atas kemauannya sendiri, padahal diketahui atau patut diduga bahwa anak tersebut belum berakal dan belum bertanggung jawab sesuai dengan agama yang dianutnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 87 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang secara melawan hukum merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 atau penyalahgunaan dalam kegiatan politik atau pelibatan dalam sengketa bersenjata atau pelibatan dalam kerusuhan sosial atau pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan atau pelibatan dalam peperangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 88&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 89 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, produksi atau distribusi narkotika dan/atau psikotropika dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, produksi, atau distribusi alkohol dan zat adiktif lainnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan paling singkat 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan denda paling sedikit Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 90 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77, Pasal 78, Pasal 79, Pasal 80, Pasal 81, Pasal 82, Pasal 83, Pasal 84, Pasal 85, Pasal 86, Pasal 87, Pasal 88, dan Pasal 89 dilakukan oleh korporasi, maka pidana dapat dijatuhkan kepada pengurus dan/atau korporasinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(2) Pidana yang dijatuhkan kepada korporasi hanya pidana denda dengan ketentuan pidana denda yang dijatuhkan ditambah 1/3 (sepertiga) pidana denda masing-masing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB XIII &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KETENTUAN PERALIHAN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 91 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada saat berlakunya undang-undang ini, semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang sudah ada dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAB XIV &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KETENTUAN PENUTUP &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 92 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada saat berlakunya undang-undang ini, paling lama 1 (satu) tahun, Komisi Perlindungan Anak Indonesia sudah terbentuk. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 93 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Disahkan di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;pada tanggal 22 Oktober 2002&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ttd.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;MEGAWATI SOEKARNOPUTRI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;pada tanggal 22 Oktober 2002&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;SEKRETARIS NEGARA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ttd.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;BAMBANG KESOWO&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 109&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Salinan sesuai dengan aslinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;SEKRETARIAT KABINET RI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kepala Biro Peraturan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perundang-undangan II&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ttd&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Edy Sudibyo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PENJELASAN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ATAS &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;NOMOR 23 TAHUN 2002 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;TENTANG &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;PERLINDUNGAN ANAK &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" st
